Pagi berikutnya, Yi mengantar Sekar—yang sekarang harus bersikap sebagai Anjani—ke ruang utama paviliun.
Yi membantunya berpakaian. Kebaya tradisional dari sutera tipis dengan motif sulam emas, kain batik panjang dililit di pinggang dengan ikatan yang Sekar tidak akan bisa lakukan sendiri, sandal selop yang tipis. Rambut Anjani yang panjang Yi gelung dengan cara yang Sekar perhatikan dengan kepala diam—tusuk emas berbentuk bunga melati di samping, bukan kupu-kupu, "untuk pertemuan pagi, Tuan Putri."
"Tuan Putri. Pangeran Bramantya datang berkunjung. Beliau bawa hadiah."
Tubuh Sekar membeku. Tangan dia sempat tremor sedikit—Yi melihat tapi tidak komentar.
"Sekarang? Pagi-pagi sekali?"
"Beliau sudah menunggu di teras sejak Sri Baginda kasih kabar Anda sudah sembuh. Pangeran datang dengan empat penjaga, satu hadiah—saya tidak buka, biar Tuan Putri yang buka—dan beberapa pengawalan dari Permaisuri Sekartaji."
Pengawalan dari Permaisuri Sekartaji. Sekar mencatat di kepala. Sekartaji yang akan—atau sudah, di kehidupan yang berbeda—mencoba membunuhnya.
Sekar menarik napas. Berdiri tegak dengan posisi punggung yang Yi sudah tunjukkan dua kali tadi pagi—postur putri kerajaan yang Anjani lama bahkan tidak pernah tahu.
Dia berjalan ke teras. Yi mengikuti tiga langkah di belakang.
Pangeran Bramantya berdiri di teras dengan punggung tegak menghadap kebun istana. Tinggi—lebih tinggi dari Adi yang akan datang nanti, lebih tinggi dari kebanyakan pria Jawa abad lima belas. Bahu lebar, postur dilatih sejak kecil sebagai pewaris tahta. Pakaian merah dengan emas di tepiannya, tanda calon putra mahkota. Hiasan emas berbentuk garuda kecil di rambutnya yang dikepang.
Dia berbalik saat mendengar langkah Sekar di lantai marmer teras.
Wajah itu.
Wajah yang Sekar—sebagai memori Anjani dari kehidupan yang berbeda—pernah lihat menatap dia mati di lantai paviliun. Wajah yang—saat ini, saat melihat Sekar untuk pertama kali setelah sembilan hari demam—tersenyum dengan ramah, dengan kelembutan yang Sekar tahu adalah topeng.
Sekar menelan ludah. Menundukkan kepala dengan dalam—posisi yang pantas untuk pangeran calon mahkota.
"Pangeran."
"Anjani. Saya senang Anda sembuh. Sembilan hari demam—saya khawatir setiap hari."
Suaranya tenang. Halus. Persis seperti yang Sekar ingat dari kehidupan yang berbeda. Suara yang akan, suatu hari, mengatakan "Maaf, tapi politik istana tidak punya tempat untukmu" sambil melihat Anjani sekarat.
"Saya... berterima kasih atas kunjungan Pangeran. Dan atas kekhawatiran Pangeran selama saya sakit."
Bramantya menatapnya. Lama. Mata coklat tua-nya menyusuri wajah Sekar—wajah Anjani—dengan cara yang Sekar bisa rasakan sebagai inspeksi, bukan kekaguman.
"Anjani. Anda... berbeda."
Sekar mengangkat wajah. Hanya sedikit—tidak terlalu langsung, tidak melawan etika.
"Berbeda?"
"Cara Anda berbicara. Cara Anda berdiri. Saya tidak bisa jelaskan. Anda dulu—saat saya bertemu pertama kali sebulan lalu—lebih pendiam. Lebih takut, mungkin. Sekarang Anda... lebih kokoh."
Sekar memasang senyum tipis. Senyum Anjani yang pendiam, tapi dengan tepi yang baru—dia sengaja membuatnya begitu, agar Bramantya membaca apa yang Sekar mau dia baca.
