Sore Jumat datang—datang lebih cepat dari yang Sekar siap, walaupun dia menghitung mundur sejak hari Senin.
Sekar mengenakan pakaian terbaik Anjani. Kebaya hijau tua dengan sulam emas yang halus, kain batik tulis dari Pekalongan dengan motif parang seling, selop tipis dengan hiasan manik-manik. Rambut digelung dengan tusuk emas berbentuk kupu-kupu—Yi memilih ini sengaja, "kupu-kupu artinya transformasi, Tuan Putri, baik untuk pertemuan yang berbahaya."
Dia meminum tiga tetes ramuan herbal yang Yi seduh dari daftar Sekar—campuran arang aktif, akar kunyit putih, dan ramuan lain yang Sekar tahu dari pelajaran kuliah herbal-nya. Tidak akan menetralkan semua racun. Tapi akan memperlambat penyerapan arsenik kalau dia tidak sengaja menelan. Penawar amatir dari memori abad dua puluh satu, tapi lebih baik dari tidak ada.
Dia berjalan ke paviliun Permaisuri Sekartaji, dipandu dua dayang istana yang Sekartaji kirim sebagai pendamping. Yi tidak boleh ikut—protokol istana melarang dayang putri buangan masuk paviliun permaisuri pertama. Tapi Yi menunggu di taman dekat paviliun, di bawah pohon kemboja, dengan handuk basah di tangan untuk darurat (kalau Sekar muntah racun, kalau Sekar pingsan).
Permaisuri Sekartaji menyambut Sekar di ruang utama paviliunnya. Wanita berusia empat puluhan, masih cantik dengan cara yang dingin—seperti kerajinan logam yang dipoles tapi tidak hangat. Rambutnya digelung dengan emas yang lebih berat dari milik Sekar, pakaian sutera ungu tua dengan emas yang lebih banyak. Mata coklat tua yang dingin meskipun bibirnya tersenyum.
"Anjani. Selamat datang."
"Permaisuri."
Sekar menundukkan kepala dengan dalam—protokol untuk permaisuri pertama, dengan tangan menyentuh kening dua kali sebelum jatuh ke samping.
"Duduk, Anjani. Di sini, di samping saya."
Mereka duduk di bantal sutera di lantai—posisi tradisional Majapahit, kaki terlipat di samping. Di antara mereka, meja rendah dari kayu jati ukir dengan teko teh perak dan dua cangkir porselen biru-putih dari Cina.
Permaisuri Sekartaji menuang teh sendiri—gestur yang seharusnya kasih sayang dari permaisuri ke putri tiri, tapi yang Sekar tahu dari ingatan kehidupan sebelumnya adalah persiapan pembunuhan. Pertama untuk dirinya, lalu untuk Sekar. Cangkir Sekar dia putar sedikit sebelum mendorongnya ke depan—gestur kecil yang Anjani lama tidak akan perhatikan, tapi Sekar perhatikan.
Cangkir Sekar diputar. Tanda. Mungkin ada ukiran kecil di salah satu sisi cangkir yang menandai mana yang berisi racun.
"Anjani. Bagaimana adaptasi Anda di istana?"
"Baik, Permaisuri. Berkat kebaikan Yang Mulia."
"Bramantya cerita Anda... berbeda dari yang dia ingat saat pertemuan pertama."
Sekar tersenyum tipis—senyum yang dia latih di cermin minggu ini.
"Mungkin demam mengubah saya, Permaisuri. Saat hampir mati, kita semua melihat hidup dengan sedikit berbeda."
Permaisuri Sekartaji menatap Sekar lama. Senyumnya tetap di tempat. Tapi mata-nya bekerja keras—Sekar bisa lihat itu, walaupun Sekartaji ahli menyembunyikan, ada momen kekecewaan di sudut bibirnya.
"Anjani. Minum tehnya. Sebelum dingin. Saya pribadi yang merancang campuran ini—untuk perempuan muda yang baru sembuh, dengan ginseng dari Cina."
Sekar mengangkat cangkir.
Tidak meminumnya.
