A little thing of eagle, 2020
Malam harinya, dua hari sebelum kelompok ku presentasi. Geo mengirimiku pesan setiap malam, kita membicarakan hal random yang menurutku tidak penting-penting amat. Ternyata mengobrol dengan Geo, bocah paling pendiam di kelas seseru itu. Apapun celetukanku dia bisa menjawabnya tanpa mematikan topik. Tapi, hal yang aku kurang suka darinya saat kami mengobrol adalah pembicaraanya yang selalu memuji. Bukannya aku sombong, tetapi apa yang dia bicarakan itu hanyalah sampulnya saja, apa yang dia lihat bukanlah apa yang sebenernya terjadi. Perkataanya membuat ekspetasi orang terhadapku menjadi terlalu tinggi. Dan menurut ku itu beban tersendiri.
Malam itu topik bahasan kami seputar presentasi. Geo bilang kepadaku bahwasanya dia takut tidak bisa menjelaskan materinya ketika presentasi nanti. Aku memberitahunya bahwasanya tidak ada yang tidak bisa, bahkan dirinya saja belum mencobanya bagaimana bisa dirinya tau kalau dia tidak bisa. Itu hanyalah asumsinya dan ketakutannya, percayalah tidak ada yang tau bagaimana kedepannya jadi, jangan menyerah dulu, jangan cepat mengklaim bahwa dirimu tidak bisa sebelum mencobanya. Lagi pula bukanlah hal mustahil, ini hanyalah presentasi di depan kelas, yang orang-orangnya hanyalah teman-teman sekelas yang masih belajar seperti yang dilakukan kita sekarang. Salah. Itu wajar, kita sedang belajar.
Jelasku padanya yang terus saja berkata, ‘kalau lo mah kan udah biasa’
Terlepas dari apapun ekspetasinya terhadapku, aku juga takut. Orang bisa saja melihat dengan mudahnya aku berbicara di depan umum, padahal jika mereka cukup memperhatikan, tangan ku gemetar saat memegang spidol perpamanen di depan kelas.
‘Yaudah, besok kita latihan dulu aja. Sama gue deh’
Akhirnya aku mengirimi pesan itu padanya, lantas cowok itu membalasnya dengan jawaban yang menyatakan bahwa dirinya setuju.
Terkadang aku tidak mengenali sosok Geo yang seperti itu, tingkahnya saat di sosial media dan di dunia nyata sangatlah berbeda. Bahkan seperti orang yang berbeda. Aku nyaman berbicara dengannya via chat, tetapi saat aku bertemu langsung dengannya di sekolah Geo sangat sangat diam, bahkan obrolan kita sebelumnya seperti tidak pernah ada.
Besoknya saat istirahat jam pertama selepas aku memakan bekal ku, dari pojok kelas aku memanggil Geo. Ya, aku juga tidak tau kenapa aku memanggilnya dengan cara seperti itu. Sebelumnya aku sudah mengatakan kepadanya bahwa latihannya nanti saat jam istirahat pertama, karena di jam setelah istirahat pertama Bu Hanan izin. Geo yang baru saja menyelesaikan acara makan siangnya memutar kepalanya ke arah ku, tanda bahwa dirinya bilang sebentar. Dengan cepat cowok itu mengemasi bekal makanannya. Namun, yang menengok ke arah ku kala itu tidak hanya Geo, Angkasa bahkan beberapa anak kelas ada yang langsung melihat ke arah ku. Mungkin mereka heran kenapa Geo bisa seperti itu. Percayalah aku juga baru pertama kali melihat sosoknya yang sesemangat ini hanya untuk latihan presentasi.
Aku menyuruh Geo duduk di kursi depan ku, tapi dirinya justru mengambil kursi dari meja samping. Alhasil dirinya jadi duduk di samping ku.
“Terus sekarang Gue harus apa?” Katanya setelah memposisikan diri. Aku menahan tawa ku melihatnya yang bertingkah seperti anak kecil. Lucu sekali.
“Lo tau kan bagian Lo?” tanyaku retoris, lantas mengubah posisiku menghadapnya “yaudah sekarang coba jelasin bagian lo ke gue” lanjutku.
“Gimana?”
“Ya, jelasin aja kaya ceritanya lo lagi ngajarin gue. Ke gue aja ini.”
“Gimana?”
“Geo! Udah lo mulai aja dulu, kayak mulai dari bacain soalnya, terus sebutin yang diketahuinya itu apa aja, terus yang ditanya, terus kalau yang diketahuinya itu kira-kira bakal pake rumus yang mana buat jawabnya, kasih tau juga ada yang perlu dicari dulu atau enggak.” Jelas ku, greget sendiri dengan tingkahnya. Pasalnya dia hanya bilang, ‘Gimana? Gimana?’ padahal dia belum mencobanya sama sekali.
Geo mengangguk sebagai jawaban ‘ya’.
Cowok itu membuka bukunya, membacakan soalnya terlebih dahulu seperti apa yang aku katakan sebelumnya. Tapi, cara bicaranya dia terlalu cepat, aku sadar dia pasti gugup.
“Ge, tenang aja. Sama gue doang loh ini, pelanin lagi temponya.”
Geo mencoba mengurangi temponya, lantas cowok itu kembali membaca soal tersebut. Sampai beberapa kalimat dia mengangkat kepalanya, menatap ke arah ku, mengangkat kedua alisnya, lantas berkata, “Gini?”
