Pukul tiga pagi, Yi sudah tidur di kamar pelayan di sebelah—Yi pamit setelah memastikan Sekar tertidur, dengan janji "saya datang lagi pas matahari naik, Tuan Putri." Tapi Sekar—atau Anjani, atau dua jiwa yang berbagi tubuh—tidak bisa tidur.
Dia duduk di sisi ranjang. Mata terbuka. Memikirkan setiap fakta yang Yi berikan, dengan cara Sekar menganalisis brief klien—seperti masalah event yang harus dipecahkan dengan timeline ketat.
Dan saat dia memikirkan, pelan-pelan, sesuatu mulai... muncul. Bukan ingatan baru yang dia bangun. Tapi ingatan tubuh yang dia tempati—seperti file yang sudah ada di hard disk, yang baru bisa dibuka karena password sekarang dikenal.
Anjani. Sekar mulai melihat—seperti video buram yang diputar dari kepalanya yang bukan kepalanya—momen-momen kehidupan Anjani.
Anak kecil di Lasem, tinggal di rumah kayu sederhana di pinggir kota dengan ibunya—Permaisuri Lasmi yang sudah lama tidak dianggap permaisuri oleh istana. Ibunya batuk darah setiap malam. Anjani umur empat tahun, tidur di samping ibunya, mendengar batuk itu.
Ibunya meninggal saat Anjani berumur enam tahun, di tempat tidur, sambil memegang tangan Anjani.
Setelah itu, Anjani tinggal dengan paman dan bibi di desa kecil. Dianggap putri buangan—gelar resmi yang melekat saat Sri Baginda tidak mengirim utusan ke pemakaman istri keduanya. Anjani diberi makan, diberi tempat, tapi tidak dididik sebagai putri. Dia belajar membaca dari paman yang juga tidak begitu bisa baca.
Sampai sebulan lalu—usia Anjani enam belas—utusan istana datang ke Lasem. Bawa surat segel emas dari Sri Baginda. Anjani harus pulang ke Trowulan. Akan dijodohkan dengan Pangeran Bramantya.
Anjani pulang. Tidak ada yang menjelaskan kenapa Sri Baginda tiba-tiba mau anak yang dia abaikan sepuluh tahun. Anjani tinggal di paviliun belakang istana—paviliun yang lama tidak dipakai. Bertemu Bramantya untuk pertama kali di taman istana.
Lalu—Sekar melihat ini, gambar yang lebih jelas, lebih jelas dari yang seharusnya untuk video memori—Anjani jatuh sakit. Demam tinggi. Sembilan hari.
Demam yang... aneh. Datang tiba-tiba malam setelah Anjani minum teh dengan Permaisuri Sekartaji.
Sekar berdiri dari ranjang. Kepalanya sakit dari ingatan yang tidak miliknya, dari proses asimilasi data yang otaknya tidak siap.
Tapi sebelum dia bisa duduk lagi, datang ingatan lain.
Ingatan yang bukan dari Anjani sehari-hari ini. Bukan dari masa kecil di Lasem. Ingatan dari... seseorang yang lain. Suara perempuan, lebih tua, berbisik di telinga Anjani—Sekar bisa rasakan napas perempuan itu, seolah dia berdiri di belakang Anjani:
*"Anak. Kalau kamu mati di kehidupan ini, kamu boleh kembali. Tapi sekali. Dan dengan tubuh berbeda. Pilih bijak."*
Sekar menutup matanya.
Dia bukan Anjani. Dan dia bukan sepenuhnya Sekar.
Anjani sudah mati. Sembilan hari demam itu—racun dari teh Sekartaji—membunuh dia. Tubuh ini, secara teknis, hampir mati.
Dan Sekar—yang baru saja mati di tol Cawang di Jakarta tahun 2026—masuk ke tubuh Anjani yang kosong. Entah bagaimana, entah lewat dimensi apa yang Sekar tidak akan pernah mengerti.
Tapi yang lebih aneh: Sekar mulai mengingat sesuatu yang lain. Bukan dari Anjani saat ini—Anjani saat ini baru sembuh, baru bertemu Bramantya sebentar. Dari Anjani yang berbeda. Anjani yang sudah hidup lebih lama. Anjani yang sudah menikahi Bramantya, dan...
Sekar menutup mulutnya dengan tangan yang bukan miliknya.
Dia melihat—sebagai ingatan dari kehidupan yang belum dia jalani di tubuh ini—wajahnya sendiri (Anjani), sekarat di lantai paviliun. Cangkir teh terjatuh dari tangan, pecah di lantai marmer. Bibirnya hitam. Napasnya pendek.
Dan di atasnya, berdiri Bramantya. Pangeran tampan dengan pakaian merah dan hiasan emas. Menatap Anjani mati. Tanpa ekspresi sama sekali. Tanpa sedih, tanpa puas, tanpa apapun.
"Selir Anjani. Maaf. Tapi politik istana tidak punya tempat untukmu."
Lalu Bramantya berbalik dan keluar dari paviliun. Anjani—di lantai—mendengar pintu tertutup di belakangnya. Lalu mati.
Sekar membuka matanya. Berkeringat dingin di tubuh Anjani. Bibir kering.
"Saya... sudah pernah hidup. Sebagai Anjani. Dan saya... mati di tangan Bramantya. Di kehidupan yang berbeda dari yang akan saya jalani sekarang."
Yi masuk dari pintu—terbangun karena suara langkah kaki Sekar yang menghentak ke lantai kayu, mungkin.
"Tuan Putri. Tuan Putri. Anda kenapa?"
Sekar menatap Yi. Pelayan setia—yang loyal, yang baik—yang di kehidupan sebelumnya juga ada, mungkin yang menemukan jenazah Anjani di lantai paviliun, mungkin yang menangis di pemakaman.
"Yi. Saya... saya mimpi buruk."
"Tuan Putri. Tidur lagi. Saya pijit kepala Anda kalau Anda mau."
Tapi Sekar tidak tidur sampai pagi.
Karena dia tahu sekarang—dengan kejelasan yang dia tidak punya tentang banyak hal di hidupnya sebelumnya—dia di sini bukan untuk hidup sebagai Anjani biasa. Dia di sini untuk memperbaiki yang Anjani tidak bisa perbaiki.
Tidak mati di tangan Bramantya untuk kedua kalinya.
Dan kalau perlu, mengubah seluruh permainan istana yang akan membunuhnya.