"Mungkin demam, Pangeran. Mengubah saya sedikit. Saat hampir mati, kita semua jadi lebih... berani dengan hidup setelahnya."
"Mungkin."
Bramantya melangkah lebih dekat. Sekar menahan keinginan untuk mundur—setiap sel di tubuh Anjani memberi sinyal bahaya, mungkin sisa instinct dari kehidupan sebelumnya. Tapi Sekar tetap diam.
"Anjani. Pernikahan kita dijadwalkan dua bulan dari sekarang."
"Iya, Pangeran."
"Anda... siap?"
Sekar menatap mata Bramantya. Mata yang dia tahu—di kehidupan sebelumnya—akan menatap dia sekarat tanpa rasa. Tapi sekarang, di kehidupan ini, mata yang masih menatapnya sebagai orang asing yang menarik.
"Saya siap, Pangeran. Apa pun yang Sri Baginda dan keluarga inginkan."
Bramantya tersenyum kecil. Senyum yang Sekar baca sebagai senyum kepuasan—dia mendapat jawaban yang dia inginkan, jawaban patuh dari putri buangan yang seharusnya tidak punya pilihan.
Bramantya memberi salam—jari menyentuh kening dengan gestur kerajaan—dan pergi. Empat penjaga mengikuti. Hadiah dari dia—sebuah peti kecil dari kayu cendana berukir—dia tinggalkan di meja teras.
Yi datang setelah Bramantya cukup jauh. Suara langkah pangeran sudah hilang di koridor.
"Tuan Putri. Pangeran Bramantya kelihatan suka dengan Anda hari ini. Beliau biasanya tidak senyum sebanyak itu."
Sekar menatap Yi.
"Yi. Saya mau tanya sesuatu. Yang aneh mungkin, tapi saya butuh jawaban jujur."
"Iya, Tuan Putri."
"Pangeran Bramantya—dia anak siapa? Saya tahu putra mahkota, tapi dari permaisuri yang mana?"
Yi menjawab tanpa ragu, seolah ini pertanyaan yang dia jawab tiap hari ke turis di museum.
"Putra Permaisuri Pertama, Sri Permaisuri Sekartaji. Calon putra mahkota. Bramantya lahir tujuh tahun sebelum Tuan Putri lahir."
"Permaisuri pertama. Calon ibu suri."
"Iya."
Sekar mencatat dalam ingatannya. Permaisuri Sekartaji. Yang akan—di kehidupan sebelumnya—membunuh Anjani lewat racun di teh, dan yang akan menyuruh Bramantya menatap Anjani mati tanpa intervensi.
Bramantya tidak membunuh Anjani karena benci pribadi. Karena perintah ibunya. Karena Anjani—putri permaisuri kedua dengan darah dukun di garis ibunya, anak yang Sri Baginda akhirnya ingat lagi—adalah ancaman politis.
Sekar berdiri.
"Yi. Saya mau berkebun di teras hari ini. Dan saya butuh tanaman tertentu."
"Berkebun? Tuan Putri tidak pernah—"
"Saya butuh herbal. Saya buat daftar. Anda bisa beli di pasar?"
Yi mengangguk—bingung, tapi tidak menolak.
Sekar menulis daftar dengan kuas dan tinta—tangan Anjani yang sudah hapal menulis aksara Jawa kuno, walaupun Sekar tidak tahu cara membaca yang dia tulis—sesuatu yang Sekar dari abad dua puluh satu pikirkan dari pelajaran herbal yang dia ambil iseng di kuliah dulu.
Tanaman herbal. Untuk membuat penawar racun—bukan racun. Penawar racun arsenik klasik, yang akan jadi pilihan paling logis untuk Sekartaji.
Karena Sekar tahu—di kehidupan sebelumnya—apa yang akan dia minum, dan hari apa, dan dari siapa.
Dan kali ini, dia tidak akan minum tanpa perlindungan di darahnya.