Pintu ruang kontrol selalu terkunci. Renjana sudah tahu itu dari loop-loop terdahulu saat ia melacak sumber sinyal SMS. Tapi sekarang ia tahu apa yang ada di baliknya, dan itu mengubah segalanya.
Ia butuh kunci, atau cara masuk. Sudarmo, petugas keamanan berkumis tebal, memegang gantungan kunci di pinggangnya. Renjana sudah berinteraksi dengan Sudarmo cukup sering—biasanya sebagai orang gila yang berteriak soal bom—untuk tahu betapa keras orang itu. Tapi keras tidak sama dengan tak bisa dibaca. Loop demi loop, Renjana mempelajarinya: jam 07.05 Sudarmo selalu meninggalkan posnya untuk merokok di balik gudang barang, menggantung jaket berisi kuncinya di sandaran kursi.
Maka di satu loop, sementara Sudarmo merokok, Renjana mengambil kunci ruang kontrol, dan masuk.
Di dalam, panel-panel tua berdebu, layar monitor yang menampilkan peron dalam warna kelabu. Dan di sudut, sebuah pintu besi sempit dengan tulisan yang sudah pudar: RUANG MESIN — DILARANG MASUK. Pintu menuju bawah.
Tangga turun ke kegelapan yang dingin. Tiap anak tangga, suara stasiun di atasnya meredup, seolah Renjana berjalan menjauh dari dunia. Dan di kakinya, di Ruang Mesin Lama, ia menemukan apa yang ia cari.
Sebuah mesin. Tapi bukan mesin seperti bayangannya—bukan kabel dan layar dan tombol. Di tengah ruang berdiri sebuah jam. Jam tua raksasa, mekanis, setinggi manusia, dengan roda gigi perunggu yang saling bertaut dan bandul yang menggantung kaku. Jarumnya berhenti tepat di 07.45.
Dan jam itu—Renjana merasakannya bahkan sebelum ia menyentuhnya—tidak ikut hidup Selasa ini. Udara di sekelilingnya terasa kental, tak bergerak, seolah waktu di sini bukan mengalir melainkan menggenang. Debu di lantai tak terganggu sejak entah kapan. Cahaya senter dari ponselnya terasa melambat, kuning, seperti madu.
Di dinding, papan-papan catatan masih tergantung, dan di salah satunya, terpaku jelas, sebuah lembar yang utuh—tidak hangus, karena api 07.45 di atas tak pernah sampai ke sini:
PROYEK PUKUL NOL. Tujuan: menciptakan medan waktu stabil untuk membekukan satu momen, agar momen kritis dapat "diulang" dan diperbaiki. Insiden 07.45: medan menjadi tidak terkendali; alih-alih membekukan satu momen, ia mengikat seluruh hari ke dalam pengulangan tertutup. Tiga personel berada dalam medan saat insiden dan kini "terjebak di dalam pukul nol".
Renjana membaca berulang-ulang, tangannya gemetar.
Tiga personel.
Tiga orang yang terjebak. Sama seperti dirinya, Dharma, dan Penjaga—tiga yang membawa ingatan menembus reset. Tapi Renjana baru terjebak belakangan, ia tahu itu; ia bukan personel proyek. Lalu siapa tiga yang asli?
Ia teringat lembar nama yang selalu hangus di map Maya. Tim teknis. Salah satunya namanya selalu terbakar.
Dan ia teringat Dharma. Dharma yang masuk loop di usia 32. Dharma yang penuh bekas luka. Dharma yang tahu lebih banyak tentang loop ini daripada siapa pun, yang berbicara tentang artefak dan jangkar seolah ia pernah membangunnya sendiri.
Mesin ini. Jam ini. Dharma adalah salah satu dari tiga personel itu.
Renjana hampir tak menyadari langkah di belakangnya sampai suara itu terdengar—lembut, tua, dan sedingin udara di ruang ini.
"Kau tidak seharusnya turun ke sini."
Ia berputar. Di anak tangga terakhir berdiri sang Penjaga. Bukan lagi bersembunyi di balik topeng penjual melati ramah. Keranjangnya kosong; melatinya entah ke mana. Wajah keriput itu, dalam cahaya senter yang melambat, tampak lebih tua dari mana pun yang pernah Renjana lihat—dan lebih takut.
"Ini bukan tempatmu, Renjana," katanya. "Mesin ini menahan hal-hal yang lebih buruk dari yang bisa kau bayangkan."
"Mesin ini menahan satu nyawa," kata Renjana, dan suaranya tak gemetar lagi. "Nyawa Maya. Itu saja, kan? Tidak ada kiamat. Hanya seorang perempuan yang kau tolak biarkan mati."
Wajah Penjaga retak—tidak secara harfiah, tapi Renjana melihatnya, melihat topeng terakhir itu jatuh.
Lalu jam tua di belakang Renjana berdentang sekali, dan untuk pertama kalinya, ia berdentang di 07.45 bukan di stasiun atas, tapi di sini, di ruang bawah, tepat di telinganya.