Dua minggu berlalu. Sekar—sebagai Anjani—beradaptasi cepat.
Dia belajar protokol istana dari Yi setiap pagi sebelum sarapan—siapa yang harus disambut dengan kepala tertunduk dalam, siapa yang cukup salam ringan, siapa yang harus dia panggil dengan gelar lengkap. Dia belajar nama-nama selir Sri Baginda, nama-nama menteri di dewan, nama-nama prajurit penjaga di setiap pos. Dia menghapal mana yang bisa dipercaya (sedikit, kebanyakan loyalis Permaisuri Lasmi yang sudah mati), mana yang tidak (banyak, kebanyakan loyalis Sekartaji).
Dia juga belajar—dari ingatan tubuhnya yang pelan-pelan mengalir kembali seperti aliran sungai yang bendungannya pecah—bahwa Anjani lama adalah putri yang pendiam, naif, dan tidak banyak bicara. Anjani lama tidak pernah angkat wajah ke pria asing. Tidak pernah bertanya hal yang menantang. Sempurna untuk dijadikan boneka politik. Sempurna untuk dibunuh tanpa drama.
Sekar tidak akan jadi boneka.
Tapi dia harus hati-hati. Tidak boleh terlalu cepat berubah. Tidak boleh menarik perhatian Permaisuri Sekartaji terlalu cepat dengan menjadi terlalu cerdas, terlalu kokoh, terlalu Jakarta. Sekartaji adalah perempuan yang akan mendeteksi anomali dengan cepat.
Suatu pagi, saat Sekar makan di teras paviliun—nasi merah dengan ikan asin dan sambal terasi yang Yi siapkan, sederhana karena Anjani lama tidak suka makanan istana yang mewah—datang utusan istana.
"Tuan Putri. Sri Permaisuri Sekartaji mengundang Anda untuk minum teh sore ini. Pukul empat. Di paviliun beliau."
Yi menjadi pucat seketika—Sekar bisa lihat dari sudut matanya. Tapi Yi tidak komentar di depan utusan.
Sekar tidak pucat. Dia sudah tahu undangan ini akan datang—di kehidupan sebelumnya, undangan teh kedua yang membunuh Anjani.
"Sampaikan saya akan datang dengan senang hati. Saya berterima kasih atas kebaikan Yang Mulia."
Setelah utusan pergi, Yi berbisik—suaranya bergetar:
"Tuan Putri. Permaisuri Sekartaji... mengundang Anjani lama dua kali. Yang pertama ramah. Yang kedua, malam itu juga—Anjani lama jatuh sakit. Yang sembilan hari demam. Yang... yang hampir membunuh Anda."
Sekar mengangguk pelan.
"Saya tahu, Yi. Saya sudah tahu sebelum utusan datang."
"Tuan Putri. Anda tidak boleh pergi—"
"Saya harus pergi. Kalau saya menolak, Sekartaji curiga. Tapi kali ini, saya tidak akan minum apa pun yang ditawarkan. Saya akan tolak dengan alasan yang kelihatan sopan dan benar."
Yi menatap Sekar dengan mata bingung—sudah dua minggu Yi mencoba mengerti perubahan Anjani, dan setiap hari ada sesuatu baru yang membingungkan.
"Tuan Putri. Bagaimana Anda... tahu semua ini? Bahwa Sekartaji yang membuat demam Anda. Bahwa Anda harus tolak teh. Sebelumnya Tuan Putri sama sekali tidak tahu."
Sekar menatap Yi. Lama.
Yi pelayan yang loyal. Anjani lama menyayangi dia—Sekar bisa rasakan itu di dalam tubuh ini, kasih sayang yang tertinggal sebagai memori jaringan otot. Yi pernah merawat Anjani saat sakit, pernah menangis saat Anjani diabaikan istana, pernah membawa makanan diam-diam saat dapur istana hampir tidak mengirim ke paviliun yang hampir kosong.
Yi adalah satu-satunya orang yang Sekar bisa percaya seratus persen. Dan Sekar butuh Yi sebagai sekutu.
"Yi. Saya akan ceritakan sesuatu yang Anda akan kira saya gila. Anda akan punya pilihan: percaya, atau lapor ke Sri Baginda bahwa saya kerasukan dan butuh ritual."
"Tuan Putri—"
"Yi. Saya bukan Anjani."
Yi menjatuhkan baki tehnya. Cangkir-cangkir kosong jatuh ke lantai kayu, satu pecah.
"Tuan Putri."
Yi tidak bergerak. Tidak ambil cangkir yang pecah. Tidak panggil dayang lain untuk bersihkan. Cuma berdiri, menatap Sekar, dengan ekspresi yang Sekar tidak bisa baca.
"Anjani—Anjani lama—sudah meninggal, Yi. Sembilan hari demam itu... membunuh dia. Tubuh ini hampir mati. Tapi jiwa lain masuk ke tubuh ini. Jiwa saya. Sekar Wijaya. Dari... tempat yang jauh, dari waktu yang sama sekali berbeda. Dari kota yang Anda tidak akan pernah lihat, di tahun yang masih ratusan tahun di depan."
Yi menatap Sekar dengan mata yang terbuka lebar. Tangannya gemetar.
"Tuan Putri. Anda... gila? Atau kerasukan?"
"Mungkin. Dari sudut pandang Anda, mungkin. Tapi Yi—saya tahu hal yang Anjani lama tidak tahu. Saya tahu Bramantya akan racuni saya di pertemuan teh dengan Permaisuri Sekartaji. Saya tahu malam itu juga, hari Jumat depan. Saya tahu rasanya racun masuk ke tubuh Anjani lama, karena saya punya ingatan tubuh ini yang lebih jauh dari yang seharusnya. Saya tahu Bramantya akan menatap saya mati tanpa ekspresi."
Yi menutup mulut dengan tangan. Air mata mulai menggenang di matanya.
"Tuan Putri."
"Yi. Saya tidak meminta Anda percaya secara penuh. Saya cuma meminta—kalau saya benar tentang racun di hari Jumat, kalau Sekartaji benar mencoba membunuh saya hari itu seperti yang saya prediksi—Anda akan membantu saya. Untuk hidup. Untuk membalikkan permainan ini."
Yi menatap Sekar lama. Sangat lama. Sekar tidak mendesak.
Akhirnya Yi berlutut di lantai—di antara cangkir pecah, dengan air mata di pipi.
"Tuan Putri. Saya tetap di sisi Anda. Anjani atau bukan."
Sekar berlutut juga di hadapan Yi. Memegang kedua tangan dayang yang sekarang gemetar.
"Yi. Berdiri. Saya bukan permaisuri yang membuat orang berlutut."
"Tuan Putri."
Yi berdiri. Sekar berdiri. Mereka saling memeluk—gestur yang Anjani lama tidak akan pernah lakukan dengan dayang.
"Yi. Terima kasih."
"Tuan Putri. Saya tidak peduli dari mana jiwa Anda berasal. Yang saya peduli—Anda baik. Anjani baik juga, di hatinya. Tapi Anjani lemah, dan istana ini akan memakan dia hidup-hidup. Anda... lebih kuat. Mungkin itu yang Anjani butuhkan, lewat jalan apa pun, untuk selamat dari Sekartaji."
Sekar memeluk lebih erat. Pelayan yang baru saja menerima cerita gila dari putri-yang-bukan-putri, yang sekarang bersedia mempertaruhkan hidupnya untuk membantu.
Untuk pertama kali sejak Sekar bangun di tubuh Anjani sembilan hari yang lalu, Sekar merasa dia tidak sendirian dalam kehidupan ini.