Januari, 2020
"Berarti ini gue cewek sendiri disini?"
"Eh, iya"
"Ajak cewek lagi aja Ray"
"Siapa donk? Udah pada dapet kelompok semua" ucap ku dengan tidak semangat.
Satu kata yang terlintas dalam benak ku kala itu 's**l'
Tahun pertama semester kedua di masa putih abu-abu. Menyenangkan, tapi ya mungkin tidak di hari ini.
Sistem sekolah yang membuat 5 kelas IPA di semester awal dan memecahnya lagi menjadi 6 kelas IPA di semester selanjutnya, membuat aku yang seharusnya mendapatnya kelompok yang brilian justru menjadi zonk.
Bukan, bukan karena kemampuan anak-anaknya. Pasalnya karena seluruh anggota cewek di kelompok ku justru pindah kelas semua. Meninggalkan aku di dalam kelompok yang berisikan cowok semua. Ditambah lagi ini merupakan mata pelajaran yang paling aku benci.
Sial
Sial
Sial
Aku melihat sekeliling ku, kelompok lain sudah berkumpul dengan para anggotanya, bersorak ria, dan malah ada yang langsung mengobrol seru. Aku mengerutkan bibir ku, agak tidak terima. Bisa-bisanya anggota kelompok ku cowok semua, tidak bisakah aku di transfer ke kelompok lain. Ingin rasanya aku menangis.
Jujur saja aku sulit berkomunikasi dengan anak cowok. Padahal aku tidak memiliki masalah apapun dengan mereka, tapi aku selalu gugup jika berbicara dengan lawan jenis. Aku tidak terbiasa mengobrol dengan anak cowok.
Cowok berkaca mata itu mendekat ke arah ku, melihat tepat ke arah mata ku yang hampir sejajar dengan dirinya, "Gapapa kan Ray? Nanti kerja kelompoknya di rumah aku aja"
Aku menghela nafas ku pelan, dengan amat sangat terpaksa aku mengangguk mengiyakan, "tapi colab sama kelompok lain ya"
"Yaudah" Balasnya, lantas kembali kepada anak cowok lainnya.
Oh astaga, ini akan menjadi pertama kalinya aku pergi ke rumah anak cowok.
Dan kalau diingat lagi, ini adalah pertama kalinya aku mengunjungi rumahnya.
•••
Aku bertemu Nabila di depan gapura. Berterima kasihlah pada google maps karenanya aku tidak jadi tersasar.
Aku mengendarai motor ku, memasuki g**g sempit diantara rumah-rumah besar. Belok kiri sedikit lantas masuk lagi ke g**g yang lebih sempit, jalanan yang hanya dapat dilalui motor saja. Dan apabila berpapasan, salah satu dari kami harus berhenti terlebih dahulu. Jalan itu tidak terlalu panjang, mungkin hanya sekitar seratus meter saja, atau malah mungkin kurang dari itu.
Keluar dari sana terdapat jalan yang cukup untuk dilalui satu mobil. Aku berhenti di depan rumah bercat krem dengan nuansa modern.
Pintunya masih tertutup, apalagi pagarnya. Motornya pun tidak ada, apa dia ada di rumah?
Aku memutar kepala ku ke arah Nabila, saling pandang seakan bertanya 'ada orang?' Nabil mengangkat alisnya tanda tidak tau.
"Coba panggil aja kali ya" gumam ku, diikuti anggukan dari Nabila.
"Assalamualaikum, Angkasa!"
Tidak ada jawaban.
"Assalamualaikum, Angkasa!"
Masih tidak ada jawaban.
"Assalamualaikum"
Sebuah motor berhenti tepat di belakang motor ku. Cowok dengan helm bogo hitam itu menyetandarkan motornya, lantas membuka kaca helmnya. Itu Ares, salah satu anggota kelompok ku.
"Aksanya ada ga?" tanyanya kepada kami.
"Ga tau, ga ada yang nyaut dari tadi" balas Nabila.
"Coba gue telfon ya," Ares membuka ponselnya, lantas menghubungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan Angkasa.
Tak sampai lima menit, cowok dengan trening biru kedodoran dan kaos abu-abu lusuh keluar sambil membawa ponselnya. Itu Angkasa. Dia mempersilahkan kami masuk rumahnya, begitu juga motor kami.
Aku dan yang lainnya duduk di teras ruang tamunya sehabis mejanya di dorong hingga ujung ruangan. Karena pertama kalinya aku ke rumahnya, menurutku rumahnya bagus dan cukup unik karena bentuknya turun naik. Mungkin karena tanah tempat berdiri rumah tidak rata.
Karena pertama kalinya juga aku main ke rumah anak cowok aku tidak berani melihat ke sana kemari, alhasil aku langsung mengeluarkan laptop ku, berniat mengerjakan tugas minimal setengahnya sembari menunggu yang lain datang.
Kita berempat tidak banyak bicara, bahkan bisa dibilang atmosfernya cukup canggung. Aku tidak punya topik apapun, dan sepertinya mereka juga sama.
Wah, benar-benar canggung.
Tidak lama kemudian Aji datang. Lengkap sudah kelompok ku. Yah, karena Dzaky tidak dapat hadir. Yang mana berarti Nabila tidak jadi kerja kelompok juga, karena anggotanya itu termasuk ke dalamnya Dzaky dan Alda, tetapi mereka malah tidak datang. Namun, aku bersyukur dia datang bersamaku. Setidaknya tidak hanya aku cewek disini.
Aku mulai mengetikan sesuatu di dalam word, cover, lantas pendahuluan, hingga isi. Kami berempat ganti-gantian mengetiknya, sembari sedikit-sedikit berceloteh.
Aku sudah lama mengenal Angkasa dan Ares. Kami pernah dipertemukan di satu kelas sewaktu SMP. Bahkan kalau dengan Angkasa, aku pernah berada di satu kelompok main dengan dia. Aku juga punya grup tersendiri dengan dia. Tapi, semenjak kita pisah kelas dan dipertemukan lagi setelah masuk SMA, aku menjadi sangat canggung dengannya. Dan aku seperti tidak mengenalinya. Angkasa yang aku kenal adalah sosok cowok yang banyak bercerita. Tapi, sekarang hanya ada Angkasa yang sangat canggung saat mengobrol dengan ku.
Satu jam berlalu, kami masih berkutat pada laptop. Namun, suansannya sudah sedikit cair. Berterima kasihlah pada Nabila yang terus memulai obrolan. Kami membicarakan apapun, mulai dari adiknya Angkasa sampai hal-hal random yang dijadikan jokes.
Hari itu cukup menyenangkan sampai aku menyadari ban motor ku bocor. Dan sialnya anggota kelompok yang isinya anak cowok semua tidak ada yang membantu sama sekali. Alhasil aku mendorong motor ku ke bengkel sendiri.