Pintu rimba Gunung Ahuawali berdiri seperti gerbang sunyi yang menjaga dunia lain—dunia yang tidak mengenal waktu, tidak mengenal hiruk pikuk, hanya mengenal langkah-langkah yang jujur dari para pendaki yang berani masuk ke dalamnya. Saat Rafly dan Imel kembali berdiri di depan gerbang itu, angin yang turun dari cabang-cabang pohon seolah menyambut mereka dengan bahasa yang tidak pernah diajarkan manusia: bahasa ketenangan.
Imel menarik napas panjang. Dalam hening itu, ia merasakan sesuatu yang aneh—campuran antara takut, kagum, dan pasrah. Rafly yang berjalan satu langkah di depannya berhenti dan menoleh.
“Kamu siap masuk?” tanyanya.
Imel menatap mata Rafly. Mata yang sejak awal hubungan mereka terasa seperti rumah: hangat, penuh ruang, dan selalu siap menerima apa pun yang ia bawa, entah itu tawa atau luka.
“Siap,” jawab Imel akhirnya. “Kita masuk bareng, kan?”
Rafly tersenyum kecil. “Kita masuk bareng. Dan keluar bareng.”
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti janji. Dan janji, bagi Imel, selalu memiliki bobot lebih besar dari yang terlihat.
Langkah pertama mereka memasuki rimba membuat udara berubah seketika. Suara desa perlahan hilang, digantikan oleh suara pepohonan yang berdesir di angin. Cahaya matahari tersaring oleh rimbunnya daun-daun besar, menghasilkan pola cahaya lembut yang jatuh di tanah. Rasanya seperti memasuki dunia yang tidak sering dijamah manusia.
Imel memperhatikan tanah yang mereka pijak—masih lembap setelah hujan semalam. Akar-akar pohon menjalar seperti urat nadi yang menjaga kehidupan rimba. Di beberapa titik, mereka harus melangkah lebih hati-hati karena lumut yang menempel membuat tanah licin.
“Fly,” panggil Imel lirih.
“Hm?”
“Boleh kita pelan sedikit? Aku belum bisa nyesuain napas.”
Rafly melambat tanpa protes. “Kita nggak kejar target. Kita nikmatin aja.”
Imel tersenyum tipis. Ia menyukai cara Rafly tidak pernah membuatnya merasa terburu-buru. Dari dulu, Rafly selalu begitu—mengikuti ritme Imel, bahkan ketika ritme itu tidak selalu teratur.
Dalam hati, Imel berkata lirih pada dirinya sendiri: Perjalanan bareng orang yang tepat lebih penting daripada cepat sampai di tujuan.
Jalur kemudian menyempit. Semak-semak lebih rapat, sisi kanan mereka menurun ke lereng kecil yang ditutupi daun kering. Rafly memberi isyarat tangan agar Imel lebih dekat padanya. Imel mengangguk, sedikit merapat.
“Pegang bahu aku kalau butuh,” kata Rafly.
Imel hanya mengangguk, tapi dua detik kemudian tangannya memang menyentuh bahu Rafly. Sentuhan itu membuat Rafly tersenyum dalam diam. Ada rasa yang mengalir—rasa bahwa ia dibutuhkan.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka tiba pada jalur menanjak pertama. Tidak terlalu tinggi, tetapi cukup membuat d**a sedikit sesak ketika langkah tidak teratur.
Imel berhenti sejenak. “Fly, bentar.”
Rafly berbalik cepat. Wajah Imel sedikit memerah karena usaha menahan napas. Rafly mendekat, menepuk pelan bahunya.
“Ambil napas lewat hidung, keluar lewat mulut,” ujarnya pelan, sabar.
Imel mengikutinya. Nafasnya perlahan lebih stabil.
“Kamu bisa,” kata Rafly.
Imel menatapnya, dan ada sesuatu pada tatapan itu—seperti seseorang yang menemukan kekuatan pada seseorang yang tidak pernah memaksakan apa pun.
Beberapa meter kemudian, mereka tiba pada sebuah pohon besar dengan akar yang menyebar ke mana-mana, seperti jari-jari raksasa yang menguasai tanah. Di bawah pohon itu terdapat selembar papan kecil bertuliskan cat dengan tangan:
“Selamat Datang di Pintu Rimba Ahuawali.”
Imel mengusap papan itu dengan ujung jari. “Kenapa rasanya… kayak masuk ke tempat penuh kenangan?”
Rafly tertawa kecil. “Padahal kamu baru pertama kali ke sini.”
“Justru itu… kayak udah kenal lama.”
“Kayak aku?” tanya Rafly menggoda.
Imel memelototi Rafly, tapi pipinya menipiskan warna merah muda. “Kamu tuh ya…”
Rafly menaikkan alis puas. “Aku apa?”
