Aula perjamuan masih riuh dengan bisik-bisik mengenai skandal obat perangsang Lin Mei ketika Han Zihao melangkah mendekati Lin Yue. Pangeran Kedua itu memasang wajah cemas yang dibuat-buat, mencoba meraih simpati di depan para tamu yang masih memperhatikan mereka.
"Yue-er, kau pasti sangat terkejut dengan apa yang dilakukan sepupumu," ucap Han Zihao dengan nada lembut yang dulu selalu membuat jantung Lin Yue berdebar. "Aku tidak menyangka dia seberani itu. Beruntung kau bisa mengungkapnya sebelum ada korban."
Lin Yue menatap wajah pria di depannya. Wajah yang sama yang di kehidupan lalu memerintahkan prajurit untuk mematahkan kakinya. Ia merasakan mual yang hebat, namun ia berhasil menampilkannya sebagai senyum tipis yang misterius.
"Tentu saja, Yang Mulia," jawab Lin Yue tenang. "Keluarga Lin selalu menjunjung tinggi kehormatan. Jika ada noda dalam keluarga, kitalah yang harus pertama kali membersihkannya, bukan?"
Han Zihao sedikit tertegun. Panggilan "Yang Mulia" terasa begitu formal dan jauh dibandingkan "Kak Zihao" yang biasa Lin Yue gunakan. "Kau tampak sangat tenang hari ini, Yue-er. Apakah kau masih marah padaku karena beberapa hari lalu aku terlambat menjemputmu?"
Lin Yue tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar jernih namun dingin. "Marah? Untuk apa? Waktu saya terlalu berharga untuk dihabiskan dengan emosi yang tidak perlu. Lagipula, Pangeran pasti sangat sibuk dengan urusan takhta... atau mungkin dengan wanita-wanita lain yang lebih 'menarik'?"
Han Zihao mengerutkan kening. Ia merasa ada yang salah. Lin Yue yang ia kenal biasanya akan merajuk atau justru meminta maaf karena sudah berpikiran buruk. Namun Lin Yue yang sekarang seolah-olah bisa melihat menembus setiap kebohongannya.
"Yue-er, jangan bicara seperti itu. Kau tahu di hatiku hanya ada kau," Han Zihao mencoba merendahkan suaranya, mencoba merayu.
"Benarkah?" Suara lain menyela.
Itu adalah Yan de Jun. Pangeran Yan berjalan mendekat dengan langkah tegap, mengabaikan protokol keramah-tamahan kepada saudaranya sendiri. Ia berdiri di samping Lin Yue, seolah sengaja membuat jarak antara Lin Yue dan Han Zihao.
"Sepertinya Pangeran Kedua terlalu sibuk berbicara sampai tidak sadar bahwa musik sudah berganti," sindir Yan de Jun. Mata elangnya menatap Han Zihao dengan provokasi yang nyata. "Nona Lin, apakah Anda bersedia memberikan tarian berikutnya kepada saya? Saya rasa tarian pedang tadi hanya pemanasan bagi Anda."
Aula mendadak sunyi. Pangeran Yan, sang Dewa Perang yang tidak pernah berdansa dengan wanita mana pun di istana, baru saja meminta tarian dari tunangan saudaranya sendiri. Ini adalah tantangan terbuka.
Han Zihao mengepalkan tangannya. "Kakak Pangeran Yan, Yue-er adalah tunanganku. Bukankah tidak sopan jika kau..."
"Aku bertanya pada Nona Lin, bukan padamu," potong Yan de Jun tajam.
Lin Yue menatap kedua pria itu. Di kehidupan lalu, ia akan gemetar ketakutan melihat ketegangan ini. Tapi sekarang? Ini adalah peluang. Jika ia ingin menghancurkan Han Zihao, ia butuh perlindungan dari Yan de Jun.
"Tentu saja, Pangeran Yan," ucap Lin Yue sambil meletakkan tangannya di telapak tangan Yan de Jun yang hangat dan kasar karena bekas memegang senjata. "Saya akan merasa sangat terhormat."
Lin Yue membiarkan Yan de Jun membimbingnya ke tengah lantai dansa, meninggalkan Han Zihao yang berdiri mematung dengan wajah merah padam karena menahan amarah. Di bawah lampu kristal aula, Lin Yue berbisik sangat pelan di dekat bahu Yan de Jun.
"Anda sangat suka membuat kekacauan, Pangeran."
"Aku hanya suka mempercepat permainan yang membosankan," balas Yan de Jun sambil mengeratkan pegangannya pada pinggang Lin Yue. "Sekarang katakan padaku, Nona Lin. Setelah kau mempermalukan sepupumu, apa langkahmu selanjutnya? Karena singa yang kau lukai tadi tidak akan diam saja."
Lin Yue menatap mata Yan de Jun dengan berani. "Aku tidak hanya akan melukainya, Pangeran. Aku akan membiarkan dia menguliti dirinya sendiri sampai tidak ada lagi yang tersisa."
Tarian itu berlangsung lama, namun bagi mereka yang menyaksikan, itu seperti melihat dua kekuatan besar yang sedang menjalin aliansi berbahaya. Lin Yue tahu, mulai malam ini, namanya tidak akan pernah lagi dikaitkan dengan kata "lemah".
