Carla terlihat sangat lahap ketika menghabiskan makan malamnya. Berbeda dengan Elara yang justru terlihat tidak berselera menghabiskan masakannya sendiri. Padahal menu makan malam kali ini lumayan lezat. Ada sayur dan juga ikan. Biasanya Elara tidak memiliki uang untuk membeli ikan. Hanya ada sayur-sayuran hijau yang diolah menjadi lauk untuk menemani nasi yang sudah matang.
Carla memperhatikan Ibu kandungnya dengan saksama. Anak kecil itu memilih untuk menghabiskan makanannya terlebih dahulu sebelum berbicara. Dia tahu kalau ibunya akan marah ketika ia makan sambil mengobrol.
"Mom, apa Mommy memikirkan wanita jahat tadi?"
Elara mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Carla. "Wanita jahat? Siapa?"
"Mommy lupa apa pura-pura lupa?" Carla mengambil air minum yang ada di depannya dan meneguknya perlahan.
"Sayang, mommy benar-benar tidak ingat. Sebenarnya wanita mana yang kau bicarakan. Apa ibu-ibu yang baru datang tadi? Yang menjadi tetangga baru kita?" Wajah Elara terlihat serius seolah memang dia tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh putrinya.
"Bukan, Mom. Wanita jahat yang datang bersama dengan beberapa pria berwajah seram. Tubuhnya besar dan mengerikan seperti monster," ucap Carla menjelaskan. "Sepertinya mereka orang jahat. Nada bicara mereka sangat kasar. Apa mereka yang sudah membuat Mommy tidak selera makan?"
Elara tersenyum. "Mommy makan dulu ya. Tidak baik bicara sambil makan," jawab Elara. Sebenarnya ia sengaja mengalihkan pembicaraan tentang rentenir tersebut. Elara tidak mau sampai putrinya terlibat dalam masalah ekonomi yang kini ia hadapi.
"Mommy pasti gak mau aku tahu masalah yang mommy alami saat ini. Sebenarnya berapa utang mommy. Bagaimana caranya agar mommy bisa bayar utang itu? Sepertinya aku memang harus mendapatkan uang. Tapi, bagaimana caranya? Apa ibu guru di sekolah bisa membantuku?" gumam Carla di dalam hati. Ia turun dari kursi dan berjalan mendekati Elara. "Mom, Carla mau ngerjain PR ya Mom. Setelah itu Carla langsung tidur. Mommy jangan tidur malam-malam ya."
"Iya sayang …."
Carla mengecup pipi kanan dan kiri Elara sebelum pergi. Elara sendiri hanya bisa tersenyum untuk menutupi masalah yang kini memenuhi pikirannya. Ia memandang putrinya sampai anak kecil itu hilang di balik pintu. Setelahnya, ia meletakkan kembali sendok yang sempat ada di genggaman. Menyingkirkan piring sebelum menjatuhkan kepalanya di atas meja. Nafsu makannya benar-benar hilang.
"Sudah hampir enam tahun aku menjanda. Kenapa hidupku tidak menjadi lebih baik? Seperti ini terus-menerus. Apa yang harus aku lakukan? Pendidikan tidak punya. Keterampilan apa lagi. Dengan gajiku sebagai guru les yang datang dari rumah ke rumah tidak akan bisa mencukupi kebutuhan hidup. Di tambah lagi, sekarang Carla sudah sekolah. Pasti banyak yang harus di bayar. Dari mulai buku, uang jajan sampai uang iuran. Anak lesku juga semakin hari semakin berkurang karena mereka sudah menemukan guru lest yang jauh lebih baik. Sepertinya juga yang bertahan karena orang tuanya merasa kasihan melihat Carla." Elara memejamkan matanya sejenak. Tiba-tiba ia kembali mengingat penghinaan mantan mertuanya enak tahun yang lalu. Kedua matanya melebar dan ia segera bangkit.
