Suara gemericik air yang menetes dari jubah biru gelap Lin Yue menjadi satu-satunya suara di lorong sunyi kediaman Jenderal Lin. Tubuhnya menggigil hebat, bukan hanya karena air danau yang membeku, tetapi karena adrenalin yang perlahan surut setelah pelariannya bersama Yan de Jun. Setiap langkahnya terasa berat, meninggalkan jejak air di atas lantai kayu yang mengilap.
"Nona! Ya Tuhan, apa yang terjadi?!" Xiao Mei berlari menghampiri, wajahnya pucat pasi melihat keadaan majikannya. Ia segera menyampirkan selimut tebal ke bahu Lin Yue. "Anda basah kuyup, Nona! Kita harus segera mengganti pakaian Anda sebelum ada yang melihat."
"Terlambat, Xiao Mei," bisik Lin Yue dengan bibir yang membiru.
Di ujung lorong, sosok Jenderal Lin Tian berdiri tegak seperti pilar batu. Wajahnya yang biasanya penuh kasih kini terlihat sangat keras, dengan gurat amarah yang tidak bisa disembunyikan. Di sampingnya, berdiri Lin Mei yang menatap kakaknya dengan tatapan prihatin yang dibuat-buat, namun Lin Yue bisa melihat kilatan kemenangan di balik mata adik tirinya itu.
Suara langkah kaki Jenderal Lin yang berat bergema di aula utama, menciptakan suasana yang jauh lebih mencekam daripada badai di luar sana. Lin Yue tetap berdiri tegak meski pakaiannya yang basah mulai terasa seperti es yang membalut kulitnya
"Yue-er," suara Jenderal Lin menggelegar, beresonansi di seluruh lorong. "Katakan padaku, sejak kapan putri seorang Jenderal besar menyelinap keluar seperti pencuri dan pulang dalam keadaan seperti ini? Di mana keretamu? Dan di mana pengawalmu?"
Lin Yue menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya. Ia tidak menunduk. Ia menatap langsung ke mata ayahnya. "Ayah, saya hanya pergi untuk mencari jawaban yang selama ini tersembunyi. Saya tidak bermaksud mencoreng nama baik keluarga."
"Mencari jawaban?!" Lin Mei menyela dengan nada lembut yang berbisa. "Kakak, aku sangat mengkhawatirkanmu. Tadi Pangeran Kedua mengirim utusan untuk menanyakan kabarmu, dan aku harus berbohong bahwa kau sedang sakit. Tapi jika beliau tahu kau pulang dalam keadaan basah kuyup bersama... bersama seorang pria di tengah danau, apa yang akan terjadi pada pertunanganmu?"
Lin Yue menoleh ke arah Lin Mei. Senyum tipis muncul di wajahnya yang pucat. "Pria di tengah danau? Bagaimana kau bisa tahu aku bersama seorang pria, Mei-er? Aku tidak pernah mengatakannya. Apakah kau menaruh mata-mata untuk mengikutiku?"
Lin Mei tersentak, wajahnya berubah merah. "A-aku... aku hanya menebak saja ! Karena kau pulang dari arah danau dan tidak mungkin kau berenang sendirian tanpa alasan!"
"Cukup!" Jenderal Lin membentak. "Mei-er, kembali ke kamarmu. Aku ingin bicara berdua dengan kakakmu."
Lin Mei pergi dengan wajah kesal.
Jenderal Lin mendekati Lin Yue.
Ia meletakkan tangannya yang besar di bahu putrinya, merasakan betapa dinginnya tubuh Lin Yue. Amarahnya perlahan luntur, berganti dengan kekhawatiran yang mendalam.
"Kau bertemu dengan Yan de Jun, bukan?" tanya Jenderal Lin dengan suara rendah.
