Benteng Aungrel berdiri di tengah reruntuhan dan kabut, seperti raksasa tua yang menatap masa lalu dengan luka yang tak kunjung sembuh. Dinding-dindingnya retak, ditumbuhi lumut, dan pintu gerbang besinya menggantung miring — saksi bisu perang-perang yang terlupakan. Di sinilah, dalam kesunyian yang nyaris mistis, Alerina memilih untuk bertemu dengan Grevan.
Kabut masih menyelimuti saat rombongan kecil tiba. Alerina turun dari kereta dengan tudung menutupi rambutnya, jubah tebal membungkus tubuhnya yang mungil namun tegak. Di sisinya, Cael dan dua pengawal tepercaya mengawasi sekitar, tangan mereka tak jauh dari gagang s*****a.
Benteng itu sunyi… terlalu sunyi.
“Tetap waspada,” bisik Cael.
Langkah mereka menggema di lorong batu yang kosong. Bayangan menari di sela pilar-pilar patah, da