Renjana menemukannya di kursi keempat dari belakang, gerbong kedua, kereta tujuan Tanah Abang di jalur tiga. Pukul 07.31.
Ia sudah melihat perempuan ini puluhan loop. Selalu di kursi yang sama. Map cokelat dipangku erat, jari-jari mencengkeram seperti takut isinya kabur. Rambut diikat asal, kacamata sedikit melorot, kemeja kerja yang lengannya tergulung satu lipatan. Wajah yang lelah tapi keras kepala. Ia tak pernah menatapnya sebagai manusia. Hanya sebagai variabel. Si Pemicu. Sekarang Renjana duduk di kursi seberangnya dan menatapnya seperti melihatnya pertama kali.
"Permisi," kata Renjana.
Perempuan itu mendongak, waspada. "Ya?"
"Map yang kamu bawa." Renjana menjaga suaranya tenang, meski jantungnya berdebar. "Itu soal stasiun ini, kan. Soal proyek lama. Pukul Nol."
Mata perempuan itu melebar sesaat—kaget, lalu curiga. "Siapa kamu? Kamu wartawan juga?"
"Bukan." Renjana mencondongkan tubuh. Waktu sedikit. "Kamu siapa? Namamu siapa?"
Perempuan itu ragu, lalu—mungkin karena lelah, mungkin karena di gerbong yang berdesakan ini hanya laki-laki ini yang bertanya dengan serius—ia menjawab. "Maya. Aku peneliti. Aku ngumpulin dokumen soal kecelakaan di stasiun ini tahun lalu. Yang katanya 'kecelakaan alat'. Tapi nggak ada yang mau bicara. Arsipnya hilang, saksinya pindah, datanya disensor." Ia menepuk mapnya. "Aku akhirnya nemu ini. Hari ini aku mau bawa ke redaksi."
Maya. Renjana mengulang nama itu dalam hati. Perempuan yang selama ini ia kira pemicu kiamat. Yang Penjaga sentuh setiap loop. Yang dokumennya selalu hangus sebelum sempat dibaca.
"Boleh aku lihat?" tanya Renjana.
"Nggak." Maya memeluk mapnya lebih erat. "Maaf. Aku nggak kenal kamu."
Renjana mengangguk. Wajar. Ia mencoba cara lain—cara yang hanya bisa dilakukan orang yang sudah hidup di Selasa ini ribuan kali. "Map itu ada foto. Halaman ketiga. Kelompok orang di depan ruang kontrol. Salah satunya perempuan tua berkebaya. Mata tajam. Dan ada catatan tangan: 'Kami tidak pernah berniat menciptakan lingkaran.'"
Maya membeku. Wajahnya pucat. "Bagaimana... kamu tahu?"
"Karena aku udah baca." Renjana menahan napas. "Bukan dari map kamu. Dari arsip aslinya, di ruang kontrol stasiun ini. Tadi pagi."
"Ruang kontrol terkunci. Aku coba masuk berhari-hari—"
"Aku tahu cara masuknya." Renjana menatap matanya. "Maya, dengar. Aku tahu ini kedengaran gila. Kamu nggak akan percaya, dan nggak ada cukup waktu buat aku buktikan hari ini. Tapi kamu dalam bahaya. Kereta ini, pukul 07.45, akan meledak."
Maya menarik diri, tangannya bergerak ke arah pintu. "Oke. Kamu gila. Aku turun—"
"Tunggu." Renjana tidak menyentuhnya, hanya mengangkat tangan, menahan. "Aku nggak akan macam-macam. Aku cuma mau kamu tahu satu hal sebelum—" Ia menelan ludah. "Selama ini aku kira kamu yang jahat. Aku kira kamu yang harus mati biar dunia selamat. Tapi aku salah. Bukan kamu yang mengancam dunia. Kamu yang dilindungi. Seluruh ini—aku nggak bisa jelaskan sekarang—dibikin buat menyelamatkan kamu. Dari kematian. Dari kereta ini."
Maya berhenti. Sesuatu di kalimat itu menusuknya, meski ia tak tahu kenapa. "Menyelamatkan aku? Aku bahkan nggak kenal kamu. Aku nggak kenal siapa pun di sini."
"Aku tahu." Renjana merasakan matanya panas. Ironinya menghantamnya: ia menghabiskan ribuan Selasa membenci perempuan ini, dan perempuan ini bahkan tak pernah ingat satu pun pertemuan mereka. "Perempuan tua di foto itu. Yang jualan melati di sudut stasiun. Kamu pernah lihat dia?"
Maya mengernyit, ragu. "Penjual melati? Iya. Tiap hari dia di sudut sana. Dia... pernah pegang tanganku. Pagi ini. Bilang, 'Hati-hati, Nak. Naik kereta itu, ya. Jangan turun di tengah jalan.'" Maya bergidik. "Aku nggak tahu kenapa, tapi rasanya merinding."
Renjana menutup mata sesaat. Itu dia. Bukti terakhir. Penjaga tidak menyentuh Maya untuk membunuhnya. Penjaga menyentuh Maya untuk memastikannya tetap di kereta—di tempat ledakan—agar loop punya alasan untuk berputar lagi. Untuk menahannya di Selasa, selamanya, supaya ia tak pernah harus melepasnya ke Rabu, di mana sesuatu—Renjana belum tahu apa—membuat Penjaga kehilangan segalanya.
"Maya," kata Renjana pelan. "Penjual melati itu yang menahanmu di sini. Dia kira kalau dia melepasmu, kamu mati. Jadi dia memilih nggak pernah melepasmu sama sekali."
Maya menatapnya, bingung, takut, dan di balik itu—samar—percikan pengenalan yang tak ia mengerti, seolah jauh di bawah sadar, ada bagian dirinya yang sudah pernah mendengar kalimat ini. Mungkin di loop lain. Mungkin di ribuan Selasa yang telah dihapus dari kepalanya.
Jam menara di luar berdentang. 07.40.
"Aku harus pergi," kata Maya, bangkit. "Aku nggak ngerti apa-apa yang kamu omongin."
"Lima menit lagi," kata Renjana, dan suaranya pecah. "Lima menit lagi kamu akan ngerti. Tapi kamu nggak akan inget. Dan aku akan inget. Aku selalu yang inget."
Maya berhenti di lorong gerbong, menatapnya dengan ekspresi yang Renjana tak bisa baca.
Lalu ledakan datang. Cahaya putih. Panas. Gemuruh.
Dan suara penjual bubur lagi.