Lin Yue mengangguk pelan. "Dia satu-satunya orang yang memiliki kekuatan untuk menghadapi Han Zihao tanpa rasa takut, Ayah. Han Zihao telah mengkhianati kita. Dia mencuri baja hitam milik kekaisaran untuk membangun pasukannya sendiri. Jika kita tetap berada di pihaknya, kita akan ikut hancur saat kedoknya terbongkar."
"Kau bicara tentang pengkhianatan, baja hitam, dan aliansi dengan Dewa Perang," suara Jenderal Lin merendah, namun setiap katanya penuh penekanan. "Yue-er, apakah kau sadar bahwa kau sedang menari di atas mata pedang? Jika Han Zihao mencium sedikit saja pergerakanmu, dia tidak akan ragu untuk menghapus seluruh garis keturunan Lin dari sejarah."
Lin Yue menatap mata ayahnya yang mulai menua namun tetap tajam. "Justru karena saya sadar, Ayah. Di kehidupan... maksud saya, di dunia yang penuh tipu daya ini, diam berarti mati. Han Zihao menganggap kita sebagai alat. Begitu dia naik takhta menggunakan kekuatan militer Ayah, kita akan dibuang seperti sampah yang tidak lagi berguna."
Jenderal Lin terdiam, jemarinya mengusap hulu pedang di pinggangnya. Ia teringat bagaimana Han Zihao selalu bersikap terlalu manis di depannya, sebuah kemanisan yang kini terasa seperti racun.
"Ayah," lanjut Lin Yue, melangkah mendekat meski air masih menetes dari ujung rambutnya. "Biarkan saya menjadi perisai bagi keluarga ini. Pangeran Yan memang berbahaya, tapi dia adalah pria yang memegang janjinya. Dia benci Han Zihao sama besarnya dengan kebencian saya."
Jenderal Lin terdiam lama. Sebagai seorang prajurit tua, ia tahu betapa kotornya politik istana. Namun, ia tidak menyangka putrinya yang selama ini ia lindungi telah terjun begitu dalam ke tengah badai. "Apa yang dikatakan Pangeran Yan?"
"Dia akan membantu kita," jawab Lin Yue. "Tapi dia meminta bukti nyata. Bulan depan, saat festival, kita akan menjatuhkan Han Zihao dari singgasana palsunya. Ayah, saya mohon, jangan lagi percaya pada kata-kata manis Pangeran Kedua. Dia adalah ular yang siap mematuk tangan yang memberinya makan."
Jenderal Lin menatap langit-langit, mendesah berat. "Baiklah. Aku akan memperketat penjagaan di sekitar rumah ini, bukan untuk mengurungmu, tapi untuk melindungimu dari mata-mata Han Zihao. Tapi Yue-er, berhati-hatilah dengan Yan de Jun. Pria itu adalah pedang bermata dua. Dia bisa melindungimu, tapi dia juga bisa menghancurkanmu jika kau tidak berguna baginya."
"Saya tahu, Ayah," ucap Lin Yue mantap. "Saya tidak mencari perlindungan, saya mencari aliansi. Dan di dunia ini, tidak ada aliansi yang lebih kuat daripada dua orang yang memiliki musuh yang sama."
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang keras mengejutkan mereka. Seorang prajurit penjaga masuk dengan tergesa-gesa. "Jenderal! Nona Muda! Pangeran Kedua, Han Zihao, datang berkunjung. Beliau bersikeras ingin bertemu Nona Lin Yue sekarang juga!"
Lin Yue dan ayahnya saling pandang. Han Zihao datang di saat yang paling tidak tepat.
"Xiao Mei! Cepat bawa Nona ke paviliun belakang melalui pintu dalam! Ganti pakaiannya dengan gaun tidur dan buat dia terlihat seperti orang yang sedang sakit demam parah!" perintah Jenderal Lin dengan sigap. "Aku akan menahan pangeran itu di aula depan."
