Loop berikutnya, Dharma tidak datang ke kedai.
Renjana menunggu sampai 07.20, gelisah, tubuh tuanya menggigil di kursi kayu yang lengket. Dharma selalu datang. Dalam semua loop, dalam segala kondisi, Dharma selalu ada di stasiun—itu adalah satu konstanta yang bisa Renjana andalkan di hari yang berputar. Tapi kursi sudut kosong. Cangkir tak tersentuh tak ada.
Ia mencarinya. Pintu timur—tidak ada. Peron jalur tiga—tidak ada. Gerbong kedua, tempat Dharma selalu memindahkan ransel—dan inilah yang membuat dada Renjana mengencang: ransel hitam itu masih di tempat aslinya, di bawah kursi ujung, tak tersentuh. Dharma tidak datang untuk memindahkannya. Yang berarti, loop ini, korban tidak akan turun dari tiga ratus ke seratus delapan puluh. Loop ini, tiga ratus orang akan mati.
Renjana menemukannya di lorong samping dekat gudang barang. Dharma tergeletak di lantai, punggung bersandar dinding bata, tudung jaket abu-abu jatuh ke belakang, memperlihatkan wajah yang—Renjana hampir tak mengenalinya. Dalam satu loop, Dharma menua sebagaimana Renjana menua, tapi lebih jauh, jauh lebih jauh, karena Dharma sudah memulai dari ribuan loop lebih banyak. Rambutnya putih seluruhnya. Kulitnya seperti kertas. Napasnya keluar dalam tarikan dangkal yang panjang.
"Dharma." Renjana berlutut, lututnya sendiri menjerit. "Dharma, bangun. Bangun, kita harus—"
"Aku sudah selesai mengulang," bisik Dharma. Matanya setengah terbuka, menatap langit-langit lorong yang tak terlihat. "Aku merasakannya datang. Tubuh ini... tidak punya loop lagi di dalamnya. Kalau aku mati sekarang, aku tidak yakin aku akan bangun lagi di jam enam. Aku rasa... aku rasa aku akhirnya akan tetap mati."
"Tidak." Renjana mencengkeram bahu rapuh itu. "Tidak, reset selalu mengembalikan kita. Itu aturannya. Kau bangun jam enam. Kita semua bangun jam enam."
"Aturan untukmu," kata Dharma, dan menyungging—senyum tipis, sangat lelah. "Tapi tubuh ada batasnya, Renjana. Bahkan di dalam pukul nol. Penjaga menua tapi dia terikat ke mesin, mesin menahannya. Kau dan aku... kita cuma terjebak di medan. Dan medan tidak menahan kita selamanya. Ia cuma mengulang kita sampai tak ada lagi yang tersisa untuk diulang."
Di atas mereka, samar, jam menara mulai bergerak ke arah pukul mati. Tanpa Dharma memindahkan ransel, tiga ratus orang akan terbakar dalam beberapa menit. Renjana terjebak antara dua kehancuran: sekutu satu-satunya yang sekarat di pelukannya, dan tiga ratus nyawa di kereta yang tak akan terselamatkan.
"Personel ketiga," kata Renjana, terdesak. "Sebelum reset memutus kau—siapa? Aku, kau, Penjaga—itu cuma tiga yang membawa ingatan. Tapi proyek punya tiga personel asli, dan aku bukan salah satunya. Aku masuk loop belakangan. Jadi kalau kau personel pertama, dan Penjaga kedua—siapa yang ketiga?"
Dharma menatapnya. Untuk sesaat, dalam kabut sekarat dan ribuan tahun yang terkikis, sesuatu jernih melintas di matanya. Sebuah ingatan yang bertahan, satu-satunya, yang ia simpan paling dalam.
"Penjaga tidak membangun mesin itu untuk menyelamatkan dunia," bisik Dharma. "Aku tahu itu sekarang. Aku membantunya membangunnya. Kami bertiga. Dan personel ketiga—orang yang kami coba selamatkan dengan mesin itu sejak awal, alasan seluruh proyek ada—"
Napasnya tersangkut.
"Maya," kata Dharma. "Personel ketiga adalah Maya. Mesin itu dibangun untuk menyelamatkannya. Dan Penjaga—Penjaga adalah—"
Cahaya putih membanjir lorong. Bukan dari ransel di kereta—terlalu cepat, terlalu dekat. Renjana melihatnya datang dari ujung lorong, dari sosok tua yang berdiri di sana dengan keranjang melati yang menghitam di tangannya, mata setajam pisau di balik topeng renta.
Penjaga. Memotong loop lagi. Membunuh mereka sebelum kata terakhir terucap.
"Tidur, Renjana," kata Penjaga lembut, seperti seorang ibu menidurkan anak. "Tidur, dan bangun, dan lupakan semua ini. Untukmu juga ini lebih baik."
Dharma tak bergerak lagi di pelukannya.
Dan Renjana—tua, sendirian, sekutunya runtuh, kebenaran terpotong satu kata sebelum lengkap—merasa untuk pertama kali sejak Selasa pertama bahwa mungkin, mungkin saja, ia tak akan pernah menang.
Cahaya menelannya.
Tapi jauh di dalam, di tempat yang tak bisa dijangkau reset, satu nama berdenyut keras kepala, menolak padam:
Maya.
Renjana akan bangun lagi. Ia selalu bangun lagi.
Dan kali berikutnya, ia tak akan menunggu Penjaga menyerang lebih dulu.