“Iya, tapi coba jangan terlalu baca banget.” Geo mengangguk paham.
Dirinya hampir menyelesaikaan bagiannya sampai Nabila datang dari belakangnya, tempo penjelasan cowok itu berubah menjadi lebih cepat lagi saat mendengar Nabila memanggil namaku. Nabila datang ingin latihan presentasi juga. Cewek itu berdiri di samping Geo, menghampiri aku.
“Udah kan Ray.” Kata Geo tiba-tiba. Aku mengalihkan pandangan ku arahnya, “Belom selesai ini” sahut ku.
“Udah, tadi udah kan.” Katanya lagi lantas beranjak dari kursinya.
“Dih, tadi mah bilang mau latihan.” Balasku tapi tidak ditanggapi Geo, cowok itu langsung melengos pergi. Tempat duduknya tadi diambil alih oleh Nabila. Arah mataku mengikuti kepergian Geo sampai cowok itu duduk di tempatnya dan mengobrol dengan Angkasa yang duduk di sampingnya. Aku mengalihkan pandangan ku pada Nabila saat ku dapati Angkasa menatap ke arah ku.
•••
Tempat duduk ku dan Tara kini di pojok dekat jendela, ya, aku memilih tempat di dekat jendela. Karena di sana aku bisa bersender di tembok sambil membaca buku atau hanya sekedar menonton drama korea saat jam kosong. Bu Hanan sedang menjelaskan materi di depan, tapi mata ku menjelajahi seisi kelas. Sampai aku berhenti pada seseorang di meja ke tiga di barisan ketiga, jika dihitung dari arah tempat duduk ku. Angkasa, cowok berkaca mata itu sedang menatap tepat ke arah ku. Dengan cepat aku mengalihkan pandangan ku dan pura-pura mengobrol dengan Rara di meja belakang.
Ekor mataku melirik ke arah nya lagi, dan mendapati dirinya yang masih menatap ke arah sini. Sampai beberapa detik kemudian dia kembali berkutat pada bukunya.
Ada apa?
Aku tidak mau berpikir macam-macam.
Setelah jam Bu Hanan, kelas ku disuruh turun untuk mengikuti pelajaran agama di masjid sekolah. Aku mengambil beberapa buku dan langsung menuju masjid sekolah bersama yang lainya. Baru sampai tangga aku menyadari kalau aku tidak membawa kotak pensil, aku menitipkan buku ku pada Tara, lantas aku kembali ke kelas.
Setiba ku di kelas aku langsung menuju meja ku, dan ada Angkasa di sana. Cowok itu baru mau keluar kelas. Pintu keluar kelas ku berada di depan, meja ku di belakang. Aku menuju ke arah sana. Namun jarak meja guru dan meja yang paling depan terlalu sedikit karena terdorong-dorong oleh meja belakangnya. Alhasil hanya bisa dilalui satu orang saja. Angkasa yang jarak tempat duduknya masih tergolong di depan, berjalan memutar melalui bangku-bangku belakang kelas menuju pintu keluar. Seakan-akan dirinya sedang menghindari ku.
Sekali lagi, ada apa dengannya?
Beberapa hari ini setelah aku kerja kelompok di rumahnya, aku sering mendapati Angkasa sedang menatap ke arah ku. Entahlah, dia benar sedang melihat ke arah ku atau orang lain, yang jelas arah pandangnya menghadap ke arah ku. Dan jika aku berpapasan dengannya, dirinya seperti menghindar, bahkan yang paling jelas saat itu. Waktu itu aku hendak masuk ke dalam kelas, namun aku sedang mengobrol seru dengan Naura dan tidak melihat ke arah depan, dan dengan tidak sengaja aku hampir menabrak Angkasa yang akan keluar, untung saja dia menghindar. Benar-benar menghindar bahkan sepertinya dia sampai berbenturan dengan pintu kelas, karena aku mendengar suara benturan.
Yang jelas aku tidak bisa menebak isi pikirannya.
•••
Hari saat ada pelajaran Kimia telah tiba, Bu Arda menyuruh kami untuk duduk sesuai kelompoknya. Aku dan kelompok ku duduk di paling depan bersebelahan dengan tempat duduk kelompok Tara. Bentuk kursi kami melingkar, aku duduk berseberangan dengan Geo dan aku duduk saling membelakangi dengan Angkasa.
Satu persatu kelompok mulai maju mempresentasikan materinya, beberapa ada yang bertanya, termasuk diriku. Aku menyadari sesuatu sepanjang presetasi tadi, Angkasa tampak gugup.
“Gimana, Sa?”
“Ha?"
“Deg degan ga sih?”
“Kalau diperhatiin sih, semoga yang lain sibuk sendiri.”
“Hahahaha…. Bisa kok bisa Sa”
Kelompok dua mulai kembali ke tempat duduknya, kini giliran kelompok Angkasa yang merupakan kelompok selanjutnya untuk maju. Angkasa bagian menjelaskan materi dasarnya, entahlah apa yang dirinya terangkan, aku tidak memerhatihannya, kata-katanya yang bilang bahwa dirinya gugup jika diperhatikan saat presentasi terputar terus dalam otak ku seperti kaset rusak. Yang membuat ku secara tidak sadar tidak ingin memperhatikan dirinya yang sedang menjelaskan, dengan harapan supaya dirinya dapat menjelaskan materinya dengan sempurna. Saat kelompoknya selesaipun aku sama sekali tidak mengajukan pertanyaan.