Kuda hitam Yan de Jun berhenti dengan tenang di depan pintu gerbang samping kediaman Jenderal Lin. Suasana di sana sunyi, hanya ada cahaya obor yang bergoyang tertiup angin. Yan de Jun turun terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya yang kokoh untuk membantu Lin Yue turun.
"Ingat, Lin Yue," bisik Yan de Jun saat kaki Lin Yue menyentuh tanah. "Begitu kau melangkah masuk, kau tidak boleh lagi menunjukkan kelemahan. Ayahmu adalah seorang prajurit; dia akan mencium bau ketakutan lebih cepat daripada bau musuh."
Lin Yue merapikan jubah merahnya yang kini ternoda beberapa tetes darah kering. "Saya tidak akan mengecewakan sekutu saya, Pangeran. Dan saya tidak akan membiarkan ayah saya dikubur dalam kehinaan untuk kedua kalinya."
Yan de Jun mengangguk singkat, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam secepat dia datang. Lin Yue menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya, dan melangkah masuk.
Di aula utama, ia menemukan ayahnya, Jenderal Lin Tian, sedang duduk membelakangi pintu sambil menatap peta militer. Bahunya yang lebar tampak kokoh, namun Lin Yue tahu, dalam waktu dua tahun di kehidupan sebelumnya, bahu itulah yang menopang seluruh beban fitnah hingga akhirnya patah.
"Yue-er? Kenapa kau masuk lewat pintu samping? Dan di mana keretamu?" Jenderal Lin berbalik, matanya yang tajam langsung menangkap noda merah di jubah putrinya. "Darah? Apa yang terjadi?!"
Lin Yue langsung berlutut di hadapan ayahnya. "Ayah, ampuni ketidaksopanan saya. Kereta kita diserang di Hutan Bambu Hitam."
Jenderal Lin menggebrak meja hingga cangkir tehnya terguling. "Siapa yang berani menyentuh putri Jenderal Lin?! Apakah itu perampok?"
"Bukan perampok, Ayah," Lin Yue mendongak, matanya berkilat dingin. "Itu adalah serigala berbaju pangeran. Han Zihao mengirim mereka untuk menculik saya, agar dia bisa muncul sebagai penyelamat. Dia ingin menggunakan saya untuk mengikat kesetiaan militer Ayah pada ambisinya."
Jenderal Lin terdiam membeku. Ia tidak menyangka putrinya yang selama ini lembut dan pemalu bisa bicara setegas itu tentang Pangeran Kedua. "Kau punya bukti? Ini tuduhan yang sangat serius, Yue-er."
Lin Yue mengeluarkan koin perak yang diberikan Yan de Jun tadi. "Koin ini ditemukan di salah satu mayat penyerang. Dan jika Ayah tidak percaya, tunggulah sampai besok pagi. Han Zihao pasti akan datang ke sini dengan wajah penuh kekhawatiran palsu, mencoba mencari tahu kenapa 'penyelamatannya' gagal."
Jenderal Lin mengambil koin itu, meremasnya hingga jemarinya memutih. Amarah mulai membara di wajahnya yang mulai menua. "Beraninya dia... Dia menganggap keluarga Lin sebagai alat politiknya!"
"Ayah," Lin Yue memegang tangan ayahnya. "Jangan marah secara terang-terangan dulu. Kita harus bermain cantik. Biarkan dia berpikir kita masih di pihaknya, sementara kita mulai memindahkan kekuatan militer kita dari bawah pengaruhnya. Aku tidak akan membiarkan keluarga kita menjadi batu loncatan bagi seorang pengkhianat."
Jenderal Lin menatap putrinya dengan tatapan haru. Seolah-olah gadis di depannya ini bukanlah Lin Yue yang dia kenal. "Sejak kapan kau menjadi begitu... dewasa, Yue-er?"
Lin Yue tersenyum pahit. "Sejak aku menyadari bahwa di dunia ini, kebaikan tanpa taring hanyalah hidangan bagi para pemangsa."
Malam itu, ayah dan anak itu berbicara hingga fajar menyingsing. Lin Yue memberikan detail-detail strategis yang ia ingat dari masa depan tentang siapa saja pejabat yang bisa dipercaya dan siapa yang sudah dibeli oleh Han Zihao. Tanpa disadari, Lin Yue sudah mulai menulis ulang sejarah.
