Outdoor, 2020
Aku mengenakan trening hitam stelan langsung dengan baju olahraga. Tepat jam delapan pagi aku telah sampai di sekolah. Berjalan sendiri di koridor sepi dan sampai di lantai dua tepatnya di depan kelas IPA 2. Aku duduk sendiri bermain dengan ponsel ku. Ku ketikan pesan singkat pada teman-teman ku agar segera datang ke sekolah. Namun, belum ada balasan.
Dukk!
Reflek aku menoleh ke arah jendela. Hari ini hari Sabtu sekolah cukup sepi karena tidak ada kelas, hanya anak-anak yang mengikuti eskul saja yang berada di sekolah. Koridor pun tampak sepi, terlebih di lantai dua. Sedari tadi aku duduk disini juga tidak ada nampak orang lewat, lantas bunyi apa itu?
Brakk!
Lagi-lagi suara benda jatuh. Ku lihat pintu kelas di depan ku, sebuah gembok besi bertengger di sana. Aku tidak mau memikirkan hal aneh-aneh, tapi itu apa. Aku sudah berhenti bermain ponsel ku sedari tadi, mengamati tiap sudut kelas dari depan. Perlahan jendela yang dapat dibuka di kelas itu bergerak, terdorong sesuatu dari dalam.
Aku sudah siap-siap akan berlari dari tempat itu, jika ternyata ada sesuatu di sana.
Brukk!
“ASTAGA!” Dengan cepat seseorang berbaju putih meloncat keluar jendela.
Dan setelah dilihat-lihat ternyata itu Nawal. Anak cowok kelas IPA 3.
“Astaga, lo ngapain di sana?”
“Ngerjain tugas.” Jawab dia tanpa beban sama sekali.
“Ya, ngapain? Kan bisa diluar, sumpah ya gue kira siapa.”
“Nggak ada colokan di luar.”
“Dari tadi Lo?”
“Iya”
Cowok itu kembali meloncat ke dalam ruang kelas melalui jendela, beberapa saat kemudian dia kembali keluar namun kali ini dengan membawa tas. Lantas cowok itu duduk di samping ku.
“Lo ngapain Ray?”
“Nunggu yang lain.”
Nawal mengangguk lalu cowok itu hanya ber-oh ria. Satu pesan masuk dalam ponsel ku, itu dari Geo. Dia menanyakan aku berada di mana. Satu lagi pesan masuk dari grup ekstrakulikuler, katanya kami disuruh untuk berkumpul di kantin.
“Ini disuruh ke kantin, lo ga ke kantin?”
“Nanti, nunggu Geo sama Angkasa.”
Lagi-lagi Nawal hanya mengangguk, lalu cowok itu mulai berkutat dengan ponselnya. Tak selang beberapa lama, Geo dan Angkasa sampai. Kedua anak cowok itu duduk berjejer di depan aku dan Nawal. Kami tidak langsung menuju ke kantin karena Yanda baru saja menghubungi ku kalau dirinya meminta aku menunggunya. Alhasil yang lainya ikut menunggu Yanda.
Suasannya terasa aneh, bukan canggung tapi lebih kepada aku tidak tau harus berbicara apa tapi aku tidak ingin diam-diam saja.
“Ray, kemaren rata-rata lo berapa?” Aku menengok ke arah Nawal, terdiam sebentar, lantas menjawab “Kenapa?”
“Ya, nggak apa-apa.”
“Oh. Lupa, berapa kali. Kayaknya kisaran delapan puluhan.” Nawal menganggung-angguk mengiyakan.
“Kalau lo berapa Sa?”
“Ha?” Angkasa menaruh ponselnya lalu mendongakan kepalanya ke arah Nawal, “Berapa ya, delapan puluhan kayaknya. Kalau Nawal berapa?”
“Nggak tau sih gue.” Katanya, jelas sekali dirinya tidak mau memberitahu berapa nilai rata-rata rapornya.
Nawal itu tipe orang yang ambis diam-diam. Bahkan aku saja baru mengetahui dirinya satu sekolah denganku saat SMP, saat pengumuman juara umum ketika kelulusan. Cowok kurus dan tinggi itu menduduki peringkat pertama pararel. Dan aku juga baru mengetahui bahwasanya dahulu saat SMP kelas kita bersebelahan.
Beberapa saat kemudian Yanda dan Naya datang, langsung saja kami semua menuju kantin. Informasi singkat saja, kami semua berada dalam satu ekstrakulikuler. Dan rencananya hari ini akan diadakan acara outdoor, maka dari itu kami dihimbau untuk memakai trening oleh kakak tingkat.
Setelah sampai di kantin, kami langsung menuju gazebo yang sudah ditempati oleh beberapa kakak tingkat. Mengobrol sebentar sebelum memulai acara sembari menunggu anggota lain yang belum datang.
