Mereka memindahkan Arka ke kamar yang lebih kecil di minggu kedua, dan rekan sekamarnya, karena alasan administratif yang tidak pernah dijelaskan pada siapa pun, adalah Senna Rais. Arka membuka pintu dengan tas di tangan dan menemukan Senna sudah di sana, di ranjang dekat jendela, membaca catatan latihan di bawah lampu baca. Keduanya saling memandang, dan tidak ada yang berkata apa-apa selama beberapa detik yang panjang.
"Aku tidak minta ini," kata Senna akhirnya.
"Aku juga tidak," jawab Arka, dan meletakkan tasnya di ranjang kosong.
Malam-malam pertama berlalu dalam diam yang kaku. Senna tidur lebih awal, bangun sebelum Arka, dan menghabiskan hampir seluruh waktunya di lintasan atau di ruang gym atau di ruang analisis. Arka jarang melihatnya kecuali sebagai punggung yang berlalu di koridor. Tapi tinggal serumah, bahkan dalam diam, mengungkapkan hal-hal yang tidak terungkap di lintasan.
Arka mulai memperhatikan bahwa Senna tidak pernah benar-benar berhenti. Ketika sesi resmi selesai dan atlet lain pulang ke kamar untuk istirahat, Senna kembali ke lintasan sendirian. Arka tahu karena suatu malam ia terbangun jam dua belas lewat dan ranjang dekat jendela kosong. Penasaran—dan tidak bisa tidur—ia berjalan ke lintasan, dan menemukan Senna di sana, sendiri di bawah lampu yang separuh dimatikan, melakukan interval putaran demi putaran, wajahnya beku dalam konsentrasi yang nyaris menyakitkan. Tidak ada pelatih. Tidak ada penonton. Hanya Senna dan papan kayu dan stopwatch yang ia tekan sendiri di setiap putaran.
Arka menontonnya dari bayang-bayang tribun. Inilah hal yang tidak pernah ia mengerti tentang Senna—ia mengira kecepatan Senna datang dari bakat dan klub berduit dan fasilitas. Tapi tidak ada yang menyuruh seseorang mengayuh sendirian sampai tengah malam. Itu bukan bakat. Itu kelaparan. Itu sesuatu yang lebih gelap daripada ambisi, sesuatu yang Arka, dengan rasa tidak nyaman, mulai mengenali karena ia pernah merasakannya sendiri di hari-hari ketika ia berlari di jalanan untuk membuktikan ia ada.
Ia kembali ke kamar sebelum Senna selesai, dan berpura-pura tidur ketika rivalnya masuk satu jam kemudian, basah keringat, lalu jatuh ke ranjang tanpa suara.
Telepon datang beberapa hari kemudian. Arka sedang di kamar memperbaiki ban tubular—kebiasaan dari Rajawali yang tidak bisa ia tinggalkan, meski di sini ada mekanik untuk itu—ketika ponsel Senna berdering. Senna menjawab dengan satu kata, lalu mendengarkan, dan Arka, meski berusaha tidak memperhatikan, tidak bisa menghindar dari nada di seberang sana. Suara seorang pria, dingin, menuntut, terdengar samar lewat speaker. Senna tidak banyak menjawab. Ia hanya berdiri di dekat jendela, punggung tegak, dan mendengarkan, dan setiap kata yang ia ucapkan terdengar seperti dipotong dari batu.
"Iya, Pak. Sudah. Catatan waktuku turun setengah detik minggu ini. Iya. Aku tahu Bagas lebih cepat di— iya, Pak. Aku mengerti." Jeda panjang. "Tidak. Tidak ada alasan. Aku akan menang."
Ia menutup telepon dan berdiri diam di dekat jendela, menatap keluar ke malam, dan untuk sesaat—satu detik penuh—bahunya turun. Bukan kelelahan latihan. Sesuatu yang lebih dalam. Lalu ia menariknya kembali ke posisi, menegakkan dirinya, dan ketika ia berbalik wajahnya sudah kembali jadi topeng dingin yang Arka kenal.
Ia melihat Arka memperhatikan. Untuk sesaat keduanya saling memandang.
"Ayahmu?" tanya Arka, pelan, tanpa berniat menyindir.
Senna menatapnya, menimbang apakah akan menjawab atau menyuruhnya diam. Lalu ia mengangkat bahu, gerakan kecil yang lelah. "Dia yang membayar semuanya. Klub, sepeda, pelatih pribadi sejak aku sembilan tahun. Setiap rupiah." Ia duduk di tepi ranjangnya. "Dia bilang dia berinvestasi padaku. Investasi tidak boleh rugi."
Arka tidak tahu harus menjawab apa. Ia tumbuh tanpa ayah sama sekali, di panti, dengan Bu Ningsih dan dua belas anak lain dan tidak ada yang menuntut apa pun darinya kecuali ia tidak nakal. Ia selalu mengira itu kekurangan. Sekarang, menatap Senna yang setiap kemenangannya adalah cicilan utang yang tak pernah lunas, ia tidak begitu yakin lagi.
"Itu sebabnya kamu latihan sampai tengah malam," kata Arka.
Senna menatapnya tajam. "Kamu mengintip."
"Tidak bisa tidur."
Keheningan menggantung di antara mereka. Lalu Senna berbaring, mematikan lampu baca, dan suaranya datang dari kegelapan, lebih pelan daripada yang pernah Arka dengar. "Kamu pikir aku dingin karena sombong. Aku dingin karena itu satu-satunya cara aku tidak hancur. Kalau aku biarkan diriku merasakan setiap balapan, setiap telepon itu—" ia tidak menyelesaikan kalimatnya. "Kamu punya orang yang bangga padamu meski kamu finis keempat. Aku tidak punya itu. Aku cuma punya menang."
Arka berbaring di kegelapan, menatap langit-langit, dan untuk pertama kalinya rivalitas mereka terasa kurang seperti dinding dan lebih seperti dua orang yang berdiri di sisi berbeda dari kekurangan yang sama. Ia tidak mengatakannya. Senna tidak akan menerima belas kasihan. Tapi ia menyimpannya, dan keesokan paginya, ketika ia melihat Senna di lintasan, ia tidak lagi melihat seringai dingin. Ia melihat baju zirah, dan anak di baliknya yang sama lelahnya dengan dirinya.