Renjana menyusun rencananya seperti orang yang sudah hidup seribu Selasa: menit demi menit, langkah demi langkah, setiap kemungkinan sudah ia jalani dalam loop-loop sebelumnya.
Pukul 06.00, ia bangun. Penjual bubur lewat. Ia tidak membuang waktu.
Pukul 06.40, ia di ruang kontrol, dengan kunci yang ia curi dari Sudarmo. Tapi kali ini ia tidak menghancurkan jam tua itu. Ia hanya mengamatinya, mempelajari di mana letaknya, bagaimana cara mencapainya cepat nanti. Dharma menunggu di luar pintu timur, tugasnya menahan Penjaga.
Pukul 07.25, Renjana di gerbong kedua. Maya di kursi keempat dari belakang, memeluk mapnya. Renjana duduk di sebelahnya, dan kali ini ia tidak menjelaskan loop, tidak membuang kata. Ia hanya bicara cepat dan tegas.
"Maya. Lima belas menit lagi kereta ini meledak. Aku tahu kamu nggak percaya. Tapi aku minta satu hal: ikut aku turun. Sekarang. Kalau aku salah, kamu cuma telat lima menit. Kalau aku benar, kamu hidup."
Maya menatapnya, dan ada keraguan di matanya—tapi juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang dalam, yang tak ia mengerti, yang membuat tengkuknya merinding setiap kali laki-laki asing ini bicara. "Kenapa kamu... kenapa rasanya aku pernah—"
"Karena kita udah ngobrol ini ribuan kali," kata Renjana, suaranya pecah. "Dan kamu selalu lupa. Tolong, Maya. Sekali ini. Percaya aku."
Pukul 07.31, untuk pertama kalinya dalam seluruh loop, Maya berdiri dari kursinya dan mengikuti Renjana keluar gerbong.
Di peron, Renjana melihat Penjaga di sudutnya—dan melihat perempuan tua itu menegang, matanya melebar saat melihat Maya turun dari kereta. Penjaga mulai bergerak, mulut membuka untuk memanggil, tangan terangkat. Tapi dari pintu timur, Dharma melangkah keluar, menghadangnya, tubuhnya yang renta menutup jalan perempuan tua itu.
"Tidak hari ini," kata Dharma, suaranya bergema di peron. "Hari ini biarkan anakmu pergi, Laras."
Laras. Renjana tersentak—nama asli Penjaga. Dharma mengetahuinya. Tentu saja. Mereka rekan, dulu, di proyek yang sama.
Penjaga—Laras—berteriak, mencoba menerobos, tapi Dharma mencengkeramnya, dan dua tubuh tua itu bergulat di tengah peron sementara dunia berputar di sekitar mereka, tak tahu apa-apa.
"Lari!" teriak Dharma. "Bawa dia keluar! Sekarang!"
Renjana menarik tangan Maya dan berlari—melewati kerumunan, melewati anak SD dengan bola merahnya, melewati Sudarmo yang kebingungan, menuju pintu utama stasiun. Pukul 07.40. Mereka mencapai tangga keluar. 07.42. Mereka di luar, di jalanan basah, di trotoar seberang, jauh dari jalur tiga, jauh dari gerbong kedua.
"Apa yang—" Maya terengah, bingung, takut. "Kamu bikin aku ketinggalan kereta. Ini gila—"
"Tunggu," kata Renjana, memegang bahunya, matanya terpaku ke menara jam. "Tiga menit lagi. Lihat."
07.43. 07.44.
Renjana menahan napas. Setiap loop sebelumnya, di detik ini, ia berada di dalam, atau berlari, atau gagal. Kali ini ia di luar, dengan Maya hidup di sampingnya, dan untuk pertama kalinya ia akan menyaksikan 07.45 dari kejauhan, sebagai orang yang berhasil mengeluarkan satu nyawa dari pusat ledakan.
07.45.
Cahaya putih meledak dari gerbong kedua. Gemuruh mengguncang stasiun, jendela-jendela tinggi melengkung itu pecah, asap mengepul ke langit kelabu. Orang-orang menjerit. Maya tersentak, terjatuh ke pelukan Renjana, menatap stasiun yang terbakar dengan mata terbelalak.
"Astaga," bisiknya. "Astaga, kamu benar. Keretanya—aku tadi di—"
"Kamu hidup," kata Renjana, dan air matanya jatuh. Ledakan terjadi. Seperti selalu. Tapi Maya tidak di dalamnya. Untuk pertama kalinya dalam ribuan Selasa, perempuan itu tidak mati di pukul nol.
Dan kemudian Renjana menatap menara jam, dadanya berdebar, menunggu.
Karena selama ini, selalu, setiap kali, di 07.45 dunia menjadi cahaya putih lalu gelap lalu bubur lagi. Reset. 06.00. Selalu.
Tapi sekarang Maya di luar. Sekarang jangkar—nyawa yang loop ini coba selamatkan—tidak hancur dalam ledakan.
Jarum menara bergerak.
Renjana menahan napas sampai dadanya sakit.
Detik berdetak. Lambat. Berat. Seolah waktu sendiri ragu, tidak yakin ke mana harus melangkah, terbiasa berputar dan kini dihadapkan pada garis lurus yang asing.
Dan kemudian—
Jarum besar di menara jam Stasiun Kota Lawang bergerak satu kedutan ke depan.
07.46.
Renjana terjatuh berlutut di trotoar basah, tubuhnya gemetar. Maya menatapnya, tak mengerti kenapa laki-laki asing ini menangis menatap jam.
"07.46," bisik Renjana, suaranya nyaris tak terdengar. "Rabu. Rabu datang."
Loop pecah. Untuk pertama kalinya, Selasa melewati 07.45.
Dan tidak ada kiamat. Tidak ada perang. Tidak ada wabah. Hanya stasiun yang terbakar, korban yang nyata, langit kelabu, dan satu menit yang—untuk pertama kalinya dalam keabadian—bergerak maju.
Dharma benar.