Ekstrakulikuler ku mungkin lebih kepada klub, karena anggotanya hanya segelintir saja. Kakak tingkat yang memegang jabatan tahun ini pun terbilang cukup pasif, jadi kami juga masih belum mengetahui program kerja apa yang sedang berlangsung sekarang.
Jarum panjang jam yang melingkar di tangan ku sudah menunjuk angka dua belas, yang artinya sudah sejam berlalu sejak aku tiba di sekolah ini. Jika dihitung-hitung baru ada kurang lebih delapan orang dari angkatan ku dan beberapa orang dari angkatan kakak kelas sebagai pemandu.
Hari semakin siang, tanpa basa basi lagi kakak tingkat di sana mulai memandu kami untuk memulai acara.
Pertama-tama kami dibariskan membentuk dua banjar, dengan anak cowok berbaris tepat di belakang anak cewek. Aku berbaris di saf kedua paling kanan. Dibelakang ku ada Haikal dan di depan ku ada Jeje. Kakak tingkat di depan memberikan peraturan-peraturan selama acara berlangsung. Dimana nantinya akan dibentuk dua kelompok dari kami, setiap kelompoknya akan melalui tiga pos yang telah di jaga oleh beberapa kakak tingkat lainnya. Di dalam pos tersebut terdapat tantangan yang wajib tiap kelompok lalui, setiap kelompok baru bisa melanjutkan ke pos selanjutnya jika berhasil melalui tantangan di pos sebelumnya.
Kakak tingkat yang memandu di depan, mungkin bisa dibilang sebagai mentor mulai membagi kelompok kami. Entahlah berdasarkan apa kakak tingkat tersebut membagi kelompoknya, yang jelas aku kebagian sekelompok dengan Angkasa, Jeje, dan Nawal.
Kakak tingkat tersebut membagikan clue ke setiap kelompok. Nawal mengambil kertas yang diberikan kakak tingkat itu sebagai perwakilan.
Taman surga siswa
Isi dari kertas tersebut. Aku mengambil alih kertas tersebut lalu membacanya lagi, lantas aku mendongakan kepala ku menatap yang lainya, mencoba memahami apa maksud dari kalimat tersebut.
“kantin nggak sih?” Kompak kami langsung melihat ke arah Jeje, mengangguk setuju.
“Tapi, kita kan udah di kantin.”
“Ini nggak sih taman itu,” ucap Nawal sembari menunjuk ke arah taman kecil di ujung jalan menuju kantin.
“Bisa jadi.”
“Yaudah coba aja.”
Kami berempat langsung menuju ke arah sana dan memang benar sudah ada kakak tingkat membawa-bawa sarung di balik pohon dan semak-semak. Kami memasuki pos satu tersebut. Kakak tingkat disana langsung menjelaskan aturan main di pos tersebut, dimana kita diharuskan mentransfer sarung dari ujung ke ujung tanpa terputus, itu pun dalam waktu tiga puluh detik. Jadi disini kita diharuskan bergandengan tangan.
Setelah menjelaskan kaka tingkat memberikan kami waktu beberapa dekit untuk diskusi strategi.
“Dari yang paling tinggi nggak sih biar nanti di ujungnya gampang.” Saran ku pada yang lainnya dan hanya ditanggapi oleh anggukan sampai waktu diskusi pun habis.
Kami pun memasang posisi berjajar dengan Nawal yang berada di paling ujung, lalu Angkasa, Aku, dan Jeje di urutan paling akhir. Sebelum kakak yang menjaga pos di sana memberikan aba-aba mulai, kelompok Yanda datang. Alhasil tantangan ini dijadikan lomba, siapa kelompok tercepat yang bisa mentransfer sarung dan melipatnya dengan rapih.
Setelah dijelaskan kelompok Yanda pun bersiap-siap, urutan barisan kelompok Yanda juga sama seperti kelompok ku. Dimulai dari yang paling tinggi sampai yang paling pendek.
Kakak tingkat memberikan aba-aba juga bersiap mengalungkan sarung pada orang yang berada di barisan paling depan. Aku juga mulai menggandeng tangan Jeje dan Angkasa. Ternyata tangan Angkasa memang sebesar itu. Wah, tiba-tiba saja jantung ku berdegup dengan cepat, aku takut tanganku berkeringat banyak.
Aba-aba mulai sudah dikumandangkan, dengan cepat Nawal mentransfer sarungnya kepada Angkasa. Karenanya tangaku yang di genggamnya itu bergerak ke sana kemari, sampai sarung tersebut di Angkasa, cowok berkaca mata itu langsung mengalungkan sarungnya kepadaku. Begitupun yang aku lakukan pada Jeje. Dan di akhir Jeje dengan cepat melipat sarungnya, alhasil genggaman ku dengannya dilepaskan, tapi aku masih menggenggam erat tangan besar milik Angkasa.