Sekar tumbuh remaja, dan menemukan tantangan yang tidak ada di dua hidup sebelumnya: menjadi anak biasa di antara anak-anak biasa.
Di sekolah, dia tidak bisa bercerita. Bagaimana menjelaskan bahwa kamu mengingat memerintah kerajaan, mengingat mati di kecelakaan, mengingat membesarkan anak yang sekarang tinggal nama di buku sejarah? Tidak ada teman yang akan mengerti.
Jadi Sekar menyimpannya. Tampak seperti remaja biasa—tapi membawa, diam-diam, berat dua kehidupan.
Kadang itu membuatnya merasa tua. Teman-temannya ribut soal hal-hal kecil—drama pertemanan, tren, kekecewaan sesaat—dan Sekar, yang pernah kehilangan kerajaan dan kehilangan hidup, sulit ikut peduli.
"Bunda," katanya suatu malam. "Aku ngerasa... beda. Aku duduk di kelas, dengerin teman-teman ribut soal hal kecil, dan aku ngerasa kayak nenek-nenek yang nyasar di badan remaja."
Laras tersenyum sedih. "Sekar. Anjani juga merasa begitu dulu—Sekar Jakarta di tubuh putri Majapahit, merasa asing di antara orang awal Majapahit."
"Iya. Aku ingat perasaan itu. Tapi kali ini kebalikannya. Aku punya dua hidup tua, di antara orang-orang yang baru mulai satu."
"Lalu apa yang Anjani lakukan, dulu? Saat dia merasa asing?"
Sekar berpikir, menggali ingatan hidup keduanya.
"Dia... dia berhenti mencoba jadi orang awal Majapahit. Tapi dia juga berhenti merasa lebih tinggi. Dia belajar—setiap orang punya hidupnya sendiri, dan ribut soal hal kecil bukan berarti dangkal. Itu berarti mereka masih punya kemewahan untuk peduli hal kecil. Itu... itu sebenarnya indah."
Laras memeluk putrinya. "Pelajaran yang bijak, sayang. Dari hidupmu yang kedua."
"Iya. Tapi susah ngejalaninnya." Sekar menyandarkan kepala di bahu ibunya. "Aku kadang kesepian, Bunda. Aku nggak bisa cerita ke siapa-siapa. Cuma keluarga yang tahu siapa aku sebenarnya."
"Suatu hari, Sekar, kamu akan ketemu orang yang bisa menerima seluruh dirimu. Anjani ketemu Adi. Bahkan Sekar Jakarta, kalau hidupnya nggak kepotong, mungkin akan ketemu seseorang. Cinta selalu datang, untuk jiwa yang siap menerimanya."
"Aku siap, Bunda. Aku cuma... belum ketemu."
"Kamu baru lima belas, sayang." Laras tertawa lembut. "Pelan-pelan. Kamu punya seluruh hidup. Hidup yang utuh, ingat?"
Sekar tersenyum. "Iya. Hidup yang utuh. Pelan-pelan."
(bersambung...)