"Buburrr! Bubur ayam anget!"
Renjana membuka mata. Plafon retak. 06.00. Dan di kepalanya, dua kata yang berdiri tegak menembus gelombang reset: gudang barang.
Ia bangkit lebih cepat dari biasanya, tubuhnya protes—otot betis nyeri, lingkaran hitam di bawah mata terasa seperti memar. Tiap loop tubuh membayar. Tapi ingatan, ingatan adalah satu-satunya yang ia bawa, dan kali ini ia membawa janji Dharma.
Mereka bertemu di mulut gang dekat gudang barang stasiun pukul 07.10, lebih awal dari biasa. Dharma sudah menyeret sesuatu—papan kayu untuk memanjat pagar belakang. Ia tampak lebih pucat dari loop kemarin, seolah satu putaran saja telah mengikis sesuatu darinya.
"Ransel diletakkan 07.30 di gerbong kedua," kata Dharma sambil bergerak cepat. "Tapi aku tahu jalannya. Laki-laki berjaket abu-abu bertudung—bukan aku, yang asli—datang dari pintu timur 07.27. Kita potong dia sebelum ia naik. Kita ambil ranselnya. Kita buang."
"Kita curi bom dari tangan orang."
"Kita sudah ratusan kali mati, Renjana. Apa yang bisa lebih buruk dari itu?"
Mereka bergerak. Dunia Selasa berputar di sekitar mereka seperti jam yang sudah Renjana hafal sampai ke gigi rodanya: anak SD dengan bola merah (Renjana nyaris berhenti untuk menahannya, lalu sadar tak ada waktu), penjual koran, pemuda berjaket kulit. Pukul 07.26 mereka menghadang laki-laki tinggi-kurus berjaket abu-abu di lorong samping. Dharma mengambil ranselnya dengan gerakan yang sudah ia latih ribuan kali; laki-laki itu—NPC, hanya bidak takdir—tampak bingung sesaat, lalu berjalan pergi seolah tujuannya menguap.
Ransel hitam itu berat di tangan Renjana. Berdenyut, rasanya. Atau mungkin itu cuma jantungnya sendiri.
"Kanal. Cepat."
Mereka berlari ke belakang gudang. Air keruh, bau besi dan lumpur. Dharma mengayun, dan ransel hitam itu melengkung di udara, lalu tenggelam dengan kecipak yang anehnya pelan.
07.39.
Mereka kembali ke peron, berdiri di antara kerumunan yang tak tahu apa-apa. Renjana memandang jam menara. Detik-detik merangkak.
07.44.
07.45.
Tidak ada cahaya putih.
Renjana menahan napas. Jam menara berdentang—tujuh setengah, suara perunggu tua yang biasanya tak pernah sempat ia dengar selesai. Kereta tujuan Tanah Abang berangkat dari jalur tiga, roda menggilas rel, gerbong kedua melaju utuh, tak terbakar. Orang-orang di dalamnya hidup. Tiga ratus orang—seratus delapan puluh—semua, hidup.
"Lihat," bisik Dharma. Tangannya gemetar mencengkeram lengan Renjana. "Lihat jamnya."
07.46.
Untuk pertama kalinya, Renjana melihat menit baru lahir di hari Selasa.
Dan kemudian Rabu mulai datang—bukan sebagai badai, bukan sebagai api. Cahaya pagi bergeser. Bayangan memanjang ke arah yang salah, ke arah yang belum pernah Renjana lihat. Suara stasiun berubah; pengumuman kereta berikutnya, kereta yang seharusnya tak pernah ada, mulai berbunyi dari pengeras suara.
"Sekarang lihat ini," kata Dharma, dan suaranya retak. "Inilah yang Penjaga sembunyikan."
Ia menarik Renjana ke arah sudut peron. Sudut tempat penjual melati selalu duduk. Tapi sang Penjaga tidak ada di sana—di Rabu, ia tidak ada di mana-mana. Dan di tempat itu, di bangku kosong, duduk seorang perempuan muda dengan map dokumen di pangkuannya, perempuan yang Renjana samar-samar kenali dari loop-loop pengamatan terdahulu. Perempuan itu menengadah, kebingungan, seolah baru bangun dari mimpi panjang.
"Dia hidup," kata Dharma. "Di Selasa, dia mati di gerbong kedua. Di Rabu, dia hidup."
"Lalu siapa yang mati?" tanya Renjana. "Kau bilang di Rabu satu orang mati. Kalau bukan dia—"
Dharma membuka mulut.
Dan dunia berkedut.
Bukan reset—belum. Tapi sesuatu menariknya. Bayangan-bayangan tersentak mundur. Suara pengeras suara melengking lalu terbalik, seperti pita kaset diputar mundur. Renjana merasa perutnya terjungkal. Di kejauhan, di sudut peron yang tadi kosong, sesuatu menghitam—melati, segenggam melati yang muncul entah dari mana, layu dan menghitam dalam hitungan detik.
"Dia datang," desis Dharma. "Penjaga menariknya kembali. Dia tidak bisa membiarkan Rabu hidup. Renjana—orang yang mati di Rabu, orang yang Penjaga lindungi dengan membunuh ribuan—"
Cahaya putih, akhirnya, menelan kata terakhir Dharma sebelum ia sempat mengucapkannya.
Reset.