The Beginning of Accident, 2020
“Bu Arda nggak masuk hari ini tapi, dapet amanah dari beliau disuruh buat kelompok, isinya 6 orang. Untuk tugasnya nanti dikasih taunya” Fauzi menaruh kertas kosong di meja guru, lantas pergi kembali ke tempat duduknya setelah memberitahukan informasi tersebut.
“Ray, sekelompok yuk!”
“Ayo! Siapa lagi?”
Tara tersenyum simpul ke arah ku, cewek berkaca mata itu menunjuk baris depan sebagai kode bahwa mereka lah yang akan kami rekrut masuk ke dalam kelompok, siapa lagi, tentu saja Angkasa dan Geo.
Aku mengangguk mengiyakan, “Yaudah, bilang ya” aku menepuk bahu cowok berkaca mata itu, langsung saja dirinya membalikan badannya ke arah meja ku. “Mau sekelompok ga kimia?”
“Terserah sih,” katanya “sama siapa lagi?” lanjutnya.
“Sama Tara, ajak Geo juga geh” Kata ku sambil menunjuk ke arah Tara yang duduk di samping ku. Cewek itu gantian memanggil Geo yang di depannya, mengajaknya untuk masuk ke dalam kelompok kami. Cowok dengan bahu lebar itu mengajukan pertanyaan yang sama dengan Angkasa, ‘sama siapa aja?’ tanpa sedikit pun melihat ke arah kami yang duduk tepat di belakangnya. Bukannya Geo yang menjawab pertanyaan Tara, justru Angkasa lah yang menjawabnya. Lantas Geo mengangguk sebagai jawabannya.
“Okay, berarti kurang dua orang lagi. Mau siapa?” Tanya ku.
“Alma aja gimana? Atau siapa ya,”
Tara melihat ke sekeliling kelas yang sudah gaduh tidak karuan karena jam kosong, memilah-milah anak kelas yang sekiranya belum mendapatkan kelompok.
“ANGKASA, SEKELOMPOK AYOK!” Teriak Tari dari bangku belakang. Angkasa menoleh ke arahnya, cowok itu tersenyum, merasa tidak enak, “udah dapet kelompok Ri” sahutnya.
“HAH, SAMA SIAPA?” Balasnya masih dengan suara cemprengnya.
Cowok yang duduk tepat di depan ku itu melirik ke arah ku seperti meminta pertolongan. Dengan polosnya aku justru balas menatapnya tanpa berbuat apa-apa. Sebenarnya aku menunggu bagaimana dia akan menjawabnya.
“Sama Geo, Tara, sama Arayna” jawabnya. Tari mengerutkan wajahnya, mendengus kesal. Cewek itu kembali ke tempat duduknya sambil mendumalkan sesuatu. Dirinya berkerumun dengan teman-teman sefrekuensinya, entahlah mungkin mereka akan mulai bergibah.
“Guys kelompoknya diacak aja yuk biar adil” ucap Tari pada yang lainya. Cewek itu lalu langsung maju ke depan kelas menuju meja guru bersama Fida.
“Ayo! Dikocok aja ini pake kertas biar adil” tambah Fida dan mulai mengambil kertas dari dalam bukunya, lalu ia robek kecil-kecil.
Aku mendengus kesal, seenaknya saja. Beberapa teman sekelas ku juga menunjukan respon yang sama terlebih untuk mereka yang sudah membuat kelompok. Karena malas berdebat akhirnya penentuan kelompok kimia kali ini dengan dikocok.
Mereka yang berkumpul di depan meja guru yang membuat nomor undi untuk menentukan anggota kelompok mulai dari kelompok satu. Aku tidak ikut andil di dalamnya tapi aku berharap aku bisa satu kelompok dengan Angkasa. Ya… itu karena master kimia di kelas ku itu Angkasa, anak emas Bu Arda.
