"Kau pikir kau memahaminya," kata Penjaga, melangkah turun dari tangga terakhir. "Kau membaca selembar kertas dan kau pikir kau tahu segalanya."
"Aku tahu cukup." Renjana mundur, tapi ruang bawah itu sempit, dan jam tua raksasa menghalangi jalannya. "Aku tahu kau bukan pencipta loop ini. Kau cuma menjaganya. Kau bukan dewa, kau penjaga mesin yang rusak. Dan aku tahu kenapa." Ia menunjuk ke atas, ke arah peron yang tak terlihat. "Maya. Kau menjaga dia tetap di Selasa karena di Rabu, dia mati. Tidak ada perang. Tidak ada wabah. Cuma satu kematian yang tak bisa kau terima."
Untuk sesaat, Penjaga tidak menjawab. Senter ponsel Renjana memantul di wajahnya, dan dalam keheningan ruang yang waktunya menggenang, ia melihat sesuatu yang manusiawi melintas—luka, kerinduan, sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam.
Lalu hilang.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang kehilangan," kata Penjaga, dan suaranya berubah—lebih rendah, lebih tua, dan ada getar di udara saat ia bicara, getar yang membuat roda gigi perunggu di jam tua bergetar bersamanya. "Selama ini aku bersabar padamu, Renjana. Aku menjelaskan. Aku menunjukkan. Aku membiarkanmu mengulang dan mengulang dengan harapan kau akhirnya berhenti." Ia mengangkat satu tangan keriput. "Tapi kau tidak akan berhenti, kan?"
"Tidak."
"Maka aku tidak punya pilihan."
Penjaga menyentuh jam tua.
Dunia berubah. Bukan reset—belum—tapi sesuatu yang lebih buruk. Udara yang tadinya menggenang kini bergerak, dan bergerak salah. Renjana merasa waktu di sekelilingnya terpelintir; senter di tangannya berkedip-kedip antara menyala dan padam seolah detik-detik bertabrakan. Roda gigi jam tua mulai berputar—mundur—dan setiap putaran terasa seperti tarikan di dalam dada Renjana, seolah ada yang mencabut sesuatu dari tulangnya.
Ia jatuh berlutut. Rasa sakit datang dari mana-mana sekaligus: ototnya yang sudah lelah dari ribuan loop kini menjerit serempak, lingkaran hitam di matanya seperti membakar, dan ia merasa—ia bisa merasakannya—tubuhnya menua. Lebih cepat. Bertahun-tahun terkompres dalam detik. Rambutnya, ia melihat seberkasnya jatuh di lantai berdebu, sudah memutih.
"Mesin ini bisa memberi waktu," kata Penjaga, berdiri di atasnya, suaranya datang dari segala arah. "Dan mesin ini bisa mengambilnya. Selama ini loop mengikis tubuhmu pelan-pelan, satu putaran satu harga kecil. Tapi di sini, di jantung pukul nol, aku bisa membuatmu membayar semuanya sekaligus."
Renjana berusaha berdiri. Lututnya gemetar. Tangannya, saat ia melihatnya, sudah berkerut, urat-urat menonjol seperti tangan orang tua. Dua puluh delapan tahun usianya. Tapi tubuh ini—
"Kenapa," ia memaksakan kata, "kenapa kau... tidak biarkan saja... Maya hidup di Rabu? Kalau itu cuma satu kematian. Kalau itu bukan kiamat. Kenapa ribuan orang... harus terbakar... untuk satu—"
"Karena satu itu adalah segalanya," desis Penjaga, dan untuk pertama kali suaranya pecah. "Kau ingin tahu kebenaran? Inilah kebenarannya. Aku tidak peduli pada dunia. Aku tidak peduli pada Rabu. Aku tidak peduli pada tiga ratus orang di kereta itu, atau seratus delapan puluh, atau berapa pun. Mereka terlahir kembali setiap pagi. Mereka tidak benar-benar mati." Tangannya mencengkeram lebih erat ke jam tua, dan rasa sakit Renjana meningkat sampai pandangannya menggelap di tepinya. "Tapi Maya—di Rabu, Maya mati untuk selamanya. Tidak ada pagi berikutnya untuknya. Tidak ada reset. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak sekarang. Tidak pernah."
Renjana ambruk ke lantai. Debu masuk ke matanya. Jam tua berputar dan berputar, dan ia merasa hidupnya tertarik keluar bersama setiap detak.
"Siapa," ia berbisik, hampir tak terdengar, "siapa Maya... bagimu?"
Penjaga menunduk padanya. Dan di balik wajah tua itu, di balik kuasa yang menggerus tulang Renjana jadi debu, ada satu kata yang nyaris tak ia ucapkan—satu kata yang akan menjawab segalanya.
Tapi jam tua berdentang. 07.45. Dan kali ini Renjana tidak menunggu ledakan di atas. Penjaga telah membunuhnya di sini, di bawah, sebelum waktunya.
Kegelapan menelannya.