Gema musik dari perjamuan istana masih terngiang di telinga Lin Yue saat ia melangkah turun dari kereta kuda di depan kediaman Jenderal Lin. Udara malam itu terasa lebih menusuk, seolah-olah membawa pesan bahwa ketenangan yang ia rasakan hanyalah jeda sebelum badai besar menghantam. Lin Yue tahu, setelah apa yang ia lakukan di depan Kaisar, Han Zihao tidak akan tinggal diam. Pria itu adalah ular berbisa yang jika terpojok, akan menyerang tanpa ampun.
"Nona, Anda terlihat sangat lelah," ucap Xiao Mei sambil membantunya melepaskan jubah emas yang kini terasa berat. "Perjamuan tadi... saya melihat wajah Pangeran Kedua. Dia tampak ingin membunuh siapa pun yang ada di dekatnya."
Lin Yue duduk di depan meja riasnya, menatap pantulan wajahnya yang pucat namun memiliki sorot mata yang tajam. "Biarkan dia marah, Xiao Mei. Kemarahan adalah tanda bahwa dia mulai kehilangan kendali. Saat seseorang kehilangan kendali, itulah saat mereka paling banyak melakukan kesalahan."
Baru saja ia hendak memejamkan mata untuk beristirahat, suara ketukan pintu yang terburu-buru mengejutkannya. Itu adalah Jenderal Lin. Ayahnya masuk dengan wajah yang sangat pucat, tangannya menggenggam sebuah gulungan kertas yang tampak kusam.
"Yue-er, kita punya masalah besar," suara Jenderal Lin bergetar, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada seorang pahlawan perang sepertinya.
Lin Yue berdiri seketika. "Ada apa, Ayah? Apakah Han Zihao melakukan sesuatu pada pasukan Ayah?"
"Lebih buruk dari itu," Jenderal Lin meletakkan gulungan kertas itu di atas meja. "Ini adalah surat rahasia yang ditemukan di meja kerjaku beberapa saat lalu. Seseorang telah memalsukan tanda tanganku pada sebuah dokumen pengiriman senjata ilegal ke wilayah pemberontak. Jika dokumen ini jatuh ke tangan Kaisar sebelum Pangeran Yan menyelesaikan penyelidikannya, keluarga kita akan dituduh melakukan makar."
Lin Yue merasa darahnya membeku. Ini adalah taktik Han Zihao yang ia kenal di kehidupan sebelumnya. Pria itu selalu memiliki rencana cadangan untuk menjatuhkan siapa pun yang berani melawannya. Han Zihao ingin memfitnah ayahnya agar penyelidikan Pangeran Yan justru mengarah pada kehancuran keluarga Lin.
"Dia bergerak lebih cepat dari dugaanku," desis Lin Yue. Ia mengambil gulungan itu dan memeriksanya dengan teliti di bawah cahaya lilin. "Tanda tangan ini sangat mirip, tapi perhatikan goresan terakhirnya. Ayah selalu mengangkat kuas sedikit lebih cepat. Ini adalah tiruan yang sangat halus."
"Tapi siapa yang bisa masuk ke meja kerjaku dan meletakkan ini?" tanya Jenderal Lin dengan penuh amarah.
Lin Yue terdiam. Pikirannya langsung melayang pada satu nama: Lin Mei. Adik sepupunya itu adalah satu-satunya orang yang memiliki akses ke seluruh bagian rumah dan memiliki alasan kuat untuk bekerja sama dengan Han Zihao demi mendapatkan posisi yang lebih baik.
"Ayah, jangan panggil pengawal. Jika kita membuat keributan, mata-mata yang ada di rumah ini akan segera melapor pada Han Zihao bahwa rencananya berhasil," ucap Lin Yue dengan tenang yang mematikan. "Kita harus membalikkan keadaan. Jika Han Zihao ingin memberikan bukti palsu, maka kita akan memberinya bukti yang akan membakar dirinya sendiri."