Kami maju sesuai nomor absen, per lima orang. Kalau begini caranya mau berharap seperti apapun aku tidak akan sekelompok dengan Angkasa. Jelas saja, absenku dan dirinya berdekatan, sangat dekat karena atas bawah. Aku absen empat dan Angkasa absen tiga.
Benar saja saat membuka nomor undi aku mendapatkan nomor lima, sedangkan Angkasa nomor tiga, yang berarti kita tidak satu kelompok. Haha.
Satu per satu semuanya mengambil nomor undi sampai semuanya kebagian. Dan hasil akhirnya aku sekelompok dengan Geo sedangkan Tara sekelompok dengan Angkasa.
“Kita ngerjainya bareng sama kelompok Alma aja” Tara mengubah posisi bangkunya ke arah tempat duduk Lea.
“Mau di rumah Gue?”
“Iya, boleh tuh Ma”
“Ke sananya gimana?”
“Gonceng-goncengan aja. Lo sama si Ares, Lea ama si Aji nanti kumpul depan sekolah aja dulu. Sa, nanti jemput gue ya.” Kata Tara.
Aku duduk di samping mereka, menguping pembicaraan mereka. Aku melirik sedikit ke arah Angkasa yang tidak merespon apapun dan cenderung iya-iya saja. Aku tidak tau apa alasannya tapi aku kesal mendengar dan melihat itu.
Geo duduk di depan ku, cowok itu berkutat dengan ponselnya. Entah apa yang dirinya lakukan. Aku menepuk pundaknya pelan, “Geo kelompok kita mau kerja kelompok kapan?” tanya ku
“Terserah”
Aku membalikan tempat duduk ku lantas bertanya pada Nabila, jawabanya sama dengan dengan Geo. Satu per satu aku bertanya pada anggota kelompok ku tapi jawabanya sama semua. Bagus sekali.
“Kalau hari sabtu bisa ga?”
“Aku ada renang susulan”
“Jam berapa?”
“Kalau jam sepuluhan gimana?”
“Bisa aja”
“Aku nyusul ya”
Aku mengangguk mengiyakan, lalu aku kembali bertanya pada Geo. Manusia itu terlalu banyak diam, bahkan bisa dibilang terlalu diam. Tapi Geo memang seperti itu, cowok berbahu lebar dan tinggi menjulang itu sangat cuek dan begitu dingin dengan sekitarnya. Bisa-bisanya saat pertama kali aku mengenalnya, aku sebut dirinya mempunyai aura-aura ketua osis.
“Gue nggak tau, soalnya ada latihan. Nanti gue kabarin” sahut Geo.
•••
'Geo besok bisa ga?'
Malamnya aku mengirim pesan singkat pada Geo. Kedua kalinya selama aku sekelas dengannya. Aku was-was tidak akan dibalas olehnya. Tapi tidak sampai lima menit sebuah pesan masuk dalam ponsel ku, dan itu dari Geo. Wow, dugaan ku salah. Cowok itu bilang bahwasannya besok dirinya akan datang selepas latihannya.
Aku membalasnya lagi sesuai konteks pembicaraan kita, aku tidak masalah kalau dia datang terlambat yang penting sudah mau hadir saja sudah cukup. Karena itu sudah termasuk usaha, walaupun kontribusinya tidak terlalu besar.
Setelah itu, aku mengambil buku dan laptop ku lalu mulai mempelajari materi kimia bagian kelompok ku. Karena kalau aku tidak bisa satu kelompok dengan Angkasa setidaknya presentasi kelompok ku harus lebih bagus dari kelompoknya. Itulah yang aku pikirkan.
Tringg!!!
Satu pesan masuk dan Geo. Dia mengirimiku pesan yang berisikan curhatannya yang mana dirinya tidak tau dimana letak rumah Tari untuk kerja kelompok esok hari. Dia bertanya kepada ku tapi aku juga tidak mengetahui dimana letak rumah Tari, karena ini juga pertama kalinya bagiku. Aku menjawabnya seadanya, dan selajutnya obrolan kami semakin kemana-mana. Dari sana aku mengetahui satu fakta baru, ternyata Geo tidak sedingin dan secuek itu.
