Kereta kuda keluarga Lin bergerak meninggalkan kediaman Perdana Menteri saat rembulan sudah mencapai puncaknya. Suara roda kayu yang menggilas jalanan berbatu menjadi satu-satunya melodi di tengah keheningan malam yang mencekam. Di dalam kereta, Lin Yue duduk dengan punggung tegak, jemarinya meraba belati kecil yang ia sembunyikan di dalam lipatan lengan bajunya yang lebar.
Xiao Mei, yang duduk di hadapannya, tampak gelisah. Wajah pelayan kecil itu pucat pasi. "Nona Muda, kenapa Anda meminta kusir untuk mengambil jalan pintas melalui Hutan Bambu Hitam? Bukankah jalan itu terkenal rawan dengan perampok?"
Lin Yue menatap keluar jendela, ke arah pepohonan yang bergerak mundur tertutup kegelapan. "Karena hanya di tempat gelaplah tikus-tikus akan berani keluar dari lubangnya, Xiao Mei. Jika kita lewat jalan utama, Han Zihao tidak akan punya keberanian untuk beraksi."
"Maksud Anda... Pangeran Kedua akan mencelakai kita?" suara Xiao Mei bergetar.
Lin Yue tersenyum dingin. Di kehidupan sebelumnya, Han Zihao mengatur serangan di jalan ini agar dia bisa muncul sebagai "penyelamat" dan menghapus keraguan Lin Yue. Itu adalah taktik pengecut yang dulu membuatnya sangat terharu hingga bersedia menyerahkan segalanya. Tapi kali ini, naskahnya telah diubah.
Tiba-tiba, suara kuda meringkik keras memecah kesunyian. Kereta berhenti mendadak hingga Xiao Mei terjerembap ke lantai.
Srak! Srak!
Anak panah melesat menembus dinding kayu kereta, hanya berjarak beberapa inci dari kepala Lin Yue. "Turun, Xiao Mei! Berlindung di bawah kursi!" perintah Lin Yue tegas.
Di luar, suara dentingan pedang mulai terdengar. Lin Yue menyibak tirai kereta dan melihat lima pria berpakaian serba hitam, wajah mereka tertutup kain, sedang mengepung kereta. Kusir mereka sudah melarikan diri ketakutan.
"Nona Lin Yue, turunlah dengan damai jika tidak ingin kulit mulusmu tergores," salah satu pria itu mendesis, suaranya sengaja dibuat serak.
Lin Yue melangkah turun dari kereta dengan tenang, jubah merahnya berkibar tertiup angin malam. Ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, yang membuat para penyerang itu bingung sejenak.
"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Lin Yue datar. "Han Zihao? Berapa dia membayar kalian untuk sandiwara murah ini? Aku akan memberikan dua kali lipat jika kalian mau memotong lidah pria yang memberi kalian perintah."
Para pria berbaju hitam itu saling pandang. Mereka tidak menyangka target mereka begitu berani. "Jangan banyak bicara! Tangkap dia!"
Saat salah satu pria maju untuk mencengkeram bahu Lin Yue, sebuah kilatan perak melesat dari kegelapan hutan.
Jleb!
Sebuah anak panah berbulu hitam menancap tepat di tenggorokan pria itu. Ia ambruk seketika tanpa sempat bersuara. Empat pria lainnya terkesiap, mereka segera memasang posisi siaga.
Dari balik bayang-bayang pohon bambu, seorang pria muncul dengan menunggangi kuda hitam legam. Yan de Jun. Sang Pangeran Yan memegang busur besar di tangannya, matanya berkilat penuh haus darah di bawah cahaya bulan.
"Sepertinya aku datang tepat waktu untuk melihat bagaimana elang kecil menghadapi tikus selokan," ucap Yan de Jun dengan nada meremehkan.
"Pangeran Yan! Ini bukan urusanmu! Pergi atau kau juga akan mati!" teriak pemimpin penyerang itu, meski suaranya terdengar gemetar.
Yan de Jun tertawa rendah, suara yang mengirimkan getaran dingin ke tulang belakang siapa pun yang mendengarnya. "Membunuhku? Bahkan sepuluh ribu prajurit di perbatasan tidak mampu melakukannya, apalagi sampah seperti kalian."