Malam itu juga, tanpa memedulikan rasa lelahnya, Lin Yue menyelinap keluar menuju Paviliun Teratai sekali lagi. Ia harus menghubungi Yan de Jun. Hanya pria itu yang memiliki akses langsung ke kantor pemeriksaan kekaisaran tanpa dicurigai.
Di tengah perjalanan melalui gang-gang sempit, Lin Yue merasa seseorang sedang mengikutinya. Langkah kakinya dipercepat, jantungnya berdegup kencang. Tiba-tiba, sebuah tangan besar membekap mulutnya dan menariknya ke dalam bayang-bayang sebuah bangunan tua.
"Berisik sekali langkahmu untuk seorang perencana balas dendam," bisik sebuah suara yang sangat ia kenali.
Lin Yue meronta dan berbalik. Di sana berdiri Yan de Jun, mengenakan jubah hitam yang membuatnya menyatu dengan kegelapan malam.
"Pangeran! Anda hampir membuat jantung saya berhenti!" geram Lin Yue sambil merapikan pakaiannya.
"Aku mengikutimu sejak kau keluar dari gerbang belakang," ucap Yan de Jun dengan nada datar. "Kenapa kau keluar malam-malam begini? Apakah gertakanmu di istana tadi belum cukup untuk membuatmu dalam bahaya?"
Lin Yue menceritakan tentang dokumen palsu itu. Wajah Yan de Jun yang biasanya dingin kini menjadi semakin gelap. "Han Zihao benar-benar sudah gila. Dia berani memalsukan dokumen makar saat aku sedang diperintahkan untuk menyelidiki."
"Saya butuh Anda untuk menukar dokumen ini dengan dokumen asli pengiriman baja hitam miliknya di kantor kementerian," pinta Lin Yue, matanya menatap Yan de Jun dengan penuh permohonan. "Jika penyelidik menemukan dokumen ayahnya di sana, kita tamat. Tapi jika mereka menemukan dokumen asli Han Zihao, dia tidak akan punya jalan keluar."
Yan de Jun menatap Lin Yue lama. "Kau memintaku untuk melakukan pencurian di kantor kekaisaran? Kau tahu apa risikonya jika aku tertangkap?"
"Risikonya sama besarnya dengan apa yang akan Anda dapatkan jika Han Zihao naik takhta, Pangeran. Anda akan menjadi target pertamanya setelah keluarga saya," balas Lin Yue tegas.
Yan de Jun terkekeh kecil, sebuah suara yang terdengar berbahaya namun memikat. "Kau benar-benar tahu cara membujuk seekor singa untuk berburu. Baiklah, berikan dokumen itu padaku. Tapi ingat satu hal, Lin Yue... setelah malam ini, kau benar-benar berhutang nyawa padaku."
Lin Yue menyerahkan gulungan itu. "Nyawa saya sudah lama menjadi milik Anda sejak malam di danau itu, Pangeran. Gunakanlah sesuka Anda, asalkan ular itu mati."
Yan de Jun menghilang dalam sekejap, meninggalkan Lin Yue yang berdiri sendirian di kegelapan. Ia tahu, mulai malam ini, perang yang sesungguhnya telah dimulai. Tidak ada lagi jalan untuk kembali. Hanya ada dua pilihan: mahkota atau nisan.
Setelah Yan de Jun menghilang di balik kegelapan malam, Lin Yue tidak segera beranjak. Ia berdiri mematung di gang sempit itu, membiarkan angin malam menyapu wajahnya yang panas karena emosi. Ia tahu, setiap detik yang ia habiskan di luar rumah adalah risiko besar, namun hatinya merasa sedikit lega karena dokumen palsu itu kini berada di tangan orang yang tepat.
Dengan langkah yang disamarkan, Lin Yue kembali ke kediamannya melalui jalur rahasia. Namun, saat ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam paviliun pribadinya, ia mencium aroma yang sangat ia kenali aroma dupa melati yang sangat kuat. Itu adalah aroma kesukaan Lin Mei.
"Mencari udara segar lagi, Kakak?" suara lembut namun berbisa itu muncul dari balik tirai tempat tidur Lin Yue.
