Ia datang pada hari keempat belas, tanpa diundang, ketika sore mulai turun dan Hasan sudah pulang.
Arka sedang mengelem ban tubular di garasi, tangannya kini mantap setelah berminggu-minggu latihan Mei, ketika ia mendengar langkah di pintu velodrom. Langkah yang terlalu ringan, terlalu yakin, untuk milik siapa pun yang biasa datang ke Rajawali. Ia mendongak dan melihat Senna Rais berdiri di ambang pintu, memandang ke dalam gedung telur tua itu dengan ekspresi yang sulit dibaca—bukan ejekan, bukan juga rasa hormat, sesuatu yang lebih seperti rasa ingin tahu seorang ahli yang masuk ke museum benda kuno.
"Jadi ini Rajawali," kata Senna, melangkah masuk tanpa diminta. Sepatunya berdecit pelan di lantai. Ia memandang papan kayu yang melingkar di hadapannya, tikungan 42 derajat yang catnya mengelupas, lampu sorot yang sebagian mati. "Aku sering dengar namanya. Lintasan kayu terakhir. Tak kusangka masih berdiri."
Arka meletakkan ban yang ia lem, waspada. "Kamu jauh-jauh ke sini buat liat lintasan tua?"
"Aku penasaran." Senna berjalan ke tepi lintasan dan menyentuh kayunya, persis seperti Arka di hari pertamanya, dan untuk satu saat ekspresinya melunak—sesuatu yang nyaris seperti penghormatan pada kayu tua itu. Lalu hilang. "Kayu beda dari semen. Lebih hidup, kata orang. Lebih cepat tapi lebih tak memaafkan. Aku belum pernah balapan di kayu." Ia menoleh pada Arka. "Kamu latihan tiap hari di sini?"
Arka tahu pertanyaan itu bukan basa-basi. Senna tidak datang untuk mengagumi kayu. Ia datang untuk mengukur—untuk melihat dengan matanya sendiri seberapa nyata ancaman yang dibawa anak jalanan beruntung ini, atau seberapa kosong. Setiap pertanyaannya adalah pengukuran. Berapa jam Arka latihan. Rasio apa yang ia pakai. Apakah ia sudah mencoba keirin penuh. Arka menjawab seperlunya, dingin, menahan diri untuk tidak membual, karena ia tahu membual adalah memberi lawan data gratis.
Lalu Senna mengubah arah, halus, seperti pembalap yang mengubah garis tanpa terlihat. "Hasan melatihmu sendiri?"
"Iya."
Senna mengangguk pelan, memandang ke arah kantor kecil Hasan, lalu berkata dengan nada datar yang justru membuat kata-katanya menempel: "Kamu tahu kenapa dia berhenti balapan?"
"Kakinya cedera. Jatuh di banking."
"Itu yang dia bilang?" Senna tersenyum tipis, tanpa kehangatan. "Itu memang benar. Dia jatuh. Tapi orang-orang tua di klubku, yang sudah lama di olahraga ini, kadang menyebut nama Hasan dengan cara tertentu. Tidak dengan kasihan. Dengan sesuatu yang lain." Ia mengangkat bahu, seolah itu bukan urusannya, padahal ia tahu persis apa yang sedang ia lakukan. "Aku cuma berpikir, sebelum kamu menyerahkan tiga pekan terakhir hidupmu pada seseorang, kamu mungkin mau tahu cerita lengkapnya. Pelatih yang menyimpan rahasia tentang jatuhnya sendiri—itu hal yang aku akan ingin tahu, kalau aku jadi kamu. Tapi mungkin kamu tidak."
Arka merasa darahnya naik. Ia tahu persis apa yang sedang Senna lakukan—menanam keraguan, menjatuhkan sebutir pasir ke dalam mesin yang baru mulai berputar. Itu taktik. Sama saja dengan melambat di sprint untuk memancing lawan memimpin. Senna tidak datang untuk memberitahunya kebenaran apa pun; ia datang untuk meletakkan retakan kecil di antara Arka dan satu-satunya orang yang melatihnya, agar di hari seleksi nanti, ketika Hasan memberinya instruksi, ada sepersekian keraguan yang membuat Arka ragu sepersekian detik. Dan sepersekian detik, di keirin, adalah segalanya.
Arka menarik napas, dan untuk pertama kalinya ia tak terpancing seperti dulu. Ia memandang Senna dengan ketenangan yang ia pinjam dari berminggu-minggu membaca punggung lawan. "Kamu pintar," katanya pelan. "Datang ke sini pura-pura penasaran sama kayu, terus nanam keraguan tentang pelatihku tepat sebelum seleksi. Itu sprint yang sama yang kamu mainkan dulu—melambat buat mancing aku memimpin. Tapi aku sudah belajar sekarang. Aku tidak akan menanggung anginmu lagi."
Sesuatu bergerak di mata Senna—terkejut, samar, dan barangkali, jauh di dalam, secercah respek yang tak ingin ia akui. Ia tidak mengira anak jalanan ini akan melihat permainannya. "Jadi kamu sudah belajar sesuatu," katanya akhirnya, suaranya sedikit berubah. Ia memasang kembali kacamata hitamnya, berbalik ke pintu. "Kita lihat di seleksi apakah cukup."
Ia pergi. Langkahnya yang ringan dan yakin menghilang ke luar gedung, dan velodrom kembali sunyi. Arka berdiri di garasi, ban tubular setengah terlem di tangannya, dan menyadari ia menang—ia tidak terpancing, ia membaca permainan Senna, ia menolaknya di depan mukanya.
Tapi.
Tapi pertanyaan itu sudah ditanam, dan menolak memberi Senna kepuasan tidak sama dengan menghapus pertanyaan itu dari kepalanya. Sepanjang malam, saat ia mencoba tidur, kalimat Senna terus kembali. Tidak dengan kasihan. Dengan sesuatu yang lain. Pelatih yang menyimpan rahasia tentang jatuhnya sendiri. Arka tahu itu racun yang sengaja ditanam. Ia tahu seharusnya ia mengabaikannya. Tapi ia memikirkan kunci gembok yang selalu menggantung di leher Hasan, cara pria itu menjaga velodrom seperti menjaga makam, kekerasannya yang aneh setiap kali soal kepercayaan dan tim disinggung—dan untuk pertama kalinya, racun Senna menemukan tanah untuk tumbuh. Bukan karena Arka curiga pada Hasan. Tapi karena ia menyadari, malam itu, betapa sedikitnya yang sebenarnya ia tahu tentang pria yang telah menaruh seluruh taruhan terakhirnya pada dirinya.