Keesokan harinya aku langsung menuju rumah Tari di jam sepuluh, aku bertemu dengan Nabila di depan komplek perumahannya. Dengan bantuan google maps dan petunjuk dari Tari, aku dan Nabila sampai di rumahnya. Di sana baru ada kita bertiga, Geo masih di jalan karena dia baru saja mengabari kalau dia baru berangkat.
Aku tidak mau membuang-buang waktu, langsung saja aku membahas apa yang menjadi topik pembahasan bagian kelompok ku. Dan benar saja tidak ada dari mereka yang mempelajarinya sebelumnya, untung saja aku sempat belajar sedikit mengenai materinya.
Aku membagi tugas di dalam kelompok ku, mengajari bagian yang tidak mereka tau. Terlalu fokus pada bagian yang aku pelajari, karena menurutku materi ini cukup seru dan mudah. Sampai sosok cowok serba hitam mengintai rumah Tari. Awalnya yang menyadari itu hanya Nabila, cowok itu berpakaian serba hitam, mulai dari sepatu, celana, jaket, dan bahkan helm yang menutupi kepalanya berwarna hitam. Kami bertiga saling pandang, mencurigai siapa sosok itu.
“Geo bukan sih?” cetus ku.
“Eh iya, tapi masa sih?”
Aku membuka ponsel ku yang telah aku abaikan sedari tadi, ternyata ada banyak panggilan dari Geo yang tidak terjawab. Dan beberapa pesan darinya yang bertanya dimana letak rumah Tari. Langsung saja aku menelponnya.
Nabila keluar melihat dengan jelas cowok serba hitam itu, sampai mereka sama-sama melihat satu sama lain, cowok itu membuka helmnya. Dan dibalik sana ada Geo. Lihat, benar dugaan ku. Lantas aku mematikan panggilan yang belum terjawab dalam ponsel ku.
“Gue kira siapa item-item”
“Udah selesai latihan emang?” Tanya ku pada Geo yang baru saja memposisikan dirinya duduk lesahan di depan ku.
“Nggak jadi,”
“Oalah, jadi lo bolos?”
“Enggak, nanti”
“Ha? Maksudnya?”
“Latihannya diganti sore”
“Oalah, berarti lo ga bisa sampe sore donk”
“Iya”
“Pulangnya maghrib gitu?’
“Enggak, malah baru mulai jam segitu.”
“Ha? Terus pulangnya sampe malem donk, emang ga takut?”
Aku melanjutkan menulis soal-soal yang akan dibahas dalam presentasi, sedangkan Nabila masih berkutat dengan laptop. Jujur saja yang lainnya tidak melakukan apa-apa.
Geo membuka jaketnya, menampilkan baju polo berwarna biru yang dikenakannya. Cowok itu tersenyum sampai memperlihatkan gigi gerahamnya, seperti menertawakan ucapan ku.
“Ya enggak lah Ray, kalau ada begal ya langsung dikeluarin jurusnya ama si Geo.” Balas Tari lantas tertawa.
“Bukan, kan kalau malem mah banyak truk gede-gede gitu, terus emang ga dimarahin sama ibu Lo?”
Lagi-lagi Geo tertawa pelan, apa emang pertanyaan ku itu lelucon? Kenapa rasanya disini aku yang aneh dengan pertanyaan seperti itu. Bukankah pertanyaan itu wajar?
Geo mulai bercerita sedikit, yang isinya kurang lebih dirinya sudah biasa latihan malam hari, dan itu tidak akan dimarahi oleh ibunya karena ayahnya juga ikut berpartisipasi sebagai pelatih disana. Dan terkadang Geo yang mengajari anak-anak yang masih baru di sana. Ternyata orang di luar sekolah bisa seberbeda itu. Satu lagi fakta tentang Geo.