Malam perjamuan istana tiba dengan kemegahan yang terasa menyesakkan d**a. Lentera-lentera merah besar digantung di sepanjang koridor Istana Teralarang, memancarkan cahaya yang memantul di atas lantai marmer yang dingin. Setiap sudut aula utama dihiasi dengan sutra emas, namun bagi Lin Yue, kemegahan ini hanyalah bungkus rapi dari sebuah makam yang luas. Ia melangkah masuk dengan jubah sutra berwarna emas pucat, warna yang melambangkan kemurnian namun juga ketajaman pedang yang tersembunyi.
Xiao Mei berjalan di belakangnya dengan kepala tertunduk, tangannya gemetar membawa nampan berisi hadiah untuk kaisar. Di balik lengan bajunya yang lebar, Lin Yue meraba hulu belati kecil pemberian ayahnya. Itu bukan sekadar senjata, melainkan pengingat bahwa di istana ini, kata-kata manis sering kali dibungkus dengan racun yang mematikan.
Saat ia memasuki aula, semua mata tertuju padanya. Rumor tentang sakitnya Lin Yue telah menyebar seperti api di atas rumput kering, namun penampilannya malam ini sama sekali tidak menunjukkan sisa-sisa kelemahan. Kulitnya yang pucat justru terlihat seperti porselen mahal, dan matanya berkilat dengan kecerdasan yang membuat beberapa menteri tua merasa tidak nyaman. Ia tampak seperti dewi yang baru turun dari langit, dingin, tak tersentuh, dan sangat berbahaya.
"Nona Lin Yue, kehadiranmu benar-benar mencerahkan aula yang kusam ini," sambut Menteri Pertahanan dengan nada menjilat. Lin Yue hanya membalas dengan anggukan tipis yang sangat anggun, namun penuh dengan jarak.
Di ujung aula, Han Zihao duduk di samping kursi ayahnya, Sang Kaisar. Saat matanya bertemu dengan mata Lin Yue, ia memberikan senyum kemenangan yang membuat perut Lin Yue mual. Han Zihao tampak begitu percaya diri, seolah-olah seluruh dunia sudah berada di dalam genggamannya. Lin Yue tahu, Han Zihao telah menyiapkan "kejutan" yang ia sebutkan kemarin sebuah jebakan politik untuk mempercepat pernikahan mereka agar ia bisa segera menguasai kekuatan militer Jenderal Lin tanpa harus menunggu lebih lama lagi.
"Putri Jenderal Lin, mendekatlah," suara Kaisar yang berat dan penuh wibawa bergema di seluruh ruangan, seketika membungkam suara musik kecapi.
Lin Yue berjalan dengan langkah yang stabil, setiap gerakannya diatur sedemikian rupa agar terlihat sempurna. Ia memberikan penghormatan paling rendah di hadapan penguasa tertinggi kekaisaran itu. "Semoga Yang Mulia Kaisar panjang umur, sehat, dan jaya selalu selamanya."
"Bangunlah," ucap Kaisar dengan nada yang sulit ditebak. "Putraku, Pangeran Kedua, telah banyak bicara tentang kesetiaanmu dan keluargamu. Dia bahkan mengusulkan agar pernikahan kalian dilangsungkan lebih awal, tepat setelah Festival Musim Gugur berakhir. Dia bilang, kau adalah belahan jiwanya yang paling berharga. Bagaimana pendapatmu, Nona Muda?"
Aula seketika menjadi sunyi senyap, bahkan suara napas pun terdengar keras. Ini adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh Han Zihao. Jika Lin Yue mengangguk setuju, maka tamatlah riwayat kebebasannya. Namun, Lin Yue justru tersenyum sebuah senyum yang terlihat manis namun sedingin es di puncak gunung.
"Yang Mulia Kaisar yang bijaksana dan penuh rahmat," suara Lin Yue terdengar jernih, tenang, dan sangat berwibawa, mengejutkan banyak orang yang mengira dia hanya gadis pemalu. "Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk menjadi bagian dari keluarga kekaisaran yang agung. Namun, sebagai putri seorang prajurit yang setia, saya diajarkan sejak kecil bahwa kesetiaan kepada negara harus diletakkan jauh di atas kepentingan pribadi. Saat ini, ada kegelisahan yang menyelimuti perbatasan utara mengenai pasokan logistik militer yang dikabarkan hilang atau digelapkan. Saya merasa, tidaklah pantas bagi saya untuk merayakan pesta pernikahan yang mewah sementara keamanan kekaisaran sedang dipertaruhkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab."
