Renjana terbangun, dan untuk pertama kalinya sejak entah berapa Selasa, ia tidak langsung bergerak.
Penjual bubur lewat. "Buburrr! Bubur ayam anget!" Suara itu sama seperti selalu, menusuk dari gang, dan biasanya Renjana akan menariknya seperti tali, menggunakannya untuk bangun, untuk lari, untuk mencegah. Tapi kali ini ia membiarkannya lewat. Ia berbaring menatap plafon retak, dan di kepalanya, satu loop yang baru saja berakhir masih menggema seperti dentang besi.
Loop sebelumnya adalah yang terburuk. Dharma kolaps di tengah peron, tubuhnya menyerah—lutut menghantam lantai, tangan gemetar tak bisa mengangkat ransel, mulutnya membuka tanpa suara. Renjana sendirian menahan Penjaga, dan ia kalah. Ledakan datang seperti biasa, dan untuk pertama kalinya ia tidak takut. Ia hanya lelah. Lelah yang menembus tulang, lelah yang tak bisa direset oleh pukul nol.
Tapi pagi ini ada yang berbeda. Bukan di luar. Di dalam.
Ia mengangkat tangannya ke depan wajah. Rambut di punggung tangannya, garis-garis halus di buku jari—ia mengenalinya, setiap milimeternya, bukan karena ia melihatnya tadi malam, tapi karena ia telah melihatnya seribu kali. Dan untuk pertama kalinya, ingatan itu tidak terasa seperti beban. Terasa seperti otot.
Renjana duduk. Ia menutup mata dan memanggil. Bukan satu loop. Semuanya. Bola merah anak SD. Wajah Sudarmo yang ragu sesaat di loop ketiga. Ransel hitam di bawah kursi ujung. Bibir Dharma membentuk kata "Lagi?". Melati yang menghitam di tangan Penjaga. Jam tua yang berhenti di 07.45 di ruang kontrol terkunci. Ratusan, mungkin ribuan Selasa, semuanya berlapis seperti kaca tumpuk—dan ia bisa melihat menembusnya sekaligus.
Ia membuka mata. Napasnya tertahan.
"Aku ingat," bisiknya ke kamar kosong. "Aku ingat semuanya."
Dulu ingatannya hanya bertahan menembus reset. Sekarang lebih dari itu. Ia bisa menumpuknya. Ia bisa merantai satu loop ke loop berikutnya secara sengaja—menaruh satu keputusan di Selasa ini supaya ia tahu persis apa yang harus ia lakukan di Selasa berikutnya, dan berikutnya. Loop tak lagi menghapusnya. Loop justru menebalkannya. Setiap pukul nol yang membakar tubuhnya juga mengasah otaknya.
Dharma pernah bilang tubuh membayar. Renjana baru paham sekarang: tubuh membayar agar pikiran tumbuh.
Ia berdiri di depan cermin retak. Wajahnya lebih tua dari usia dua puluh delapan—lingkaran hitam, beberapa helai putih, pipi yang turun. Tapi matanya tidak lelah lagi. Matanya tajam.
Selama ini ia bermain bertahan. Lari ke stasiun, berteriak peringatan, memindahkan ransel, mengejar Dharma, menghindari Penjaga. Selalu bereaksi. Selalu kalah dua menit sebelum 07.45. Tapi orang yang ingat segalanya tidak perlu bereaksi. Ia bisa merencanakan.
"Aku berhenti lari," kata Renjana pelan, dan kata-kata itu terasa asing di mulutnya, seperti bahasa yang baru ia pelajari. "Aku yang akan memburu."
Ia mengambil kemeja biru pudar yang sama. Tapi kali ini ia tidak terburu-buru. Ia tahu persis pukul berapa kereta tujuan Tanah Abang masuk jalur tiga. Ia tahu persis di mana Penjaga akan duduk. Ia tahu di gerbong kedua, kursi keempat dari belakang, ada perempuan muda membawa map dokumen yang—entah kenapa—selalu disentuh Penjaga setiap loop.
Dan ia tahu satu tempat yang belum pernah ia bongkar sampai habis: ruang kontrol terkunci, jam yang berhenti, dokumen yang selalu hangus sebelum sempat ia baca.
"Pukul Nol," katanya. Itu nama yang ia temukan di sobekan dokumen Maya, beberapa loop lalu, sebelum kertasnya terbakar di tangannya. Sebuah proyek lama di stasiun ini. Eksperimen waktu yang gagal. Sumber dari semua ini.
Di warung, Bang Topan menyodorkan kopi. "Yang biasa, Ren."
Renjana menerimanya dan menatap pria itu lama. Gigi ompong di sisi kiri. Senyum yang tak tahu apa-apa. Wajah yang telah ia lihat hancur dalam cahaya putih ribuan kali, dan yang masih saja menyodorkan kopi setiap pagi seolah dunia baik-baik saja.
"Bang," kata Renjana. "Hari ini aku nggak lari."
"Lari dari apa?"
"Dari yang harus aku selesaikan." Ia meneguk kopi, panas dan pahit dan persis seperti selalu, dan untuk pertama kalinya ia menikmatinya. "Makasih, Bang. Buat semua kopi yang Abang nggak ingat udah Abang kasih ke aku."
Bang Topan mengerutkan kening, tertawa kecil. "Kamu makin aneh aja, Ren."
Renjana tersenyum. Ia meletakkan gelas, menatap jam dinding warung—07.05—lalu melangkah ke jalanan basah. Hujan rintik. Menara jam stasiun berdiri di kejauhan, jarum-jarumnya bergerak menuju pukul yang sama.
Tapi hari ini, Renjana tidak berjalan ke stasiun untuk mencegah ledakan. Ia berjalan untuk membongkar mesin yang membuat ledakan itu mungkin.
Di ujung gang, sosok berkebaya lusuh muncul dari balik tembok. Keranjang melati. Rambut putih disanggul. Penjaga menatapnya, dan untuk sesaat, di mata tua itu, Renjana menangkap sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Bukan ancaman.
Kekhawatiran.
"Kamu berubah," kata Penjaga pelan.
"Iya." Renjana tidak berhenti melangkah. Ia berjalan lurus melewatinya, bahunya hampir menyentuh bahu perempuan tua itu. "Aku akhirnya inget cukup banyak buat tahu satu hal."
"Apa?"
Renjana berhenti, sejajar dengannya, tanpa menoleh.
"Kamu takut sama Rabu. Tapi bukan karena dunia kiamat." Ia menarik napas. "Karena di Rabu, aku akhirnya tahu siapa kamu sebenarnya."
Melati di keranjang itu bergetar. Satu kelopak gugur, layu sebelum menyentuh tanah.
Renjana melangkah maju, menuju stasiun, menuju jam yang berhenti, menuju kebenaran yang sudah ribuan Selasa menunggunya. Dan kali ini, ia tidak akan lupa.