"Permaisuri. Saya minta maaf yang sangat dalam. Tabib istana yang merawat saya bilang saya tidak boleh minum teh sore selama satu purnama—masih dalam pemulihan dari demam. Saya khawatir memengaruhi pemulihan saya. Kalau Permaisuri tidak keberatan, saya cuma menemani. Untuk lain waktu, saat saya sudah pulih sempurna, saya akan dengan senang hati menerima ramuan Yang Mulia."
Senyum Permaisuri Sekartaji berhenti satu detik. Sekar bisa hitung dengan jelas—seperseribu detik di mana Sekartaji harus memutuskan antara marah, kecewa, atau pura-pura menerima.
Lalu kembali ke senyum.
"Tentu. Tabib mana yang memberi tahu Anda? Saya kenal hampir semua tabib istana."
"Tabib Salim. Dari paviliun selatan, dekat barak prajurit."
(Sekar menebak nama itu dari ingatan Yi semalam. Tabib Salim—tabib yang loyal pada Permaisuri kedua Lasmi, ibu Anjani. Yi cerita Tabib Salim sudah jarang diundang ke istana sejak Lasmi mati, tapi masih praktek di paviliun selatan.)
Permaisuri Sekartaji mengangguk pelan.
"Tabib Salim. Saya ingat. Tabib yang dulu loyal pada ibumu. Bagus, kalau begitu—dia masih perhatian dengan kesehatan Anda. Saya akan kirim pesan ke beliau, terima kasih atas kepedulian beliau."
Pesan yang Sekar tahu artinya: Sekartaji akan curiga Tabib Salim, akan mengawasi, mungkin mencoba menetralkan dia.
Mereka bicara basa-basi sekitar setengah jam. Sekartaji menanyakan banyak hal—pertanyaan yang Anjani lama tidak akan bisa jawab dengan cepat. Tentang masa kecil di Lasem (Sekar pakai ingatan tubuh). Tentang rencana pernikahan (Sekar pakai protokol). Tentang Permaisuri Lasmi yang sudah meninggal (Sekar pakai ingatan tubuh, dengan air mata kecil yang dia paksa keluar untuk efek).
Sekartaji semakin tidak yakin. Sekar bisa lihat di sudut matanya—Sekartaji pernah ekspekti dari putri yang lemah, sekarang dia dapat putri yang menjawab dengan terlalu siap.
Akhirnya, Permaisuri Sekartaji bangkit.
"Anjani. Saya senang sekali dengan kunjungan Anda. Anda akan jadi menantu yang baik untuk Bramantya."
"Saya juga senang, Permaisuri."
"Mungkin pekan depan kita bisa bertemu lagi? Mungkin Tabib Anda sudah mengizinkan teh."
"Tentu, Permaisuri. Saya akan tanyakan."
Sekar pamit. Berjalan keluar paviliun dengan punggung tegak, langkah teratur, walaupun jantungnya menendang dada-nya seperti palu.
Yi menunggu di taman, di bawah pohon kemboja yang bunganya sudah jatuh sebagian. Wajahnya pucat seperti kapur.
"Tuan Putri. Anda—Anda baik-baik saja?"
"Iya, Yi."
"Anda minum teh?"
"Tidak. Setetes pun tidak."
Yi mengembuskan napas lega yang Sekar bisa rasakan dari jarak satu meter.
"Tuan Putri. Saya... saya selama setengah jam itu... berdoa. Saya berdoa ke setiap dewa yang saya tahu."
Sekar menggandeng tangan Yi saat mereka berjalan kembali ke paviliun mereka—gestur yang Anjani lama tidak akan lakukan dengan dayang di hadapan publik.
"Yi. Permaisuri tahu sesuatu tidak benar. Dia tidak menerima penolakan saya dengan tenang—dia hanya menyembunyikan. Sekarang dia akan curiga Tabib Salim, akan curiga Anda, akan mengawasi paviliun saya lebih ketat."
"Tuan Putri. Apa yang akan dia lakukan sekarang?"
Sekar menatap matahari yang mulai turun di langit Majapahit. Langit oranye yang sama dengan langit Jakarta, walaupun di dimensi yang berbeda.
"Yi. Dia akan mencoba lagi. Kali ini, dengan cara yang lebih sulit dihindari. Mungkin di pernikahan—di situ saya tidak bisa menolak minum tanpa skandal di depan semua tamu kerajaan."