Lin Yue ditarik oleh Xiao Mei dengan panik. Di dalam kamar, dengan gerakan secepat kilat, Xiao Mei mengganti jubah basah Lin Yue dengan gaun sutra putih tipis. Ia mengacak-acak rambut Lin Yue dan mengoleskan sedikit bedak pucat agar wajahnya terlihat sangat lesu.
Malam itu, setelah berganti pakaian dan meminum ramuan hangat, Lin Yue duduk di mejanya. Ia mengambil selembar kertas dan mulai menuliskan nama-nama pejabat yang harus ia dekati. Namun, pikirannya kembali melayang pada momen di atas perahu tadi. Bagaimana Yan de Jun mendekapnya, dan bagaimana mata pria itu menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.
Tiba-tiba, sebuah anak panah kecil melesat dari jendela dan menancap di tiang tempat tidurnya. Ada secarik kertas yang terikat di sana.
“Ular itu sudah mulai bergerak. Besok, Han Zihao akan mengundangmu ke perjamuan di istana. Jangan pergi tanpa membawa belatimu. - YDJ”
Lin Yue meremas kertas itu dan membakarnya di lilin. Sebuah senyum dingin merekah di bibirnya. "Mari kita lihat, Han Zihao. Siapa yang akan menangis di perjamuan itu nanti."
Hanya selang beberapa menit, langkah kaki Han Zihao terdengar mendekat ke arah paviliun Lin Yue.
"Yue-er! Aku mendengar kau jatuh sakit setelah perjamuan semalam!" suara Han Zihao terdengar penuh kekhawatiran palsu saat ia menerobos masuk ke kamar, mengabaikan protes dari para pelayan.
Lin Yue berbaring di tempat tidur, menutupi tubuhnya dengan selimut tebal hingga ke leher. Ia memejamkan mata dan mengatur napasnya agar terdengar berat. "Yang... Mulia... maafkan saya tidak bisa menyambut Anda dengan layak," ucap Lin Yue dengan suara yang sengaja dibuat serak dan lemah.
Han Zihao duduk di tepi tempat tidur, mencoba menyentuh kening Lin Yue. Lin Yue sedikit menghindar dengan dalih membetulkan posisi tidurnya.
"Tabib bilang kau hanya kelelahan, tapi kenapa wajahmu begitu pucat?" mata Han Zihao menyapu seluruh ruangan, mencari tanda-tanda yang mencurigakan. Tatapannya berhenti di sebuah sudut lantai yang sedikit lembap bekas tetesan air dari jubah Lin Yue tadi.
Jantung Lin Yue berdegup kencang. Jika Han Zihao menyadari bahwa ia baru saja kembali dari luar, semua rencananya akan hancur malam ini juga.
"Saya... saya hanya merasa sangat dingin, Yang Mulia," sahut Lin Yue cepat, mencoba mengalihkan perhatian. "Mungkin karena udara di danau tadi malam terlalu menusuk."
Han Zihao menyipitkan mata. "Danau? Aku tidak ingat membawamu ke tepi danau semalam, Yue-er."
Lin Yue tersentak dalam hati. Ia hampir saja membuat kesalahan fatal. "Maksud saya... mimpi. Saya bermimpi tenggelam di danau yang dingin. Mimpi itu terasa sangat nyata hingga saya terbangun dengan tubuh yang menggigil."
Han Zihao terdiam sejenak, senyum miring tersungging di bibirnya yang licik. "Mimpi yang aneh. Beristirahatlah dengan baik. Aku akan mengirimkan ramuan terbaik dari istana untukmu. Jangan sampai kau melewatkan perjamuan besok malam, karena aku punya kejutan besar untukmu di depan Kaisar."
Setelah Han Zihao pergi, Lin Yue langsung terduduk dengan napas terengah-engah. Ia menatap bekas lembap di lantai yang untungnya tidak sempat diselidiki lebih jauh oleh pria itu.
"Dia curiga," bisik Lin Yue pada bayangannya di cermin. "Tapi kecurigaannya akan menjadi lubang kuburnya sendiri."