Tanpa peringatan, Yan de Jun melompat dari kudanya. Gerakannya begitu cepat hingga mata manusia sulit mengikutinya. Dalam sekejap, pedang panjangnya sudah terhunus. Lin Yue menonton dengan mata tidak berkedip saat Yan de Jun menari di antara musuh-musuhnya. Itu bukan sekadar pertarungan; itu adalah p*********n yang artistik. Darah memercik ke batang-batang bambu hijau, mengubahnya menjadi pemandangan yang mengerikan sekaligus memukau.
Hanya dalam hitungan menit, semua penyerang tewas, menyisakan pemimpin mereka yang kini bersimpuh dengan kaki terluka. Yan de Jun menginjak d**a pria itu dengan sepatu botnya yang berat.
"Katakan pada tuanmu," Yan de Jun berbisik tajam, "bahwa mulai malam ini, Lin Yue berada di bawah perlindunganku. Jika dia menyentuh sehelai rambutnya lagi, aku akan meratakan kediamannya dengan tanah."
Yan de Jun mengayunkan pedangnya, memotong telinga pria itu sebagai peringatan, lalu membiarkannya merangkak pergi untuk melapor.
Setelah suasana sunyi kembali, Yan de Jun berbalik ke arah Lin Yue. Ia berjalan mendekat, membersihkan noda darah di pedangnya menggunakan ujung kain jubahnya sendiri. Ia berhenti tepat di depan Lin Yue, sangat dekat hingga Lin Yue bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan bau besi darah.
"Kau tidak berteriak," Yan de Jun mengamati wajah Lin Yue. "Bahkan saat darah memercik ke gaunmu, matamu tidak berkedip. Kau benar-benar wanita yang menyeramkan, Lin Yue."
Lin Yue menyentuh noda darah di pipinya, lalu menatap Yan de Jun dengan senyum miring. "Bukankah Anda bilang menyukai hiburan, Pangeran? Apakah pertunjukan tadi cukup memuaskan bagi Anda?"
Yan de Jun menjangkau dagu Lin Yue, mengangkatnya agar mata mereka bertemu. "Sangat memuaskan. Tapi ingat, perlindunganku tidak gratis. Sekarang kau berhutang nyawa padaku."
"Saya tahu cara membayar hutang, Pangeran Yan. Dan saya yakin, apa yang bisa saya berikan pada Anda jauh lebih berharga daripada sekadar nyawa," balas Lin Yue tanpa gentar.
Di bawah langit malam yang menjadi saksi bisu, aliansi berdarah antara sang permaisuri yang bangkit kembali dan sang Dewa Perang telah terkunci. Han Zihao baru saja melakukan kesalahan terbesarnya, dan ia akan segera menyadari bahwa ia bukan lagi pemburu di hutan ini.
Yan de Jun masih mencengkeram dagu Lin Yue, seolah sedang mencari retakan di balik topeng ketenangan gadis itu. Hening malam di Hutan Bambu Hitam kini hanya diisi oleh suara napas mereka yang saling memburu. Aroma darah yang amis perlahan memudar, tertutup oleh aroma kayu cendana yang kuat dari tubuh sang Pangeran.
"Kau bicara seolah-olah hidupmu tidak memiliki nilai, Nona Lin," bisik Yan de Jun, suaranya kini lebih rendah, hampir seperti geraman. "Apakah kau begitu yakin aku tidak akan membunuhmu di sini sekarang juga?"
Lin Yue menatap balik ke dalam manik mata Yan de Jun yang gelap. "Jika Anda ingin membunuh saya, Anda tidak akan membuang-buang anak panah untuk menyelamatkan saya tadi. Pangeran Yan adalah orang yang efisien. Anda tidak melakukan sesuatu tanpa tujuan."
Yan de Jun melepaskan cengkeramannya perlahan, jemarinya sempat mengusap sisa darah yang mengering di pipi Lin Yue. "Cerdas. Tapi kecerdasan di istana ini sering kali berakhir menjadi bumerang."
