Udara pagi di kediaman Jenderal Lin terasa sangat mencekam. Lin Yue berdiri di depan jendela kamarnya, menatap dedaunan yang gugur tertiup angin dingin. Di tangannya, ia meremas sebuah surat kecil dengan stempel bunga teratai hitam tanda rahasia dari Yan de Jun yang dikirim melalui jalur belakang.
"Nona, apakah Anda benar-benar yakin akan pergi menemui Pangeran Yan?" Xiao Mei bertanya dengan suara bergetar sambil merapikan jubah biru tua milik Lin Yue. "Pangeran Kedua pasti telah menempatkan mata-mata di setiap sudut gerbang rumah ini setelah kejadian semalam."
Lin Yue menoleh, sorot matanya tajam seperti ujung pedang. "Justru karena dia mengawasi, aku harus bergerak lebih cepat, Xiao Mei. Han Zihao mengira aku sedang bersembunyi ketakutan di bawah selimut. Dia tidak tahu bahwa aku sedang menenun jaring untuk menjerat lehernya sendiri."
Dengan bantuan dua pengawal paling setia ayahnya yang sudah dilatih khusus untuk bergerak dalam bayangan, Lin Yue berhasil menyelinap keluar melalui terowongan air tua di paviliun belakang. Ia tidak menggunakan kereta kuda keluarga agar tidak menarik perhatian. Dengan mengenakan caping bambu yang menutupi separuh wajahnya, ia berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit ibu kota menuju sebuah kedai teh tersembunyi yang dikenal sebagai Paviliun Teratai.
Kedai itu tampak tenang di luar, namun di dalamnya adalah pusat informasi paling berbahaya di kekaisaran. Lin Yue menaiki tangga kayu yang berderit menuju lantai dua. Di sebuah ruangan paling pojok yang menghadap langsung ke arah danau berkabut, Yan de Jun sudah menunggu.
Pangeran itu duduk dengan posisi santai namun waspada, tangannya memainkan cangkir teh porselen yang masih mengepul. "Kau terlambat dua belas ketukan jantung, Nona Lin. Apakah mata-mata Han Zihao begitu merepotkan, atau kau sedang ragu untuk melangkah ke sarang iblis?"
Lin Yue melepas capingnya, membiarkan rambut hitamnya terurai indah. Ia duduk di hadapan Yan de Jun tanpa rasa canggung sedikit pun. "Mata-mata itu hanya kerikil kecil. Menghindari mereka bukan masalah, yang menjadi masalah adalah menentukan apakah pria di depan saya ini benar-benar bisa diandalkan sebagai pedang, atau justru akan menjadi bumerang."
Yan de Jun terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat maskulin namun penuh ancaman. "Aku adalah pedang yang hanya akan menebas jika ada keuntungan yang setimpal. Jadi, informasi apa yang kau bawa hingga berani mempertaruhkan nyawamu untuk keluar rumah sepagi ini?"
Lin Yue mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya merendah namun sangat jelas. "Bulan depan, saat perayaan musim gugur, Han Zihao akan mengirimkan kiriman gandum dalam jumlah besar ke wilayah perbatasan utara. Di permukaan, itu tampak seperti bantuan untuk rakyat yang kelaparan. Namun, di bawah karung-karung gandum itu, tersimpan ribuan batangan baja hitam yang dicuri dari gudang persenjataan kekaisaran."
Mata Yan de Jun yang biasanya dingin kini berkilat penuh minat. "Baja hitam... bahan utama untuk membuat senjata kualitas tinggi. Jika dia berhasil membawa itu ke perbatasannya sendiri, dia bisa membangun pasukan pribadi yang mampu mengguncang takhta dalam semalam."
"Tepat sekali," sahut Lin Yue. "Dia bekerja sama dengan Pejabat Wang dari Kementerian Persenjataan. Han Zihao berencana menyuap para penjaga gerbang agar tidak memeriksa muatan tersebut. Jika Anda bisa mencegat pengiriman itu tepat di perbatasan kota, Han Zihao tidak akan punya ruang untuk mengelak. Itu adalah bukti pengkhianatan nyata."
Yan de Jun meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi denting yang keras. "Informasimu sangat detail, seolah-olah kau sendiri yang ikut merencanakannya. Katakan padaku, Lin Yue, dari mana gadis pingitan sepertimu tahu tentang pergerakan logistik militer yang sangat rahasia ini?"
Lin Yue terdiam sejenak. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia tahu karena di kehidupan sebelumnya ia sendirilah yang membantu Han Zihao memalsukan dokumen pengiriman tersebut. "Anggap saja ini adalah penglihatan dari mimpi buruk yang menjadi nyata, Pangeran. Saya tidak butuh Anda mempercayai sumber saya, saya hanya butuh Anda membuktikan kebenarannya."
Yan de Jun menatap Lin Yue dengan sangat intens, mencoba mencari kebohongan di mata gadis itu, namun ia hanya menemukan dendam yang membara. "Baiklah. Aku akan mengirim orang-orangku untuk memantau Pejabat Wang. Jika apa yang kau katakan benar, aku akan memberikan apa pun yang kau minta."
"Saya hanya minta satu hal," Lin Yue berdiri, mengenakan kembali capingnya. "Pastikan saat pengiriman itu tertangkap, nama keluarga Lin tidak terseret sedikit pun. Saya ingin Han Zihao hancur sendirian di lubang yang dia gali sendiri."
