Tiga hari setelah teh dengan Permaisuri Sekartaji, Sekar berjalan di taman kerajaan.
Tamannya luas—empat hektar di tengah istana Trowulan, dirancang oleh arsitek kebun Bali yang Sri Baginda undang dua puluh tahun lalu. Pohon-pohon kemboja putih dan merah di sisi-sisi, kolam ikan koi yang panjang dengan empat puluh ekor ikan yang harganya satu ekor sudah cukup untuk gaji prajurit setahun, jembatan kayu yang melengkung di atas air dengan ukiran motif Garuda di pegangan.
Sekar suka di sini. Tempat satu-satunya di istana yang dia bisa berpikir sendiri tanpa Yi mengawasi (Yi tidak boleh masuk taman utama tanpa undangan), tanpa dayang-dayang lain yang loyal pada Sekartaji yang Sekar curiga melaporkan setiap gerakannya.
Yi menemani dari jarak hari ini—berdiri di pintu taman, jauh tapi dalam jangkauan teriakan kalau Sekar butuh.
Saat Sekar berhenti di jembatan—mengamati ikan koi yang berenang lambat di air keruh dari hujan kemarin—suara langkah datang dari arah berlawanan jembatan.
Pria muda. Mungkin tujuh belas, delapan belas tahun—lebih muda dari Bramantya yang dua puluh empat. Memakai pakaian biru tua dengan sulam perak—bukan merah dengan emas seperti Bramantya. Pakaian pangeran tier kedua, putra dari permaisuri yang lebih rendah, yang tidak akan pernah jadi raja.
Wajahnya lebih lembut dari Bramantya. Bukan tampan menurut standar kerajaan—hidungnya sedikit lebar, bibir agak tipis—tapi mata yang... hidup. Mata yang menatap dunia dengan ingin tahu, bukan dengan kalkulasi politik.
Pria itu berhenti di tengah jembatan. Menatap Sekar dari jarak tiga meter.
"Permisi. Anda... Tuan Putri Anjani?"
Sekar menundukkan kepala—tidak terlalu dalam, dia tidak tahu siapa pria ini, dia bisa pangeran tier rendah yang tidak butuh hormat berlebihan, atau dia bisa orang yang Sekar harus hormati ekstra.
"Iya. Anda... Pangeran?"
"Adi. Pangeran Adi. Saudara tiri Bramantya. Ibu saya istri ketiga Sri Baginda—Selir Padma, yang Tuan Putri mungkin tidak ingat karena jarang muncul di acara istana."
Sekar menyembunyikan keterkejutannya dengan baik. Anjani lama tidak pernah bertemu Adi—Adi tinggal di paviliun jauh di belakang, jarang muncul karena ibunya bukan permaisuri penuh dan tidak punya undangan ke acara utama.
"Pangeran Adi. Saya senang berkenalan."
"Tuan Putri. Saya yang senang. Saya dengar Anda baru sembuh dari demam. Saya senang melihat Anda baik-baik saja."
"Terima kasih, Pangeran."
Mereka berdiri di jembatan. Diam. Adi tidak buru-buru pergi—dia tidak punya agenda istana hari ini, mungkin. Lalu Adi berkata pelan:
"Tuan Putri. Saya minta maaf kalau ini langsung. Tapi..."
"Tapi?"
"Saya pernah lihat Anda dari kejauhan, sebelum Anda sakit. Sebulan lalu, di taman ini juga. Anda kelihatan... berbeda dari yang sekarang."
Sekar menatap Adi dengan lebih hati-hati.
"Berbeda?"
"Iya. Sebelum sakit, Anda kelihatan... ketakutan. Selalu menundukkan kepala, bahkan saat tidak ada orang di sekitar. Anda berjalan seolah Anda mau menghilang. Sekarang Anda kelihatan... berbeda. Seperti orang lain yang punya tubuh sama."
Sekar tidak menjawab. Tangan dia di pegangan jembatan, terlalu erat.
Adi tersenyum kecil. Senyum yang berbeda dari Bramantya. Senyum yang sebenarnya sampai ke matanya—bukan senyum politik.
"Saya tidak bermaksud menggangu, Tuan Putri. Saya cuma... saya pikir Anda yang sekarang lebih bahagia. Itu bagus. Itu yang saya mau saya bilang."
Sekar menatap pria muda itu. Pangeran yang tidak punya kekuatan politik—dari ibu istri ketiga yang bahkan tidak diundang ke pesta. Tidak akan jadi raja. Tidak akan jadi siapa-siapa di hierarki istana.
Tapi yang menatap dia dengan mata yang... tulus. Mata yang melihat perubahan halus yang bahkan Bramantya yang akan menikahi dia tidak begitu peduli.
"Pangeran Adi. Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk memperhatikan."
Adi mengangguk. Lalu mundur selangkah—menjaga jarak dengan sopan.
"Tuan Putri. Saya tidak akan mengganggu lagi. Saya cuma... senang Anda baik-baik saja. Selamat sore."
Adi memberi salam dan pergi—berjalan menuju paviliunnya yang Sekar tahu jauh di belakang istana, di sisi yang hampir tidak terlihat dari jalan utama.
Sekar berdiri di jembatan sendirian. Menatap punggung Adi yang menghilang di balik pohon kemboja.
Yi mendekati setelah Adi cukup jauh—lima belas detik, dia menunggu protokol selesai.
"Tuan Putri. Pangeran Adi... pangeran yang lembut. Tidak punya kekuasaan tapi orangnya baik. Dia satu-satunya pangeran yang tidak terlibat politik istana."
"Iya, Yi."
"Tuan Putri. Anjani lama... pernah cerita tentang Pangeran Adi sekali. Saya hampir lupa."
"Apa yang dia bilang?"
"Anjani lama bilang Pangeran Adi pernah lihat dia di pasar—sebelum Anjani datang ke istana, saat Anjani masih di Lasem dan pergi ke pasar Trowulan dengan Paman untuk urusan—dan menghampiri dia, menanyakan apakah dia butuh bantuan. Anjani waktu itu hampir menangis karena pencuri mengambil belanjaan dia, dompet dengan dua keping perak. Pangeran Adi—yang juga di pasar tanpa pengawal—mengejar pencuri itu, mendapatkan dompet kembali, dan memberikannya ke Anjani."
"Adi mengenali Anjani sebelum Anjani datang ke istana?"
"Iya, Tuan Putri. Anjani lama bilang Pangeran Adi tidak pernah menanyakan nama. Cuma kasih dompet, salam, lalu pergi. Anjani lama tidak tahu Adi adalah pangeran sampai Anjani lama datang ke istana sebulan lalu dan melihat lukisan Adi di lorong barat."
Sekar menatap kolam koi. Ikan-ikan bergerak lambat di air keruh.
Mungkin di kehidupan ini—yang berbeda dari kehidupan sebelumnya yang Sekar ingat sebagai memori—ada lebih banyak sekutu daripada yang Anjani lama tahu. Sekutu yang bahkan Anjani lama sudah pernah bertemu sekali di pasar, tapi tidak mengenal saat dia paling butuh bantuan.
Sekar mulai menyusun rencana di kepala. Adi—pangeran yang tidak punya agenda politik, yang dipercaya Sri Baginda sebagai pangeran netral, yang sudah pernah membantu Anjani tanpa mengharapkan apa pun.
Adi mungkin bagian penting dari rencana yang Sekar belum sepenuhnya susun.