Loop ini Renjana memilih duduk diam.
Kedai kopi seberang stasiun masih sama: meja kayu yang lengket, dinding bercat hijau pudar, jam dinding yang—seperti semua jam di hari Selasa ini—menunjuk waktu yang tak pernah benar-benar maju. Dharma sudah di sana lebih dulu, di sudut, punggungnya membungkuk seperti orang yang menanggung sesuatu yang tak kelihatan.
"Kau menangkapku berbohong kemarin," kata Dharma sebelum Renjana sempat bicara. Suaranya parau. "Loop kemarin. Soal apakah aku pernah berhasil mencegah ledakan. Aku bilang tidak pernah."
Renjana tidak menjawab. Ia ingat betul. Loop sebelumnya, Dharma tergagap saat ditanya hal itu—tergagap dengan cara orang yang menyimpan sesuatu, bukan orang yang lupa.
"Aku berbohong," Dharma melanjutkan. Tangannya yang penuh bekas luka melingkari cangkir kopi yang tak ia sentuh. "Aku pernah berhasil. Sekali. Dari ribuan loop, satu kali aku menyingkirkan ransel itu sepenuhnya. Bukan hanya memindahkan—aku membuangnya ke kanal di belakang gudang barang, jauh dari stasiun, sebelum 07.30."
"Dan stasiun tidak meledak."
"Stasiun tidak meledak." Dharma menatapnya, dan untuk pertama kali Renjana melihat sesuatu yang menyerupai ketakutan di mata laki-laki tua-sebelum-waktunya itu. "Jam menara berdentang tujuh kali setengah. Lalu delapan. Aku berdiri di peron, jantungku seperti mau pecah, menunggu cahaya putih yang tak datang. Penumpang naik kereta. Kereta berangkat ke Tanah Abang. Tidak ada yang mati."
Renjana mencondongkan tubuh. "Lalu apa yang terjadi?"
"Waktu maju." Dharma mengucapkannya pelan, hampir berbisik, seolah kata-kata itu sendiri bisa memecahkan sesuatu. "Pukul delapan. Setengah sembilan. Aku menunggu hari berputar ke 06.00 seperti biasa, tapi tidak. Matahari naik lebih tinggi. Bayangan tiang peron bergeser. Untuk pertama kalinya dalam—entah berapa tahun yang kuhabiskan di dalam satu hari—aku melihat siang."
"Kau melihat Rabu," kata Renjana.
"Aku melihat awalnya."
Bang Topan—bukan, ini bukan warung Bang Topan, ini kedai, pikir Renjana, dan ia harus menahan diri untuk tidak tertawa getir betapa setiap detail Selasa ini terpahat di kepalanya—pemilik kedai lewat menuang air. Dharma menunggu sampai ia pergi.
"Penjaga bilang Rabu adalah kiamat," kata Renjana hati-hati. "Perang. Wabah. Kau melihat itu?"
Dharma menggeleng. Lambat. Tegas.
"Itu bagian yang tidak bisa kuceritakan kemarin. Karena kalau aku ceritakan, kau harus memilih siapa yang kau percaya, dan aku belum siap menanggung kalau kau salah memilih." Ia menarik napas yang terdengar seperti gesekan amplas. "Yang kulihat di Rabu bukan dunia terbakar, Renjana. Yang kulihat jauh lebih kecil dari itu. Dan jauh lebih jahat caranya Penjaga menyembunyikannya."
Di luar jendela, peron mulai ramai. Pemuda berjaket kulit bersandar di tiang, menunduk ke ponselnya, persis seperti yang selalu ia lakukan, seperti yang akan selalu ia lakukan sampai cahaya putih menelannya pukul 07.45.
"Ceritakan," kata Renjana. "Sekarang. Sebelum loop reset."
Dharma melirik jam dinding. 07.31. Empat belas menit.
"Tidak cukup waktu untuk menceritakannya dengan benar," katanya. "Kata-kata akan terdengar seperti omong kosong, dan kau akan ragu, dan ledakan akan datang sebelum kau percaya." Ia meletakkan kedua tangannya di meja, telapak ke atas, penuh garis luka yang menumpuk seperti cincin pohon. "Tapi aku bisa menunjukkannya. Loop berikutnya. Kau ikut aku ke gudang barang. Kau bantu aku buang ransel itu—dua orang lebih cepat dari satu. Lalu kita berdiri di peron bersama, dan kau lihat sendiri jam menara melewati 07.45."
"Penjaga akan menghentikan kita."
"Penjaga selalu mencoba." Bibir Dharma menyungging—bukan senyum, lebih seperti luka lama yang membuka. "Itu sebabnya aku hanya berhasil sekali dari ribuan kali. Tapi sekali sudah cukup untuk tahu satu hal yang membuat Penjaga lebih takut daripada semua ancaman 'kiamat' yang ia teriakkan."
"Apa?"
Jam dinding berdetak. 07.33.
"Bahwa kalau Rabu datang," kata Dharma, "tak ada yang mati selain satu orang. Dan orang itu bukan miliaran. Bukan ratusan. Satu." Ia menatap Renjana lurus-lurus. "Penjaga membohongi seluruh dunia, membakar ratusan orang berulang-ulang ribuan kali, untuk menyelamatkan satu nyawa itu. Dan aku tahu itu, karena loop yang aku menangkan—aku melihat siapa yang mati di Rabu."
Renjana merasa dingin merayap dari tengkuk.
"Siapa?"
Tapi Dharma sudah berdiri, menarik tudung jaket abu-abunya, dan di luar jam menara mulai bergerak ke arah angka yang membunuh mereka semua.
"Loop berikutnya," kata Dharma. "Aku tunjukkan. Bertahan, Renjana. Ingat kata 'gudang barang'. Bawa itu menembus reset."
Cahaya putih datang lebih cepat dari yang Renjana harapkan.