Renjana menemukan Dharma di kedai kopi seberang stasiun, loop berikutnya, pukul 07.10. Pria itu duduk di pojok, tangannya gemetar di sekitar cangkir yang sudah dingin. Penuaan loop menggerogotinya lebih cepat sekarang—wajahnya menua belasan tahun sejak pertemuan pertama mereka, rambutnya hampir seluruhnya putih, dan tangan kanannya tak lagi diam.
"Aku tahu kebenarannya," kata Renjana, duduk di seberangnya. Tak ada basa-basi. Waktu terlalu mahal. "Penjaga. Maya. Loop. Semuanya."
Dharma mengangkat wajahnya, mata kelabunya berkilat. "Kamu masuk ruang kontrol."
"Kamu tahu soal ruang kontrol?" Renjana mengerutkan kening. "Kamu nggak pernah cerita."
Dharma tersenyum getir. "Banyak yang aku nggak ceritakan, Renjana. Ada waktunya." Ia menggeser cangkir. "Ceritakan yang kamu tahu. Aku mau lihat seberapa jauh kamu sampai."
Renjana menceritakan semuanya—dokumen, foto, pengakuan Penjaga. Maya anaknya. Ledakan asli yang nyata. Mesin yang menahan momen selamanya. Kiamat Rabu yang ternyata hanya kiamat satu orang: Penjaga, yang kehilangan anaknya.
Dharma mendengarkan tanpa memotong. Saat Renjana selesai, pria tua itu menutup matanya dan mengembuskan napas panjang, seperti orang yang akhirnya boleh meletakkan beban yang ia panggul terlalu lama.
"Akhirnya," bisik Dharma. "Akhirnya ada yang sampai sejauh ini."
"Kamu sudah tahu," kata Renjana. Bukan pertanyaan.
"Sebagian." Dharma membuka mata. "Aku tahu Penjaga berbohong soal kiamat. Aku tahu Rabu bukan akhir dunia—aku pernah melihatnya, sekilas, sekali. Tapi aku tidak tahu kenapa dia berbohong. Aku tidak tahu Maya anaknya. Itu... itu menjelaskan banyak hal." Ia menatap cangkirnya. "Itu menjelaskan kenapa dia tidak pernah bisa kuyakinkan. Kau tidak bisa berunding dengan ibu yang melindungi anaknya. Logika tidak berlaku. Hanya cinta. Cinta yang sudah membusuk jadi sesuatu yang lain."
Renjana mencondongkan tubuh. "Kalau kita tunjukkan ke dunia, kalau kita buktikan—"
"Tidak ada dunia untuk ditunjukkan, Renjana." Dharma tertawa kecil, pahit. "Semua orang lupa setiap reset. Hanya kita bertiga yang ingat. Kau, aku, dan Penjaga. Tidak ada hakim, tidak ada saksi, tidak ada pengadilan. Hanya kita, di Selasa yang sama, sampai salah satu dari kita menang."
Mereka diam. Di luar, hujan rintik membasahi kaca kedai. Stasiun berdiri di seberang, jam menaranya bergerak menuju pukul yang sama.
"Aku konfrontasi dia," kata Renjana akhirnya. "Penjaga. Aku bilang semua bohongnya. Kiamat, perang, wabah. Karangan."
"Dan?"
"Dia nggak menyangkal." Renjana menatap tangannya sendiri. "Dia cuma bilang, kalau aku tahu yang sebenarnya, aku akan pilih dunia daripada anaknya. Dan dia nggak bisa biarkan itu."
Dharma mengangguk lambat. "Itulah racunnya. Penjaga bukan iblis, Renjana. Aku dulu kira dia iblis. Itu lebih mudah. Tapi dia cuma ibu yang patah hati, yang punya kuasa lebih besar dari kesedihannya, dan memakai kuasa itu untuk menahan seluruh waktu daripada menghadapi satu kehilangan." Ia menatap Renjana lurus. "Itu membuatnya lebih berbahaya daripada iblis. Karena dia yakin dia melakukan hal yang benar."
Renjana memikirkan Maya di kursi keempat dari belakang, memeluk mapnya, tak ingat apa-apa. Memikirkan Bang Topan menyodorkan kopi. Memikirkan anak SD dengan bola merahnya. Ratusan orang di gerbong kedua, terbakar berulang kali, demi satu nyawa.
"Berapa orang yang udah mati buat ini, Dharma?" tanya Renjana lirih. "Berapa kali tiga ratus orang... ribuan loop..."
Dharma menutup matanya. Tangannya yang gemetar mengepal.
"Jangan dihitung," bisiknya. "Kalau kau menghitung, kau tidak akan bisa berdiri lagi. Aku pernah menghitung. Sekali. Aku tidak akan pernah melakukannya lagi."
Renjana memandang cangkir kopi di antara mereka, uapnya yang sudah lama hilang. Ia memikirkan Bang Topan yang menyodorkan kopi setiap pagi dengan senyum ompong. Anak SD dengan bola plastik merahnya. Penjual melati—Penjaga—di sudut. Pemuda berjaket kulit bersandar di tiang peron. Wajah-wajah yang ia kenal lebih baik daripada keluarganya sendiri, karena ia telah melihat mereka hidup dan mati ribuan kali, dan tak satu pun dari mereka pernah mengenalinya kembali.
"Kalau kita berhasil," kata Renjana pelan, "mereka semua nggak akan inget apa-apa. Mereka nggak akan tahu mereka pernah mati. Mereka nggak akan tahu apa yang kita lakukan."
"Itu hadiah terbaik yang bisa kita beri." Dharma membuka matanya, dan untuk sesaat wajah tua itu melembut. "Tidak ada yang lebih baik daripada hari esok yang biasa, Renjana. Hari di mana kau lupa pernah ada hari yang berbahaya. Itu yang kita perjuangkan. Bukan kemenangan yang dikenang. Kemenangan yang bisa dilupakan."
Renjana menatapnya. Dalam semua loyalitas yang ambigu, dalam semua kebohongan kecil yang Dharma sembunyikan, ada kalimat-kalimat seperti ini yang membuat Renjana percaya bahwa di balik tubuh yang menua dan pikiran yang lelah, pria ini masih manusia—masih ingin sesuatu yang baik, walau tangannya yang membangun mesin itu juga yang menjebak mereka semua.
Di luar, di sudut stasiun, perempuan tua berkebaya menata melatinya. Dari kejauhan, melalui kaca kedai yang berembun, Renjana melihatnya menatap kereta yang masuk jalur tiga, mencari satu wajah di antara kerumunan.
Bunga melati di keranjangnya, satu per satu, mulai menghitam.