Jam menara berdentang. 07.45. Cahaya putih. Reset.
Renjana bangun di kosnya dengan satu kata terpatri di benaknya, lebih keras dari teriakan bubur: Proyek Nol. Dan satu kebenaran yang lebih besar: Penjaga bukan pencipta. Penjaga hanya penjaga.
Ia menemui Dharma di kedai, dan kali ini ia memutuskan untuk berbicara terbuka. Penjaga sudah tahu ia menemukan jam itu; tak ada lagi rahasia yang bisa disembunyikan soal itu. Yang penting sekarang adalah berpikir, bersama.
"Aku masuk ke ruang kontrol," kata Renjana. "Ada jam tua di sana. Berhenti di 07.45. Tidak ikut reset. Itu sumbernya, Dharma. Itu jantung loop ini. Dan ada ukiran di dalamnya—'Proyek Nol'."
Dharma terdiam lama. Tangannya bergetar lebih hebat dari biasanya saat ia mengangkat cangkir, dan setengah kopinya tumpah. "Proyek Nol," ulangnya pelan, seolah nama itu membangunkan sesuatu yang terkubur dalam-dalam di tumpukan ribuan loop yang membebani ingatannya. "Aku... pernah mendengar nama itu. Dulu sekali. Sebelum loop. Tapi aku tidak ingat dari mana."
"Penjaga mengaku dia bukan pencipta loop," lanjut Renjana, mencondongkan badan. "Dia bilang dia cuma menjaga jam itu tetap berhenti. Kalau itu benar, berarti ada pihak ketiga. Ada orang yang menghentikan jam itu pertama kali, yang memulai Selasa ini. Dan menurutku, orang itu yang harus kita cari. Karena dialah yang tahu kebenaran Rabu—bukan kamu, bukan Penjaga."
Dharma mengangguk pelan, tapi ada keraguan di wajahnya. "Atau," katanya, "Penjaga berbohong. Mungkin dia memang pencipta, dan dia cuma berpura-pura jadi 'penjaga' supaya kamu mengejar hantu pihak ketiga yang tidak ada. Mengulur waktumu. Membuangkan loop-loopmu mengejar bayangan."
Renjana mempertimbangkannya. Itu masuk akal. Di dunia ini, semua kata bisa jadi jebakan.
"Tapi ada sesuatu," kata Renjana. "Waktu dia bicara soal pencipta, dia gentar. Aku sudah lihat Penjaga marah, mengancam, menyabotase. Tapi belum pernah lihat dia takut. Sampai aku tanya siapa yang menciptakan jam itu. Itu bukan akting, Dharma. Itu ketakutan asli."
Hujan rintik mulai turun di luar, seperti biasa. Dharma menatap ke jendela, ke arah stasiun yang menjulang di seberang jalan, menara jamnya berdiri kelabu di balik kabut.
"Kalau ada pihak ketiga," kata Dharma akhirnya, suaranya berat, "kalau ada yang menciptakan loop ini... maka pertanyaannya bukan cuma siapa. Tapi kenapa. Kenapa seseorang mau menghentikan jam di 07.45. Kenapa seseorang mau memenjarakan dunia di hari yang sama. Apa yang ingin mereka cegah—atau apa yang ingin mereka pertahankan." Ia menoleh pada Renjana, dan untuk pertama kali Renjana melihat sesuatu yang menyerupai harapan—rapuh, tapi nyata—di mata laki-laki tua itu. "Kalau kita temukan jawabannya, mungkin kita temukan cara keluar. Bukan dengan menghancurkan jam. Tapi dengan mengerti kenapa ia berhenti."
Renjana mengangguk. Untuk pertama kali sejak ia masuk loop, ia merasa mereka tidak lagi melawan kabut. Mereka mengejar sesuatu yang punya bentuk: sebuah proyek, sebuah nama, sebuah pencipta. Penjaga bukan akhir dari pertanyaan. Penjaga hanya pintu menuju pertanyaan yang lebih dalam.
"Besok loop," kata Renjana, "aku akan mencari tahu soal Proyek Nol. Pasti ada jejaknya. Dokumen, arsip, sesuatu. Stasiun setua ini pasti menyimpan sejarah."
Dharma tersenyum lemah. Lalu, perlahan, senyumnya memudar. Ia menunduk menatap kopinya, dan ada sesuatu dalam diamnya yang membuat Renjana merasa tidak nyaman—seperti ada beban yang ditahan, kata-kata yang tertelan.
"Dharma?" tanya Renjana. "Kamu nggak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja," kata Dharma cepat. Terlalu cepat.
Tapi tangannya yang bergetar, yang menggenggam cangkir kopi, terlihat lebih erat dari yang seharusnya. Dan matanya tidak bertemu mata Renjana.