“Bikin deg-degan.”
Rafly mengusap tengkuknya, sedikit gugup karena mendengar kalimat itu dari Imel. “Bagus dong. Biar makin semangat naik.”
Imel pura-pura tidak mendengar, tapi hatinya berdebar keras.
Mereka melanjutkan perjalanan. Di beberapa bagian, jalur terlihat sepi dan seperti tidak pernah dilewati siapa pun. Namun itu bukan masalah bagi Rafly. Ia selalu berjalan dengan waspada, sesekali menyingkirkan ranting agar Imel bisa lewat.
“Fly,” kata Imel pelan setelah lima menit berjalan.
“Hm?”
“Kamu pernah mikir nggak… kalau kita nggak jadi bareng?”
Rafly langsung berhenti. “Mel… kenapa nanyanya gitu?”
“Aku cuma penasaran.”
“Penasaran kenapa?”
Imel menunduk. “Kadang aku ngerasa kamu terlalu baik buat aku.”
Rafly menghela napas, lalu mendekat. “Denger ya, Mel.”
Ia menatap mata Imel dalam-dalam.
“Aku milih kamu bukan karena kamu sempurna. Tapi karena kamu nyata.”
Imel menelan ludah.
Rafly melanjutkan, suaranya pelan namun mantap, “Aku sayang sama kamu bukan buat dibandingin. Bukan buat diukur-ukur. Kalau aku mau sempurna, aku nggak akan milih manusia.”
Imel terkekeh kecil, lalu menutup mulutnya. “Kamu kok ngomongnya kayak penceramah?”
“Biar kamu nggak mikir aneh-aneh,” balas Rafly sambil mengetuk pelan keningnya.
Imel tertawa lirih. Tawa yang membuat perjalanan seberat apa pun terasa ringan.
Setelah hampir setengah jam berjalan, mereka mencapai titik datar kecil dengan batu besar di tengahnya. Rafly meletakkan tasnya dan duduk.
“Kita break sebentar,” katanya.
Imel mengangguk dan ikut duduk. Ia menggoyangkan kakinya untuk melonggarkan otot.
“Fly,” katanya tiba-tiba. “Aku takut bilang sesuatu yang bikin kamu pergi.”
Rafly menoleh cepat. “Mel.”
“Aku serius.”
Rafly menghela napas panjang, lalu mendekat dan berkata:
“Kamu boleh bilang apa pun. Yang nggak akan pernah aku mau denger cuma satu.”
“Apaan?”
“Kamu nyuruh aku pergi.”
Imel terdiam.
Rafly melanjutkan, “Selama kamu masih mau aku di sini… aku nggak kemana-mana.”
Imel menggenggam lututnya, menahan sensasi hangat yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Ada rasa aman yang tidak bisa dijelaskan. Seperti duduk di tengah badai tapi mengetahui seseorang akan memegang tanganmu sampai badai reda.
Tiba-tiba suara burung menggema dari pohon di atas. Imel mendongak, memperhatikan seekor burung kecil yang melompat dari satu ranting ke ranting lain.
“Lihat, Fly,” katanya, menunjuk.
Rafly ikut menatap. “Itu burung murai gunung.”
“Cantik banget…”
“Kayak siapa?” tanya Rafly tanpa malu.
Imel memukul lengannya lagi. “Berhenti gombal.”
“Ini fakta ilmiah,” ucap Rafly bangga. “Semua hal cantik harus diapresiasi.”
Imel menunduk, malu. “Kamu bikin aku salah tingkah.”
“Bagus,” Rafly tersenyum. “Biar aku nggak sendirian yang salah tingkah.”
Imel mendongak dengan mata bulat. “Kamu juga?”
Rafly menggaruk tengkuknya. “Sedikit.”
“Sedikit atau banyak?”
“…Banyak.”
Jawaban itu keluar cepat.
Imel tertawa. “Pantesan dari tadi kamu ngecek aku terus.”
“Aku cuma… takut kamu kelelahan,” kata Rafly cepat.
Imel menatapnya penuh arti. “Nggak usah takut. Aku nggak akan berhenti.”
“Sumpah?” tanya Rafly.
Imel mengangguk mantap. “Sumpah. Selama kamu ada.”
Rafly menggenggam tangan Imel yang dingin karena angin rimba. “Aku ada. Dan akan ada.”
Perjalanan kembali dimulai. Jalur semakin gelap, semakin padat, semakin sunyi. Namun setiap langkah terasa lebih mudah daripada sebelumnya.
Karena ada sesuatu yang berbeda kini di antara mereka:
Bukan hanya tangan yang saling dekat,
tetapi hati yang mulai berjalan dengan ritme yang sama.
Dan di bawah rimbanya Gunung Ahuawali, janji yang diam itu mulai mengakar—pelan, namun pasti.