Renjana terbangun dengan satu nama di kepalanya, dan kali ini ia tidak ke stasiun. Ia ke sudut tempat Penjaga selalu duduk.
Ia menunggu di kedai kopi seberang, dari pukul 06.40, mengawasi. Tepat 06.55, perempuan tua itu muncul dari arah jalan kecil—kebaya lusuh, keranjang melati, langkah yang lambat tapi pasti. Ia menata dagangannya di sudut yang sama, di bawah jendela tinggi melengkung, di tempat yang tak pernah jadi pusat ledakan, di tempat yang aman setiap loop. Renjana memperhatikan tangannya. Ia memperhatikan ke mana matanya melihat. Dan setiap kali kereta tujuan Tanah Abang masuk jalur tiga, mata tua itu selalu mencari satu wajah di antara kerumunan.
Maya.
Renjana menyeberang dan duduk di trotoar di samping keranjang melati. Penjaga tidak terkejut.
"Aku tahu kamu akan datang," kata perempuan tua itu. "Kamu sudah berubah. Aku merasakannya."
"Aku baca proyek Pukul Nol," kata Renjana langsung. "Aku lihat foto kamu di sana. Kamu bukan hantu yang muncul belakangan. Kamu yang bikin loop ini."
Penjaga diam. Tangannya berhenti merapikan melati.
"Dan Maya," lanjut Renjana, suaranya rendah, menahan getar. "Maya bukan pemicu kiamat. Maya orang yang kamu mau selamatkan. Semua ini—ribuan Selasa, ratusan ribu orang mati berulang—semuanya buat dia. Buat satu orang." Ia menoleh menatap wajah tua itu. "Maya siapa buat kamu?"
Untuk waktu yang lama, Penjaga tidak menjawab. Kereta lewat. Anak SD menendang bola merah di kejauhan. Penjual bubur sudah lama berlalu. Dunia berputar di rel yang sama, tak tahu apa-apa.
"Anakku," kata Penjaga akhirnya. Suaranya berbeda—bukan dingin seperti besi, bukan ramah palsu. Suara perempuan tua yang lelah. "Maya anakku."
Renjana menahan napas.
"Aku salah satu insinyur proyek itu," lanjutnya, matanya menatap jauh, ke peron, ke kerumunan. "Pukul Nol bukan buatku menahan dunia. Itu eksperimen menahan waktu—memberi kesempatan kedua, kata mereka. Kami pikir kami bisa menyelamatkan nyawa. Ambulans yang terlambat, kebakaran yang seharusnya bisa dicegah, kematian yang seharusnya bisa diundur. Itu mimpinya." Ia menelan ludah. "Lalu hari Selasa itu datang. Ledakan asli. Bukan loop. Yang pertama. Yang nyata."
"Maya di kereta itu," kata Renjana pelan.
"Maya di kereta itu." Penjaga menutup mata. "Dia tidak tahu aku ada di stasiun. Kami sudah lama tidak bicara—pertengkaran bodoh, hal yang kau pikir punya waktu untuk diperbaiki. Aku melihatnya naik gerbong kedua. Aku berteriak namanya. Dia tidak dengar. Lalu 07.45." Suara perempuan tua itu pecah. "Cahaya putih. Dan dia tidak ada lagi."
Melati di keranjang itu bergetar, satu kelopak gugur.
"Aku punya mesin," bisik Penjaga. "Mesin yang menahan waktu. Setengah jadi, gagal, berbahaya—tapi ada di ruang kontrol, beberapa langkah dariku. Aku berlari ke sana saat asap masih mengepul. Aku nyalakan. Aku suruh dia menahan momen itu, mengembalikan aku ke pagi, memberi aku kesempatan menyelamatkan anakku." Air mata mengalir di pipi keriput itu. "Mesin itu mendengarku. Tapi mesin tidak mengerti belas kasihan. Aku bilang 'tahan momen ini'. Aku tidak bilang sampai kapan. Jadi ia menahannya. Selamanya."
Renjana merasa dadanya sesak. "Dan setiap loop, kamu coba selamatkan Maya. Tapi gagal."
"Setiap kali aku menyingkirkannya dari kereta, mesin mereset. Karena bagi mesin, selama Maya tidak mati di 07.45, momen yang kuminta belum 'selesai'. Aku terjebak di paradoks buatanku sendiri." Penjaga membuka mata, dan di dalamnya ada keputusasaan ribuan tahun. "Lalu aku menemukan satu cara membuat loop berhenti gelisah. Bukan menyelamatkan Maya. Membiarkannya mati di 07.45—setiap loop—lalu mereset. Selama dia mati pada waktu yang sama, di tempat yang sama, mesin tenang. Dan selama loop berputar, dia tidak benar-benar hilang. Dia di sini. Setiap pagi. Hidup lagi."
Renjana menatapnya dengan ngeri yang dingin. "Jadi kamu... membiarkan dia mati. Setiap hari. Ribuan kali. Supaya dia nggak pernah benar-benar pergi."
"Aku tidak bisa kehilangan dia," bisik Penjaga. "Kau tidak akan mengerti sampai kau punya seseorang yang kau lebih pilih dunia hancur daripada kehilangan."
"Tapi Rabu—"
"Di Rabu, dia mati permanen." Suara Penjaga menjadi keras lagi, ketakutan menyusup. "Loop pecah, waktu maju, dan ledakan yang asli—yang sudah kuundur ribuan kali—akhirnya berlaku. Maya mati, dan kali ini tidak ada pagi berikutnya. Itu Rabu-ku, Nak. Bukan kiamat dunia. Kiamat-ku."
Renjana berdiri, kakinya gemetar. Semua kepingan jatuh ke tempatnya. "Kamu bohong sama aku. Sama Dharma. Sama semua orang. 'Kiamat Rabu', 'perang', 'wabah'—semua karangan. Biar kami takut. Biar kami nggak pernah berani melepas loop ini."
Penjaga tidak menyangkal. Ia hanya menatap melati di tangannya, layu menghitam satu per satu.
"Kalau aku bilang yang sebenarnya," katanya lirih, "kau akan memilih dunia daripada anakku. Dan aku tidak bisa membiarkan itu."
Jam menara berdentang. Renjana melangkah mundur, menatap perempuan tua yang menahan seluruh dunia sebagai sandera demi satu nyawa yang ia sayangi.
"Dharma harus dengar ini," katanya.