Pukul lima sore di Bandung adalah jam ketika aspal berubah jadi sungai logam. Arka Wijana menyelinap di antara bus kota dan angkot yang berebut sejengkal jalan, tas kurir menyilang punggungnya, paket terakhir hari itu menonjol dari dalamnya seperti tulang rusuk. Sepedanya butut—rangka besi tua yang catnya sudah jadi warna karat, satu gir mati di belakang, tanpa rem sama sekali. Orang-orang menyebut sepeda macam itu fixed gear, tapi Arka tak pernah peduli istilah. Baginya itu cuma sepeda yang tak bisa berhenti mengayuh, dan ia menyukainya begitu, karena hidup juga tak pernah memberinya tombol untuk berhenti.
Ia melepas dua jari dari setang dan membiarkan tubuhnya membaca lalu lintas seperti membaca napas sendiri. Di sela mobil, ada celah selebar pintu kulkas. Arka masuk. Pengemudi taksi membentak, tapi Arka sudah lima meter di depan, kakinya berputar kuat dan rata, lutut naik turun seperti piston. Tak ada gigi untuk dipindah. Yang ada cuma kaki dan jalan dan keputusan-keputusan kecil yang ia ambil setiap sepersekian detik tanpa berpikir.
Di perempatan Jalan Riau lampu masih merah dan di sebelahnya berhenti tiga pembalap berbaju klub. Jersey mereka mengkilap, ketat, penuh logo sponsor. Sepeda mereka ramping, hitam karbon, harganya barangkali lebih mahal dari setahun gaji kurir. Salah satu dari mereka melirik sepeda Arka, lalu melirik wajah Arka, lalu tersenyum kecil dengan cara yang membuat Arka tahu persis apa arti senyum itu. Senyum yang berkata: kau bukan apa-apa.
Arka tak balas tersenyum. Ia hanya memandang lampu. Hijau.
Apa yang terjadi sesudahnya berlangsung kurang dari dua belas detik. Tiga pembalap itu melonjak dengan teknik bersih, sepatu terkunci di pedal, badan rendah. Mereka jelas terlatih. Tapi Arka tak punya sepatu kunci, tak punya teknik, tak punya apa pun selain insting dan kaki yang lapar. Ia menghantam pedal seakan hendak menghancurkannya. Sepeda butut itu melompat ke depan, dan untuk tiga puluh meter pertama Arka berada di belakang. Lalu kakinya menemukan irama itu—irama yang tak bisa ia jelaskan, yang datang dari ribuan kali menyalip macet—dan dunia menyempit jadi satu garis lurus.
Ia menyusul yang ketiga di tengah perempatan. Menyusul yang kedua sebelum garis sebelah. Yang pertama, pembalap dengan senyum tadi, menoleh sekilas dan matanya membesar. Arka melewatinya tepat di mulut tikungan, begitu dekat sampai ia bisa mendengar pembalap itu mengumpat. Lalu jalan menurun dan Arka melepas, kaki berhenti memaksa, membiarkan momentum membawanya. Ketika ia menengok ke belakang, ketiga jersey mengkilap itu sudah jadi titik-titik kecil di kejauhan, terjebak lagi oleh lampu merah berikutnya.
Arka tertawa pelan. Bukan tawa kemenangan. Lebih seperti tawa orang yang baru saja membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri untuk kesekian kali, hal kecil yang tak ada gunanya, yang tak akan mengubah apa pun. Besok ia tetap kurir. Besok tagihan listrik panti tetap menumpuk. Tiga pembalap karbon itu pulang ke rumah masing-masing dan ia pulang ke gudang sewaan tempat ia tidur beralas kasur tipis.
Ia tak menyadari ada yang menontonnya.
Di trotoar seberang, bersandar pada tiang lampu, berdiri seorang pria tua. Tubuhnya tegap meski usianya jelas sudah lewat lima puluh lima. Rambutnya kelabu dan dipotong rapi seperti orang militer. Ia memakai celana panjang yang kebesaran dan sandal jepit, dan ketika ia bergerak, satu kakinya pincang—kaki kiri menyeret sedikit, seperti engsel yang sudah lama tak diminyaki. Pria itu memegang gelas kopi kertas yang sudah dingin. Ia tidak meminumnya. Ia hanya berdiri di sana, memandang ke arah Arka melaju menjauh, dan di matanya ada sesuatu yang tak cocok dengan tubuhnya yang renta: ketajaman seorang penilai.
Namanya Hasan. Tiga puluh tahun lalu, di papan kayu sebuah velodrom yang kini sekarat, ia pernah memenangkan lomba yang membuat namanya tercatat. Lalu sebuah jatuhan di tikungan 42 derajat menghancurkan kakinya dan mengakhiri segalanya dalam dua detik. Sejak itu ia tak pernah berhenti memandangi kaki orang. Ia tahu kaki yang dilatih dan kaki yang berbakat, dan ia tahu bahwa keduanya hampir tak pernah bertemu dalam satu tubuh.
Kaki anak kurir tadi membuat napasnya tersangkut.
Bukan kecepatannya. Banyak anak muda cepat. Yang membuat Hasan menegakkan punggung adalah bagaimana anak itu menyalip di mulut tikungan—garis yang ia pilih, cara ia membaca celah sebelum celah itu terbuka, dan terutama bagaimana ia melepas tepat ketika tenaganya tak lagi dibutuhkan, tidak sedetik lebih awal, tidak sedetik lebih lambat. Itu bukan hal yang bisa diajarkan. Itu adalah insting yang biasanya Hasan baru temukan setelah melatih ratusan anak selama bertahun-tahun, dan ini ada pada seorang kurir bersepeda karat yang bahkan tak tahu bahwa apa yang baru ia lakukan punya nama.
Hasan membuang kopi dinginnya ke tong sampah. Ia menyeret kakinya menyusuri trotoar, ke arah motornya yang diparkir di gang. Ia harus menemukan ke mana anak itu pergi. Ia harus tahu namanya.
Sementara itu, beberapa blok jauhnya, Arka menyandarkan sepedanya di tembok sebuah warung dan membeli sebungkus nasi untuk dimakan di perjalanan pulang. Pemilik warung, seorang ibu yang sudah mengenalnya, bertanya kenapa ia terengah-engah. Arka mengangkat bahu. "Latihan," katanya, lalu nyengir. "Latihan jadi orang penting." Ibu warung tertawa dan memberinya kerupuk gratis.
Arka tak tahu, saat ia menggigit kerupuk itu, bahwa di suatu tempat di kota ini ada bangunan tua berbentuk telur raksasa, dengan lintasan kayu di dalamnya yang catnya mengelupas dan tribunnya tebal oleh debu. Ia tak tahu bahwa bangunan itu sedang menghitung mundur hari-hari terakhirnya. Dan ia sama sekali tak tahu bahwa pria pincang yang baru saja mencatat wajahnya akan, dalam waktu kurang dari seminggu, mengetuk pintu hidupnya dan menawarinya sesuatu yang terdengar seperti gurauan, tapi kelak akan ia tukar dengan delapan bulan dari hidupnya, dengan kulit lututnya, dan dengan satu-satunya keyakinan yang ia punya: bahwa lebih aman berlari sendirian.
Untuk sekarang, ia hanya seorang kurir yang lelah, mengayuh pulang menembus senja jingga Bandung, kakinya berputar tanpa henti karena memang tak ada cara untuk berhenti.