Wajah Han Zihao yang tadinya cerah seketika berubah kaku seperti batu. Ia tidak pernah menyangka Lin Yue akan memiliki keberanian untuk membawa masalah "logistik" yang sangat sensitif itu langsung ke hadapan Kaisar di tengah perjamuan resmi.
"Logistik militer?" Kaisar menyipitkan mata, tatapannya yang tajam langsung menusuk ke arah Menteri Persenjataan yang duduk tidak jauh dari sana. "Apa maksudmu dengan itu, Nona Lin? Dari mana kau mendengar hal seberani itu?"
"Saya hanya mendengar kabar burung dari beberapa pedagang gandum jujur di pasar saat saya berkunjung kemarin," Lin Yue melanjutkan dengan nada polos yang sangat meyakinkan, seolah-olah dia benar-benar tidak tahu betapa bahayanya ucapannya itu. "Bahwa ada kiriman besar yang mencurigakan menuju perbatasan utara melalui jalur ilegal. Mungkin itu hanya rumor sampah, tapi bukankah lebih baik jika Yang Mulia memerintahkan pemeriksaan mendadak untuk membersihkan nama baik para pangeran? Jika perbatasan aman, barulah hati saya akan merasa tenang dan layak untuk bersanding dengan Pangeran Kedua di pelaminan."
Han Zihao mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Amarahnya meluap, namun ia terjebak. Lin Yue sedang memojokkannya dengan sangat cerdas. Jika ia menolak pemeriksaan itu, ia akan terlihat seperti orang yang menyembunyikan sesuatu di depan ayahnya. Jika ia setuju, maka baja hitam hasil curiannya benar-benar terancam tertangkap.
Di sudut ruangan yang gelap, Yan de Jun yang sedari tadi hanya diam mengamati sambil memutar-mutar cangkir anggurnya, memberikan tatapan penuh kekaguman yang tersembunyi kepada Lin Yue. Ia tidak menyangka "elang kecilnya" akan seberani ini melakukan serangan terbuka.
"Sangat bijaksana," gumam Yan de Jun, suaranya yang berat memecah keheningan aula. "Sepertinya Nona Lin lebih peduli pada kedaulatan kekaisaran daripada beberapa pejabat tinggi yang ada di sini. Sungguh teladan bagi kita semua."
Kaisar mengangguk perlahan, wajahnya terlihat serius. "Jenderal Lin, kau benar-benar telah mendidik putrimu dengan sangat luar biasa. Baiklah! Demi ketenangan hati calon menantuku dan demi keamanan negaraku, aku memerintahkan Pangeran Yan untuk segera memeriksa seluruh jalur logistik utara tanpa kecuali mulai subuh besok!"
Keputusan itu jatuh seperti petir di siang bolong bagi Han Zihao. Menyerahkan pemeriksaan kepada Yan de Jun, musuh bebuyutannya yang paling jujur dan kejam, sama saja dengan menyerahkan lehernya sendiri ke atas meja algojo.
Perjamuan berlanjut, namun atmosfer di aula itu telah berubah total menjadi sangat tegang. Han Zihao mencoba mendekati Lin Yue saat musik mulai dimainkan kembali. "Kau benar-benar bermain dengan api yang akan membakarmu sendiri, Lin Yue," bisiknya dengan nada penuh ancaman tepat di belakang telinga gadis itu. "Kau pikir Yan de Jun akan melindungimu selamanya setelah dia mendapatkan apa yang dia mau?"
Lin Yue menoleh perlahan, menatap mata Han Zihao dengan tatapan penuh ejekan yang sangat dingin. "Aku tidak pernah meminta perlindungan pada siapa pun, Han Zihao. Aku hanya ingin memastikan bahwa ular sepertimu tidak akan pernah mendapatkan mahkota itu. Dan jangan khawatir... perjamuan malam ini baru hidangan pembuka. Aku masih punya ribuan kejutan berdarah untukmu di Festival Musim Gugur nanti. Bersiaplah untuk jatuh."
Lin Yue meninggalkan Han Zihao yang berdiri terpaku dengan amarah yang meluap-luap. Ia berjalan menuju balkon istana yang sepi, menghirup udara malam yang segar untuk mendinginkan kepalanya. Di sana, di bawah cahaya rembulan, Yan de Jun sudah menunggunya dengan senyum misterius di wajahnya.
"Kau benar-benar gila, Lin Yue," ucap Yan de Jun tanpa menoleh, matanya menatap ke arah danau istana. "Kau baru saja menyatakan perang terbuka di depan seluruh pejabat tinggi kekaisaran."
"Saya sudah bilang pada Anda, Pangeran," sahut Lin Yue sambil berdiri di sampingnya. "Saya tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Dan malam ini, saya baru saja menyulut api yang akan membakar seluruh mimpi busuk Han Zihao menjadi abu."