Lin Mei keluar dari kegelapan, tangannya memegang sebuah lilin kecil yang menerangi wajahnya yang tampak pura-pura cemas. Di belakangnya, berdiri dua pelayan kepercayaannya yang tampak waspada.
Lin Yue tidak menunjukkan rasa terkejut. Ia justru melepas capingnya dengan tenang dan meletakkannya di atas meja. "Kau sangat rajin, Mei-er. Tengah malam begini masih sempat berkunjung ke kamarku. Apakah kau begitu mengkhawatirkan kesehatanku, atau kau sedang mencari sesuatu yang kau tinggalkan di sini?"
Lin Mei tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat palsu di telinga Lin Yue. "Aku hanya ingin memastikan Kakak tidur dengan nyenyak. Kudengar tadi Ayah sangat marah karena kehilangan sebuah dokumen penting di ruang kerjanya. Aku takut Kakak dituduh sebagai pelakunya karena Kakak sering terlihat berkeliaran di dekat sana belakangan ini."
Lin Yue melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah jemari Lin Mei yang sedikit gemetar. "Dokumen penting? Bagaimana kau bisa tahu ada dokumen yang hilang, sementara Ayah sendiri hanya memberitahuku beberapa menit yang lalu secara tertutup?"
Wajah Lin Mei berubah pucat sesaat, namun ia segera menguasai diri. "Aku... aku tidak sengaja mendengarnya dari para pengawal! Kau tahu sendiri bagaimana berita menyebar cepat di rumah ini."
"Berita menyebar cepat, atau kau yang menyebarkannya?" Lin Yue mencengkeram pergelangan tangan Lin Mei dengan kuat. "Dengarkan aku baik-baik, adikku tersayang. Aku tahu kau bekerja sama dengan Han Zihao. Aku tahu kau yang membantu menyelundupkan dokumen palsu itu ke meja Ayah. Kau berharap keluarga kita hancur agar kau bisa mendapatkan simpati dari Pangeran Kedua, bukan?"
"Lepaskan! Kau sudah gila, Kak!" Lin Mei meronta, namun cengkeraman Lin Yue sangat kuat.
"Aku memang sudah gila," bisik Lin Yue tepat di telinga Lin Mei. "Aku gila karena pernah mempercayaimu di masa lalu. Tapi di masa sekarang, aku akan memastikan setiap tetes air mata yang kau keluarkan adalah nyata. Jika dokumen itu ditemukan oleh pihak kekaisaran, aku akan memastikan namamu adalah orang pertama yang tertulis sebagai penghianat yang menjual rahasia keluarga."
Lin Yue melepaskan tangan Lin Mei dengan kasar hingga adiknya itu terhuyung ke belakang. "Sekarang keluar dari kamarku. Dan katakan pada tuanmu, Han Zihao, bahwa permainannya terlalu mudah untuk k****a. Dia butuh taktik yang lebih cerdas jika ingin menjatuhkan Jenderal Lin."
Setelah Lin Mei lari dengan wajah penuh ketakutan dan amarah, Lin Yue terduduk di kursinya. Tubuhnya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang tertahan. Ia segera memanggil Xiao Mei.
"Xiao Mei, bakar dupa pengusir serangga di seluruh ruangan ini. Aku tidak ingin mencium bau melati busuk itu lagi," perintah Lin Yue.
Malam itu, Lin Yue tidak bisa memejamkan mata. Ia membayangkan apa yang sedang dilakukan Yan de Jun di kantor kementerian. Jika pria itu berhasil menukar dokumen tersebut, besok pagi saat pasukan penyelidik datang, Han Zihao akan mendapatkan kejutan terbesar dalam hidupnya.
Di kejauhan, suara kokok ayam mulai terdengar, menandakan fajar akan segera tiba. Lin Yue berdiri di jendela, menatap matahari yang mulai terbit dengan warna merah darah. "Mari kita mulai pembersihan ini," gumamnya pelan.