Lantai dansa itu terasa seperti medan perang yang sunyi. Saat musik dawai mulai mengalun dengan tempo yang lebih lambat dan elegan, Lin Yue bisa merasakan tatapan tajam Han Zihao yang menghujam punggungnya. Namun, ia tidak peduli. Fokusnya kini sepenuhnya tertuju pada pria yang memegang pinggangnya dengan protektif ini.
Yan de Jun tidak menari seperti bangsawan pada umumnya yang bergerak kaku demi menjaga citra. Gerakannya luwes namun bertenaga, mencerminkan sosok yang terbiasa mengendalikan situasi hidup dan mati.
"Kau bernapas terlalu cepat, Nona Lin," bisik Yan de Jun tepat di telinga Lin Yue, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Apakah kau takut padaku, atau kau sedang menahan amarah yang hampir meledak?"
Lin Yue mendongak, menatap mata hitam Yan de Jun yang sedalam palung laut. "Saya tidak takut pada pria yang menawarkan pedang, Pangeran. Saya hanya sedang menghitung sisa waktu yang dimiliki musuh-musuh saya sebelum matahari terbit."
Yan de Jun sedikit mengeratkan dekapannya, membawa tubuh Lin Yue lebih dekat hingga aroma kayu cendana dari jubahnya menyelimuti indra penciuman Lin Yue. "Sangat ambisius. Tapi kau harus tahu, Han Zihao bukan orang yang mudah menyerah. Dia mencintaimu... atau setidaknya, dia mencintai dukungan yang diberikan keluargamu padanya. Kau baru saja melukai harga dirinya di depan umum."
"Biarkan saja dia terluka," sahut Lin Yue dengan nada yang sangat dingin hingga mampu membekukan air anggur. "Luka di harga dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang akan aku lakukan pada hidupnya. Dia berpikir bahwa dia bisa menjinakkan aku seperti burung dalam sangkar emas. Dia lupa bahwa burung yang dia tangkap sebenarnya adalah seekor elang yang sedang menyembunyikan cakarnya."
Di sisi lain aula, Han Zihao meminum cawan anggurnya dengan kasar. Matanya memerah melihat pemandangan di depannya. Baginya, Lin Yue adalah miliknya aset berharga yang akan membawanya ke takhta. Melihat Lin Yue berada dalam pelukan Yan de Jun, pria yang paling ia takuti sekaligus ia benci, adalah penghinaan terbesar.
"Yue-er, kau bermain api," geram Han Zihao dalam hati. Ia memberi isyarat kecil kepada pengawalnya yang berdiri di bayang-bayang pilar. Sebuah perintah bisu diberikan: Pastikan dia tahu siapa tuannya setelah perjamuan ini berakhir.
Kembali di lantai dansa, Lin Yue menyadari kilatan mata Han Zihao. Ia tahu pria itu sedang merencanakan sesuatu. Dalam ingatan masa lalunya, Han Zihao sering menggunakan taktik 'pahlawan kesiangan' menciptakan bahaya palsu agar bisa menyelamatkan Lin Yue dan mendapatkan kembali kepercayaannya.
"Pangeran Yan," ucap Lin Yue, suaranya kini lebih lembut namun penuh penekanan. "Jika malam ini ada 'tamu tak diundang' yang mencegat kereta saya dalam perjalanan pulang, apakah Anda akan tetap menjadi penonton, atau Anda ingin ikut serta dalam tarian yang lebih berdarah?"
Yan de Jun berhenti sejenak, menatap Lin Yue dengan senyum miring yang mematikan. "Kau memintaku untuk menjadi pengawal pribadimu? Nona Lin, bayaranku sangat mahal."
"Saya tidak meminta pengawal. Saya menawarkan hiburan," balas Lin Yue berani. "Bukankah Dewa Perang merasa bosan dengan kedamaian palsu di istana ini?"
Yan de Jun tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar sangat jantan dan berbahaya. "Baiklah. Aku akan mengikuti keretamu dari kejauhan. Kita lihat, apakah serigala kecil seperti Han Zihao benar-benar berani mengeluarkan taringnya malam ini."
Musik berakhir dengan satu dentuman kecapi yang dramatis. Lin Yue menarik tangannya dari Yan de Jun dan memberi hormat dengan sangat anggun. Ia bisa merasakan aura kekuasaan yang terpancar dari dirinya kini mulai diakui oleh para tamu lain. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai gadis yang bisa dirundung, melainkan sebagai sosok misterius yang memiliki dukungan dari sang Dewa Perang.
Lin Yue berjalan kembali menuju tempat duduknya, melewati Han Zihao tanpa menoleh sedikit pun. Keheningan mengikuti langkahnya. Ia tahu, babak baru dalam rencana balas dendamnya telah dimulai. Jika Lin Mei adalah pembuka, maka Han Zihao adalah hidangan utamanya.
"Mari kita lihat," gumam Lin Yue saat ia duduk kembali di kursinya, matanya berkilat di balik bulu matanya yang lentik. "Siapa yang akan menjadi mangsa, dan siapa yang akan menjadi pemburu malam ini."