Setahun kemudian, Sekar minta sesuatu yang lebih berat: dia ingin ke Jakarta.
Bukan ke istana atau situs sejarah. Ke tempat hidupnya yang pertama berakhir.
Damar dan Laras ragu—itu jauh lebih menyakitkan dari Trowulan. Trowulan adalah hidup yang utuh. Jakarta adalah hidup yang terputus. Tapi Sekar bersikeras, dengan ketenangan yang melampaui umurnya.
"Bunda. Aku perlu ke sana. Buat pamit sama hidup yang kepotong. Biar aku bisa mulai yang baru dengan bersih."
Jakarta sudah berubah total dari zaman Sekar Wijaya. Tol Cawang yang lama sudah lama dibongkar, diganti jalur baru. Tebet yang dulu kampung padat sudah jadi kawasan lain. Tapi Sekar tetap minta dibawa ke titik-titik itu.
Di area bekas Tol Cawang—sekarang taman kota—Sekar berdiri lama, menatap.
"Di sekitar sini," katanya pelan. "Malam itu. Pulang lembur. Pukul hampir tengah malam. Truk di depan berhenti mendadak. Lalu gelap."
Dia tidak menangis kali ini. Hanya menatap, tenang.
"Sekar Wijaya umur 27. Belum nikah. Belum punya anak. Baru mulai karier. Punya adik, Ito, yang dia sayang. Punya mimpi-mimpi yang belum sempat." Sekar menarik napas. "Lalu—selesai. Dalam satu detik. Tanpa pamit."
Dia menutup mata, lalu berbicara pelan—pada hidup yang dulu:
"Sekar Wijaya. Aku kamu. Kamu aku. Aku minta maaf hidupmu kepotong. Itu nggak adil. Kamu nggak salah apa-apa—cuma pulang kerja, malam itu."
"Tapi dengar. Kamu nggak hilang. Kamu jadi Anjani, hidup penuh di Majapahit. Lalu kamu jadi aku—Sekar Atmaja. Dan kali ini, aku janji ke kamu: aku akan hidup utuh. Buat kamu. Buat semua yang kamu nggak sempat. Aku akan jatuh cinta. Aku akan bikin karya. Aku akan jadi tua, dikelilingi keluarga. Aku akan dapat senja yang tenang—yang kamu nggak dapat."
"Jadi istirahat sekarang. Hidupmu yang kepotong—aku yang lanjutkan. Sampai utuh."
Sekar membuka mata. Dan untuk pertama kalinya sejak dia bisa mengingat, ingatan kecelakaan itu—kotak besi, jalan tinggi, gelap—terasa ringan. Bukan trauma lagi. Hanya kenangan dari hidup lama yang akhirnya dilepaskan.
Di mobil pulang, Sekar tidur nyenyak—tidur paling tenang sejak dia lahir.
Damar menyetir, Laras menatap putri mereka di kaca spion.
"Damar," bisiknya. "Dia melepaskan. Hidup yang kepotong itu. Dia akhirnya bisa mulai hidupnya sendiri."
(bersambung...)