Saat Lin Yue hendak berbalik pergi, Yan de Jun tiba-tiba menahan pergelangan tangannya. Pegangannya kuat dan hangat. "Hati-hati di jalan pulang, Lin Yue. Han Zihao mulai curiga. Dan ingat, jika kau berbohong padaku, tidak akan ada tempat di kekaisaran ini yang bisa menyembunyikanmu dari pedangku."
Lin Yue menatap tangan Yan de Jun, lalu menatap wajah pria itu dengan senyum miring yang berani. "Jika saya berbohong, saya sendiri yang akan mengantarkan leher saya ke meja makan Anda, Pangeran. Sampai jumpa di malam perayaan musim gugur."
Yan de Jun tidak segera melepaskan tangan Lin Yue. Matanya yang tajam seolah sedang menelanjangi setiap lapisan rencana yang ada di kepala gadis itu. "Kau bilang kau tidak takut pada iblis, Lin Yue. Tapi tahukah kau bahwa iblis yang paling berbahaya bukanlah yang menusukmu dari depan, melainkan yang memberimu perlindungan namun meminta jiwamu sebagai bayaran?"
Lin Yue tidak gentar. Ia justru mendekatkan wajahnya ke arah Yan de Jun, hingga aroma kayu cendana dari jubah pangeran itu terhirup olehnya. "Jiwa saya sudah hancur di atas salju semalam, Pangeran. Yang tersisa sekarang hanyalah wadah kosong yang didorong oleh api pembalasan. Jika Anda menginginkan wadah ini sebagai bayaran, ambillah, asalkan Han Zihao kehilangan segalanya."
Lin Yue menarik tangannya dan
Yan de Jun perlahan melepaskan cengkeramannya. Ada secercah kekaguman atau mungkin rasa penasaran yang berbahaya di balik wajah datarnya. "Kau sangat berbeda dari rumor yang kudengar. Mereka bilang putri Jenderal Lin adalah mawar yang rapuh. Ternyata kau adalah duri yang sudah dicelup racun."
"Dunia ini tidak ramah pada mawar yang rapuh, Pangeran," jawab Lin Yue sambil mengenakan caping bambunya kembali.
Lin Yue melangkah keluar dari ruangan itu. Dan menghilang di balik tirai bambu, meninggalkan Yan de Jun yang masih terpaku menatap sisa teh di cangkir Lin Yue. Bagi Yan de Jun, Lin Yue bukan lagi sekadar putri jenderal yang lemah; dia adalah badai yang akan menyapu bersih seluruh kotoran di istana.
Namun, saat Lin Yue baru saja mencapai tangga kayu Paviliun Teratai, indra pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki yang berat dan teratur di bawah. Itu bukan langkah kaki pengunjung kedai teh biasa. Itu adalah langkah kaki prajurit yang sedang menyisir area.
"Celaka," batin Lin Yue. "Mata-mata Han Zihao bergerak lebih cepat dari dugaanku."
Ia segera berbalik kembali ke arah Yan de Jun. Pangeran itu masih duduk di posisinya, seolah sudah tahu apa yang terjadi.
"Mereka di bawah, bukan?" tanya Yan de Jun dengan nada santai, seolah-olah keselamatan Lin Yue bukan urusannya.
"Anda harus membantu saya keluar dari sini, Pangeran. Jika saya tertangkap di sini bersamamu, rencana kita berakhir sebelum dimulai," bisik Lin Yue dengan nada mendesak.
Yan de Jun berdiri, sosoknya yang tinggi besar membayangi Lin Yue. "Aku tidak suka membantu tanpa alasan. Tapi, melihat wajah panik Han Zihao saat ia kehilangan jejakmu adalah hiburan yang menarik."
Tanpa peringatan, Yan de Jun menarik pinggang Lin Yue dan membawanya menuju jendela belakang yang menghadap langsung ke danau. Sebelum Lin Yue sempat protes, Yan de Jun sudah melompat keluar jendela sambil mendekapnya erat. Angin dingin menerpa wajah Lin Yue saat mereka melayang di udara sesaat sebelum mendarat dengan sangat halus di atas sebuah perahu kecil yang sudah menunggu di bawah bayang-bayang paviliun.
Di kejauhan, terdengar suara gebrakan pintu di lantai dua paviliun. Anak buah Han Zihao baru saja memasuki ruangan yang kosong.
Yan de Jun melepaskan dekapannya setelah perahu mulai menjauh menuju tengah danau yang berkabut. Lin Yue mengatur napasnya yang memburu, jantungnya berdegup kencang bukan hanya karena pelarian itu, tapi juga karena kedekatan fisik yang tidak terduga dengan pria misterius ini.
"Lain kali, pastikan kau tidak meninggalkan jejak gandum yang bisa diikuti oleh ayam hutan, Nona Lin," ejek Yan de Jun sambil mengambil dayung.
Lin Yue merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Terima kasih atas 'tumpangan' ini, Yang Mulia. Tapi jangan berpikir ini akan membuat saya melunakkan syarat kesepakatan kita."
"Tentu saja tidak. Aku justru akan merasa bosan jika kau menjadi penurut," balas Yan de Jun dengan senyum miring yang jarang diperlihatkan.
Perahu itu terus melaju menembus kabut, membawa Lin Yue kembali ke sisi ibu kota yang lebih aman. Di balik kabut itu, Lin Yue menatap ke arah istana, bersumpah dalam hati bahwa setiap tetes keringat dingin yang ia keluarkan hari ini, akan ia bayar dengan darah Han Zihao di masa depan
.