Keesokan paginya, seperti yang sudah diprediksi, suara gaduh terdengar di depan kediaman. Han Zihao datang dengan tergesa-gesa, wajahnya tampak sangat cemas.
"Jenderal Lin! Lin Yue! Kudengar ada masalah dengan kereta kalian semalam!" seru Han Zihao saat memasuki aula.
Lin Yue muncul dari balik tirai, mengenakan pakaian sutra biru langit yang tampak sangat tenang dan polos, seolah kejadian semalam hanyalah mimpi buruk yang sudah ia lupakan.
"Yang Mulia Pangeran Kedua," sapa Lin Yue dengan hormat yang sangat sempurna namun terasa berjarak. "Masalah? Maksud Anda roda kereta yang patah? Terima kasih atas perhatiannya, tapi Pangeran Yan sudah sangat berbaik hati mengantarkan saya pulang dengan selamat."
Wajah Han Zihao berubah menjadi kaku. Nama Yan de Jun disebut seperti tamparan di wajahnya. "Pangeran... Yan? Kenapa dia yang mengantarmu?"
"Karena dia ada di sana saat perampok-perampok itu 'kebetulan' muncul, Yang Mulia," sahut Lin Yue sambil melangkah mendekat, menatap langsung ke mata Han Zihao. "Sangat aneh, bukan? Seolah-olah ada seseorang yang membocorkan rute saya. Tapi jangan khawatir, Pangeran Yan sudah membereskan semuanya... termasuk memotong lidah mereka agar tidak bisa bicara sembarangan."
Han Zihao menelan ludah. Ia bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Tatapan Lin Yue tidak lagi berisi kekaguman, melainkan sebuah tantangan yang mengerikan.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Lin Yue memegang semua kartu as.
Han Zihao mencoba mendekati Lin Yue, tangannya terulur ingin menyentuh bahu gadis itu, namun Lin Yue bergeser satu langkah ke samping dengan sangat halus.
"Yang Mulia, tolong jaga sikap Anda. Kita berada di kediaman Jenderal, bukan di taman belakang istana," ujar Lin Yue dengan suara yang cukup keras hingga para pengawal bisa mendengarnya.
Wajah Han Zihao memerah karena malu. "Yue-er, kenapa kau begitu dingin? Semalam aku hampir gila karena mengkhawatirkanmu. Aku bahkan tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatanku."
"Oh? Jika Yang Mulia begitu khawatir, bukankah seharusnya Anda mengirimkan pasukan elit untuk mengawal saya? Kenapa justru Pangeran Yan yang 'kebetulan' lewat dan menyelamatkan saya?" Lin Yue melemparkan senyum yang penuh ejekan.
Jenderal Lin yang sedari tadi hanya diam, kini melangkah maju. "Pangeran Kedua, putri saya sedang lelah. Jika tidak ada urusan militer yang mendesak, saya mohon Anda memberi kami ruang untuk beristirahat."
Ini adalah pertama kalinya Jenderal Lin mengusir Han Zihao secara halus. Pangeran itu terperangah. Ia sadar ada yang berubah dari keluarga Lin, tapi ia belum bisa menebak sejauh mana rahasianya telah terbongkar.
"Baiklah... kalau begitu aku pamit," Han Zihao berkata dengan nada kesal, namun matanya tetap menatap Lin Yue dengan penuh selidik. "Kita akan bicara lagi nanti, Yue-er. Jangan lupakan janji kita."
Setelah Han Zihao pergi, Lin Yue langsung terduduk lemas di kursi kayu jati. "Ayah, ini baru permulaan. Dia akan mencari cara lain untuk menjatuhkan kita karena dia merasa kehilangan kendali atas diri saya."
"Apa rencanamu selanjutnya, Putriku?" tanya Jenderal Lin dengan nada bangga sekaligus cemas.
Lin Yue menatap ke arah jendela yang menampilkan langit mendung. "Kita butuh sekutu yang sah. Ayah harus mulai menjalin komunikasi lebih intens dengan Pangeran Yan. Jika kita ingin menjatuhkan serigala, kita butuh bantuan sang singa."