Pintu kamar terbuka pelan. Seorang perempuan muda—mungkin sebaya dengan tubuh yang sekarang Sekar pakai, mungkin sedikit lebih tua—masuk dengan baki kayu berisi mangkuk dan cangkir.
"Tuan Putri. Sudah bangun? Saya bawa bubur—"
Perempuan itu berhenti. Melihat Sekar berdiri di depan cermin tembaga, dengan tangan yang bukan tangannya menempel di permukaan cermin.
"Tuan Putri... Anda... pucat sekali. Kembali ke ranjang, Tuan Putri."
Sekar mau menjawab. Tapi tidak tahu harus jawab apa. Bahkan tidak tahu kalimat seperti apa yang akan keluar dari mulut yang bukan miliknya.
"Tuan Putri. Sini, duduk dulu. Anda baru sembuh dari demam sembilan hari."
Perempuan itu—yang Sekar baru sadar memakai pakaian seperti dayang kerajaan zaman dulu, lengkap dengan rambut digelung dengan tusuk sederhana, jari-jari yang halus tapi terlatih—meletakkan baki di meja kecil dan mendekati Sekar dengan langkah yang Sekar bisa rasakan, dia sudah lakukan ratusan kali.
"Tuan Putri. Sembilan hari Anda demam tinggi. Tabib istana hampir menyerah dua kali. Jangan berdiri terlalu lama dulu, kepala bisa pening."
Sembilan hari demam. Sekar mencerna kata-kata itu.
Perempuan itu menuntun Sekar duduk di sisi ranjang—pelan, hati-hati, seperti orang yang sudah berbulan-bulan merawat tubuh ini. Memberi sendok kayu berisi bubur dari mangkuk.
"Makanlah, Tuan Putri. Pelan-pelan. Perut Anda kosong sembilan hari."
Sekar makan. Bubur beras dengan ayam suwir, ditaburi bawang goreng, dengan kuah yang ringan. Tidak ada rasa MSG, tidak ada bumbu yang Sekar kenal sebagai bumbu kemasan. Tapi enak—lebih enak dari yang dia harap, mungkin karena tubuh ini benar-benar lapar sembilan hari.
Sambil makan, dia memperhatikan kamar. Kayu jati ukir di setiap dinding. Tirai sutera merah tua di kelambu ranjang. Lukisan pada kayu—bukan kanvas—di salah satu dinding, gambar bunga teratai. Tidak ada listrik, tidak ada saklar lampu, tidak ada outlet apapun. Tidak ada jam digital di mana pun. Tidak ada AC—jendela kayu terbuka, dengan tirai sutera tipis yang berkibar pelan dari angin malam.
Tidak ada apapun yang Sekar kenal sebagai abad dua puluh satu.
"Yi," Sekar mendengar suaranya—bukan suaranya—bertanya pelan, dengan kata yang dia tidak ingat dia ucapkan tapi keluar otomatis dari mulut tubuh ini. "Sekarang... sekarang tahun berapa?"
Yi—nama yang keluar dari mulut Sekar sebagai panggilan otomatis untuk dayang ini—terdiam. Menatap Sekar dengan bingung.
"Tuan Putri... ini tahun seribu empat ratus tiga puluh dua, perhitungan Saka. Tahun pemerintahan Sri Baginda Brawijaya keenam, sejak naik tahta di Trowulan."
Sekar menjatuhkan sendok ke mangkuk.
Tahun Saka 1432. Sekar mencoba menghitung di kepalanya—Saka beda dengan Masehi, ditambah 78. Itu artinya... 1510 Masehi? Mungkin. Sekar bukan ahli sejarah. Tapi cukup untuk tahu—ini berabad-abad dari abad dua puluh satu.
"Tuan Putri?"
Yi menatap Sekar dengan ekspresi yang Sekar bisa baca sebagai gabungan khawatir dan—mungkin—takut.
"Yi. Saya..."
Apa yang harus dia bilang? "Yi, saya bukan Anjani. Saya Sekar Wijaya, karyawati event organizer dari Jakarta tahun 2026, dan saya tidak tahu kenapa saya di sini, dan sekitar sepuluh menit yang lalu—di jam yang berbeda, di dimensi yang berbeda—saya kena truk di tol Cawang"?
Tidak. Yi akan kira dia gila. Atau lebih buruk—Yi akan lapor ke seseorang, dan Sekar akan dianggap kerasukan jin, dan ada ritual atau hukuman yang Sekar tidak tahu apa.
"Yi. Saya... saya lupa banyak hal. Mungkin demamnya. Otak saya kabur."
Yi mengangguk pelan. Tersenyum lega.
"Tabib bilang ingatan Tuan Putri akan kembali pelan-pelan. Demam tinggi sembilan hari memang bisa hapus ingatan sementara. Tidak apa-apa."
"Yi. Tolong... ceritakan saya siapa saya. Sebagai pengingat. Mulai dari yang paling dasar."
Yi terdiam. Lalu mengambil tangan Sekar—lembut, dengan rasa yang Sekar bisa rasakan, ini gerakan yang Yi sudah lakukan banyak kali sebelumnya.
"Tuan Putri Anjani. Putri ketiga Sri Baginda Brawijaya, dari permaisuri kedua, Permaisuri Lasmi. Permaisuri Lasmi sudah meninggal sepuluh tahun lalu, saat Tuan Putri berusia enam tahun—sakit paru-paru."
"Sepuluh tahun lalu."
"Iya. Setelah Permaisuri Lasmi meninggal, Tuan Putri dikirim ke Lasem—rumah keluarga ibu Anda—untuk dirawat oleh Paman dan Bibi. Kerajaan tidak banyak ingat Anda selama sepuluh tahun. Tuan Putri."
"Mengapa saya kembali?"
"Anda baru saja kembali ke istana sebulan lalu. Karena... karena Sri Baginda mau menikahkan Tuan Putri dengan Pangeran Bramantya, putra Permaisuri Pertama Sekartaji. Pangeran Bramantya calon putra mahkota."
Sekar menatap Yi.
"Pangeran Bramantya."
"Iya, Tuan Putri."
Sekar tidak tahu nama itu. Tapi dia merasa—entah dari mana, dari sel-sel tubuh Anjani yang masih menyimpan memori—bahwa nama Bramantya adalah nama yang dia harus takuti.