"Mom, Carla mau mandi dulu ya." Carla memandang wajah Elara yang kini berdiri di dapur. Wanita itu sedang memotong beberapa jenis sayuran untuk di masak sebagai menu makan malam mereka nanti.
"Ya. Samponya ada di sana. Mommy belum sempat membawanya ke kamar mandi," ucap Elara sambil menunjuk plastik putih di atas meja. Carla hanya mengangguk sebelum mengambil plastik tersebut. Ia memeriksa barang-barang yang ada di dalam plastik satu-persatu.
"Ma, apa ini?" Carla menemukan obat di dalam sana. Wajah Carla terlihat khawatir karena dia tidak mau ibunya sampai jatuh sakit.
Elara mengeryitkan dahi melihat satu strip obat ada di tangan putrinya. Namun, seperkian detik kemudian dia tersenyum. "Itu hanya obat asam lambung. Mama beli karena buat jaga-jaga kalau asam lambung mama kambuh," jawab Elara dengan ekspresi wajah yang menyakinkan.
Carla melihat obat itu lagi dan mengingat bungkusnya. Setelah itu cepat-cepat ia masukkan kembali obat tersebut ke dalam plastik sebelum mengambil sampo miliknya. Carla membawa sampo tersebut bersama dengan handuk berwarna merah muda ke dalam kamar mandi.
"Mom, airnya dingin!" teriak Carla dari kamar mandi. Cepat-cepat dia keluar lagi untuk meminta bantuan Elara.
"Airnya dingin?" Wajah Elara terlihat kebingungan. Ia ingin memeriksa ke kamar mandi langsung tetapi minyak telah panas. "Tunggu mommy menyelesaikan masakan ini ya sayang."
"Baik, Mom," jawab Carla.
Suara ketukan pintu membuat Carla menahan langkahnya menuju ke kamar mandi. Maklum, apartemen Elara sempit jadi kamar mandi ada di dekat dapur. Elara yang sedang ingin memasukkan bahan masakannya ke kompor lagi-lagi harus meminta bantuan Carla untuk melihat tamu yang datang.
"Carla, apa kau bisa menolong mommy?.
"Baiklah, Mom." Carla paham apa yang diinginkan ibu kandungnya. Anak kecil itu berjalan ke arah pintu dengan handuk di lehernya. Secara perlahan ia menarik handle pintu agar bisa melihat tamu yang datang.
Seorang wanita berbadan gemuk berdiri di depan pintu. Wajahnya sangar hingga membuat Carla takut.
"Maaf, Anda siapa?"
"Di mana Elara!" Tanpa peduli dengan kehadiran Carla di depan pintu, wanita itu menerobos masuk ke dalam apartemen. Di belakangnya ada dua pria berbadan kekar mengikutinya. Carla yang harus bersandar di dinding karena memberi jalan wanita itu masuk menjadi semakin khawatir.
"Siapa kalian!" teriak Carla dengan suara kecilnya. "Pergi! Jangan sakiti Mommy!"
Elara yang mendengar teriakkan Carla di depan segera menghentikan masak memasaknya. Ia berlari untuk memeriksa keadaan putrinya.
"Carla, siapa yang datang?"
Pertama kali melihat wajah tamunya, Elara merasa takut. Ia langsung memeluk Carla yang kebetulan berlari mendekatinya.
"Mommy, mereka siapa?"
Wanita berbadan gemuk itu melipat tangannya di depan d**a. Menatap Elara dengan sinis.
"Apa kau masih ingat denganku, Elara!"
Elara mengusap rambut Carla. "Sayang, masuk ke kamar ya."
Carla mengangguk sebelum berlari. Keinginannya untuk mandi harus tertunda karena kehadiran tamu tidak diundang. Dengan cepat Carla masuk ke kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Elara melirik ke kamar dan memastikan putrinya tidak menguping pembicaraan mereka.
"Sudah 3 bulan kau tidak membayar utangmu, Elara! Kau juga tidak datang menemuiku! Apa kau pikir kau bisa lolos begitu saja!"
"Maaf, Tante. Saya belum ada uang." Elara menunduk dengan wajah bersalah.
"Lalu, kau memintaku menunggu sampai kau punya uang?" ketus wanita tersebut.
Elara harus utang kepada rentenir untuk membayar biaya sekolah Carla. Memang hidupnya sangat susah masa ini. Walau sudah banting tulang tetap saja gajinya tidak cukup. Semua itu ia sembunyikan agar Carla tidak tahu kesedihan yang ia rasakan.
"Kau harus membayar setengah dari total utangmu sekarang juga, Elara! Jika tidak …."
"Saya akan membayarnya!" Elara berlari menuju meja makan. Ia mengambil tas yang tergeletak di atas meja. Di dalamnya ada uang yang tadinya diberikan Carla kepadanya. Walau tadinya uang itu untuk membeli bahan makanan, tapi Elara lebih mementingkan nyawa putrinya. Karena para rentenir akan membawa Carla pergi jika ia tidak sanggup melunasi utangnya.
Elara mematung sejenak ketika uang itu ada di tangannya. "Uang ini belum cukup." Elara melihat ponsel miliknya yang tergeletak. Hanya itu benda berharga yang ia miliki. Tanpa pikir panjang Elara mengambil ponselnya yang tergelak dan menggabungkannya dengan uang di tangannya.
"Ini, Tante. Saya rasa ini lebih dari cukup jika untuk membayar setengah utang saya." Elara segera memberikan uang itu kepada rentenir. Rentenir itu menerima uang dan ponsel Elara dengan senyuman. Ia membuka ponsel dan melempar kartu milik Elara ke lantai.
