Coach Darma memanggil Arka di hari ketiga, setelah sesi pagi, ke ruangan kecil di belakang lintasan yang penuh layar dan grafik. Di dinding tergantung diagram tubuh manusia dengan otot-otot diberi label, kurva-kurva yang Arka tidak mengerti, dan whiteboard penuh angka. Darma duduk di balik meja, menunjuk kursi di seberangnya tanpa basa-basi, dan membuka laptop.
"Aku sudah lihat rekaman seleksimu," katanya. Suaranya tidak ramah, tidak kasar, hanya efisien—suara orang yang menghargai waktu dan tidak suka membuangnya. "Tiga kali. Dan aku sudah lihat sesi-sesimu di sini." Ia memutar laptopnya menghadap Arka, memutar potongan video: Arka di final seleksi, menukik turun dari banking melewati Tio. "Ini bagus. Gerakan ini—naik ke banking, pinjam ketinggian, tukik. Siapa yang mengajarimu?"
Arka ragu. "Tidak ada. Aku melihat orang lain melakukannya."
"Senna."
"Ya."
Darma mengangguk, mencatat sesuatu. "Insting bagus. Mata bagus. Tapi eksekusinya kotor. Lihat," ia menjeda video di satu titik, "kamu naik ke banking terlalu tinggi. Kamu membuang setengah meter ketinggian yang tidak perlu, yang berarti kamu membuang waktu. Berhasil di seleksi karena lawanmu lebih lelah. Di level nasional, tidak akan berhasil. Mereka akan menghukum setengah meter itu."
Ia menutup laptop dan menatap Arka langsung. "Aku akan jujur padamu karena aku tidak punya waktu untuk tidak jujur. Kamu masuk pemusatan ini karena kapasitas mentahmu. Aku belum pernah lihat anak baru dengan ledakan seperti milikmu. Tapi tekikmu kasar, kayuhanmu boros, dan caramu berpikir tentang balapan—" ia menggeleng, "—itu cara lama. Cara yang sudah usang dua puluh tahun."
Sesuatu mengeras di dada Arka. "Cara siapa yang usang."
"Pelatihmu. Hasan, kan?" Darma mengucapkan nama itu tanpa permusuhan, hanya sebagai fakta. "Aku tahu siapa dia. Era sembilan puluhan. Pelatih bagus pada zamannya. Tapi olahraga ini sudah berubah, Arka. Sekarang kita punya power meter, analisis laktat, model aerodinamika. Kita tidak lagi melatih dengan firasat dan kata-kata bijak. Kita melatih dengan data." Ia mengetuk whiteboard penuh angka di belakangnya. "Hasan mengajarimu membaca punggung lawan. Itu seni. Tapi seni tidak bisa diukur, tidak bisa diulang, tidak bisa diturunkan dengan presisi. Aku mengajarkan sesuatu yang lebih bisa diandalkan."
Arka tidak menjawab. Ia ingin membela Hasan, ingin mengatakan bahwa membaca punggung lawan adalah hal yang membawanya ke final, bahwa firasat dan kata-kata bijak adalah hal yang menambalnya dari kurir jadi atlet binaan dalam tiga pekan. Tapi ia juga, dengan rasa tidak nyaman yang ia benci, tahu bahwa Darma tidak sepenuhnya salah. Tekiknya memang kasar. Kayuhannya memang boros. Ia merasakannya sendiri di hari pertama, betapa efisien atlet-atlet di sekelilingnya dibanding dirinya.
"Aku tidak menyuruhmu melupakan apa yang dia ajarkan," kata Darma, seolah membaca pikirannya. "Mata yang dia berikan padamu berharga. Tapi aku akan membangun di atasnya, dan kadang membangun berarti membongkar dulu apa yang sudah ada. Selama di sini, kamu ikut metodeku. Sepenuhnya. Tidak setengah-setengah. Kalau kamu pegang dua cara sekaligus, kamu akan jadi pembalap yang bingung, dan pembalap bingung kalah. Mengerti?"
Arka mengangguk pelan, meski di dalam dadanya ada sesuatu yang menolak.
Sesi berikutnya membuktikan kata-kata Darma. Pelatih itu memasang power meter di sepeda Arka—alat kecil yang mengukur tenaga yang ia keluarkan di setiap kayuhan dalam angka—dan menyuruhnya melakukan interval dengan target watt tertentu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arka melihat ledakannya diterjemahkan jadi angka di layar kecil. Dan angka-angka itu memberitahunya apa yang tidak pernah Hasan bisa: bahwa di tiga ratus meter pertama setiap sprint, ia membuang dua puluh persen lebih banyak tenaga daripada yang ia butuhkan, karena ia mengayuh dengan kemarahan, bukan efisiensi.
Metode itu bekerja. Itu yang membuatnya tidak nyaman. Dalam dua hari, dengan power meter sebagai cermin, Arka memperbaiki sesuatu yang tidak pernah ia sadari sebagai masalah. Tekiknya jadi lebih bersih. Kayuhannya jadi lebih hemat. Ia merasa, dengan rasa bersalah yang aneh, bahwa ia jadi lebih baik—dan bahwa ia jadi lebih baik dengan cara yang Hasan tidak ajarkan, dengan cara yang Hasan bahkan tidak punya alatnya.
Malam itu ia menelepon Hasan untuk pertama kalinya sejak tiba. Ia tidak menceritakan tentang power meter, tentang Darma, tentang metode. Ia hanya bertanya apakah velodrom baik-baik saja, apakah Mei sudah memperbaiki ban tubular yang bocor, apakah Bu Ningsih mampir. Hasan menjawab pendek-pendek, dan di akhir telepon bertanya, "Pelatihnya bagaimana? Kamu belajar?"
Arka diam sejenak. "Iya," katanya akhirnya. "Aku belajar."
Ia tidak berbohong. Tapi ia juga tidak mengatakan seluruhnya, dan untuk pertama kalinya sejak ia mengenal pria tua itu, ada sesuatu di antara mereka yang tidak ia sampaikan. Ia menutup telepon dan duduk di tepi ranjang asrama yang empuk, merasa terbelah di antara dua tempat, dua cara, dua orang yang sama-sama mengklaim mengajarinya cara melaju.