Lin Yue tidak menjawab. Ia melangkah menuju salah satu mayat penyerang yang tergeletak di dekat roda kereta. Dengan tenang, ia menggunakan ujung belatinya untuk menyibak pakaian pria itu. Ia mencari sesuatu sebuah tanda yang ia ingat betul dari kehidupan masa lalunya.
Di balik lipatan kain di area pinggang mayat tersebut, Lin Yue menemukan sebuah koin perak kecil dengan ukiran bunga prem yang samar. Matanya berkilat penuh kemenangan yang pahit.
"Lihat ini, Pangeran," Lin Yue mengangkat koin itu di bawah sinar rembulan. "Koin perak khusus milik kediaman Pangeran Kedua. Han Zihao benar-benar ceroboh. Dia pikir aku masih gadis bodoh yang tidak akan memeriksa mayat-mayat ini setelah dia datang sebagai 'penyelamat'."
Yan de Jun mendekat, melihat koin itu lalu mendengus meremehkan. "Dia tidak ceroboh. Dia hanya terlalu percaya diri bahwa kau akan pingsan ketakutan saat melihat pedang terhunus. Dia meremehkanmu, Lin Yue. Itu adalah kesalahan fatal pertamanya."
"Dan itu akan menjadi kesalahan terakhirnya," sahut Lin Yue sambil mengepalkan koin itu erat-erat hingga pinggirannya yang tajam menusuk telapak tangannya. Rasa sakit itu justru membuatnya merasa hidup. Ia melemparkan koin itu ke arah Yan de Jun, yang dengan sigap menangkapnya di udara.
"Simpanlah itu, Pangeran. Anggap saja itu adalah bukti pertama bagi aliansi kita. Jika saatnya tiba, koin kecil ini akan menjadi paku terakhir di peti mati Han Zihao."
Yan de Jun memasukkan koin itu ke dalam sakunya, lalu menatap kereta kuda Lin Yue yang kini berlubang karena anak panah. "Keretamu sudah hancur. Kau tidak bisa pulang dengan benda ini tanpa memancing kecurigaan bahwa serangan ini gagal. Han Zihao pasti sudah menunggu di gerbang kota dengan wajah penuh simpati palsu."
Lin Yue terdiam. Yan de Jun benar. Jika ia pulang dengan kereta ini, Han Zihao akan tahu bahwa ada pihak ketiga yang campur tangan.
"Lalu, apa saran Anda, Pangeran?"
Yan de Jun bersiul pendek. Kuda hitam legamnya mendekat perlahan. "Kau akan naik bersamaku. Kita akan lewat jalan setapak di balik bukit dan masuk melalui gerbang samping. Biarkan pengawalmu yang ketakutan itu membawa kereta kosong ini kembali besok pagi dengan alasan roda patah."
Lin Yue ragu sejenak. Naik kuda berdua dengan pria paling berbahaya di kekaisaran bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh putri bangsawan. Namun, di dunia yang penuh dengan darah ini, reputasi adalah hal terakhir yang ia khawatirkan.
"Baiklah," ucap Lin Yue singkat.
Yan de Jun menarik tangan Lin Yue dengan satu gerakan kuat, mengangkatnya duduk di depan pelana. Lin Yue bisa merasakan punggungnya bersandar langsung pada d**a bidang Yan de Jun yang keras seperti baja. Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, Lin Yue merasa... terlindungi. Bukan perlindungan palsu yang penuh tipu daya seperti yang ditawarkan Han Zihao, melainkan perlindungan yang murni berasal dari kekuatan.
"Pegang erat-erat, Nona Lin," bisik Yan de Jun di dekat telinganya saat ia memacu kudanya menembus kegelapan hutan. "Malam ini baru saja dimulai, dan jalanan menuju takhta jauh lebih bergelombang daripada hutan ini."
Lin Yue memejamkan mata sesaat, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Di balik kegelapan yang menyelimuti mereka, ia tahu bahwa ia telah melintasi garis yang tak bisa ditarik kembali. Ia telah menggandeng tangan iblis untuk menghancurkan iblis lainnya. Dan baginya, itu adalah harga yang pantas untuk sebuah pembalasan dendam.