"Baiklah. Sisanya tetap aku tunggu! Aku tidak suka kau berbohong dan menghindar lagi, Elara!"
"Ba baik, Tante!" Elara menunduk takut.
Di sisi lain, Carla melihat kejadian di ruang tamu melalui laptop. Ia sengaja menghubungkan rekaman cctv yang ada di ruangan itu ke laptop miliknya. Hal yang mudah bagi Hacker seperti Carla. Bahkan ia bisa mendengar dengan jelas percakapan ibunya dengan rentenir.
"Tante ini sungguh sombong! Beraninya dia membuat mommy sedih." Carla memikirkan sebuah cara. Tiba-tiba saja ia terpikirkan rencana licik. Carla segera meretas ponsel wanita rentenir itu walau tidak tahu nomor ponselnya. Bagi Carla itu hal yang mudah.
Ia menguasai seluruh isi di dalam ponsel wanita rentenir tersebut. Dengan mudahnya Carla mengambil seluruh tabungan wanita itu dan mendonasikannya ke panti asuhan. Senyum manis mengembang indah ketika rencana kecilnya telah berhasil.
"Mungkin dia harus berdonasi agar tidak sombong lagi." Satu tombol enter yang di tekan Carla membuat seluruh tabungan wanita itu terkuras habis. Dunia canggih yang di simpan di ponsel memang terkadang memudahkan. Tapi, terkadang bisa juga membuat pemiliknya celaka dan rugi besar.
Pintu terbuka. Carla segera mengganti tampilan laptopnya dengan game yang biasa ia mainkan. Game anak-anak yang memang sangat di sukai anak seusia Carla.
"Sayang, kau tidak jadi mandi?" Elara duduk di tempat tidur Carla.
"Ya, Mom." Carla sok sibuk dengan gamenya. Ia tidak mau Elara tahu apa yang sudah ia lakukan. "Sebentar lagi."
Elara menghela napas. Uang sudah habis dan ia lama lagi gajian. Tidak tahu kepada siapa harus bercerita karena anak di depannya masih berusia lima tahun.
"Mom, di mana Daddy?"
Elara kaget bukan main ketika pertanyaan yang ditakuti Elara selama bertahun-tahun itu muncul. Elara gugup dan mulai bingung.
"Apa kau bilang? Daddy? Kenapa kau bisa memikirkan hal tentang Daddy, Carla?"
Carla mematikan laptopnya. Ia tersenyum manis memandang Elara. "Semua orang juga tahu, kalau tugas Daddy bekerja dan tugas mommy memasak dan menemani anaknya bermain dan belajar. Lalu, di mana Daddy? Kenapa dia tidak memberi kita uang?"
Elara tidak lagi bisa mengelak kali ini. Carla juga sudah besar dan semakin pintar.
"Daddy sudah tiada."
"Tiada? Apa Daddy sudah meninggal?" tebal Carla asal saja.
Elara mengangguk. "Ya."
"Kapan?" tanyanya ingin tahu.
"Saat kau masih ada di dalam perut."
"Di mana makamnya? Kenapa mommy tidak mau mengenalkan makam Daddy kepadaku?" Carla semakin menjadi. Ia terlihat bersemangat untuk mengetahui informasi lengkap mengenai ayah kandungnya.
"Karena … karena kita berada di kota yang berbeda. Jika ingin ke sana harus memiliki uang yang banyak."
"Berapa? Carla akan cari uangnya."
Elara tidak tahu alasan apa lagi yang harus ia katakan. Di tambah lagi putrinya sudah pintar mencari uang.
"Mom …." Carla merasa bersalah ketika melihat Elara sedih. "Are you oke?"
"Ya. Apa kau mau berjanji kepada mommy satu hal Carla?"
Carla mengangguk pelan. "Apa mom?"
"Jangan bahas soal daddy. Itu membuat mommy sedih."
Carla terdiam membisu. Ia memeluk Elara setelahnya. "Maafkan Carla, Mom. Carla janji tidak akan membahas soal Daddy lagi."
Elara tersenyum dan membalas pelukan Carla. "Jika waktunya tiba, mommy akan ceritakan yang sebenarnya terjadi. Mommy janji, Carla," gumam Elara di dalam hati. Berbeda dengan apa yang dipikirkan Carla detik ini.
"Aku harus memiliki uang yang banyak agar bisa berkunjung ke kota tempat Daddy di makamkan. Aku pasti bisa mendapatkan banyak uang. Aku juga harus memikirkan utang mommy kepada rentenir tadi. Aku tidak mau mommy di kejar-kejar utang seperti tadi," gumam Carla di dalam hati.
Elara menatap laptop milik Carla. Kini hanya itu satu-satunya benda berharga yang mereka miliki. Elara membelikan laptop setengah pakai itu kepada Carla agar anaknya tidak bosan ketika di tinggal di rumah jika dia ada urusan mendadak.
"Jika aku tidak berhasil mendapatkan pinjaman untuk membayar utangku pada rentenir tadi. Terpaksa aku jual laptop Carla. Semoga saja nanti dia mau mengerti. Aku juga tidak tega menjualnya. Tetapi, mau bagaimana lagi?" gumam Elara di dalam hati.
"Sayang, airnya sudah panas lagi. Sekarang kau bisa mandi. Mommy juga mau lanjut masak lagi," ucap Elara sambil menatap wajah putrinya.
"Oke, Mom!" Carla segera berlari ke pintu sambil membawa handuk. Elara mematikan laptop sebelum pergi meninggalkan kamar tersebut.