"Tidak! Aku harus semakin. Aku tidak boleh menyerah. Hari ini aku mungkin ada di bawah. Mungkin lain kali aku akan ada di atas. Roda pasti berputar. Semoga saja roda kehidupanku tidak nyangkut," ujar Elara penuh semangat. Ia mengambil piring yang tadi sebelum melanjutkan makannya yang tertunda. Wanita itu memasukkan makanannya ke dalam mulut dengan wajah berseri. Ia berusaha untuk menghadapi segala masalah yang ada. Bukan menghindarinya.
Setelah melihat ibu kandungnya sudah makan hingga menghabiskan semua makanan yang ada di meja, Carla cepat-cepat mematikan laptopnya. Anak kecil itu naik ke atas tempat tidur. Ia berdoa sebelum berbaring di atas ranjang. Sambil melihat langit-langit kamar yang berwarna biru, Carla kembali memikirkan sesuatu.
"Kasihan mommy …," lirihnya sebelum memejamkan mata.
***
Di sebuah club' malam, seorang pria duduk sambil meneguk minuman yang baru saja ia pesan. Dua wanita berpakaian seksi duduk di samping kanan dan kiri tubuhnya untuk membantu menuangkan minuman ke dalam gelas yang telah kosong. Sesekali wanita-wanita itu menggoda pria tersebut dengan cara menghirup aroma tubuhnya sambil memejamkan mata.
Pria itu hanya diam dan bersikap tenang. Ia sama sekali tidak tergoda dengan godaan wanita seksi di depannya. Ia memandang ke depan dengan tatapan tidak terbaca. Wajahnya memerah pertanda kalau kini dia memiliki banyak masalah.
"Luca, apa kabar?" Seorang pria muncul di hadapan pria tersebut. Ia mengambil sebotol minuman yang tersaji di meja dan menuangkan ke dalam gelas kristal yang masih kosong.
"Sejak kapan kau tiba di kota ini, Ken?"
"Tadi sore. Ada kabar gembira yang ingin aku sampaikan padamu," ucap pria bernama Ken tersebut.
"Kabar apa?" tanya Luca. Ia meminta dua wanita yang ada di dekatnya untuk menyingkir sebelum menuang minuman itu ke dalam gelasnya lagi.
"Aurel sudah pulang ke kota ini. Sepertinya dia akan menetap di kota ini," ujar pria itu penuh semangat.
"Lalu, dimana kabar gembiranya?" tanya Luca tidak bersemangat. Ia meneguk minumannya dan menikmatinya dengan sepenuh hati.
"Bukankah kalian adalah tunangan? Seharusnya kau bahagia karena tidak lama lagi kau akan menikah dengan wanita yang sudah menjadi tunanganmu itu," jawab Ken cepat.
"Aku sudah membatalkan pertunangan itu. Aku tidak tertarik untuk menikah!" jawab Luca sebelum membanting gelas kosong itu di meja. "Bukankah kau mencintainya? Kenapa tidak kau kejar saja?"
"Luca, kau serius? Tapi, mau sampai kapan kau menolak wanita? Pria sepertimu ini apa lagi yang dipikirkan? Uang banyak, wajah ganteng, rumah mewah, perusahaan dimana-mana, geng mafia juga punya. Hidupmu nyaris sempurna!"
"Tapi bagiku, wanita hanya merepotkan saja. Aku tidak mau menikah! Aku lebih menyukai kebebasan seperti ini. Tidak ada yang menunggu dan tidak ada yang di tunggu."
Ken tertawa geli mendengar jawaban Luca. "Lalu, urusan ranjang bagaimana? Sampai kapan kau bergonta-ganti pasangan terus? Kau tidak takut terkena penyakit?" ledek Ken. Dia sengaja menakut-nakuti Luca agar pria itu memiliki keinginan untuk menikah.
"Kalau begitu aku menikah dengan Aurel saja," jawab Luca cepat. Dia menuang lagi minumannya ke dalam gelas sambil menahan tawa. Ken yang terlihat geram merebut botol itu dan meneguknya langsung.
"Lakukan saja kalau kau bisa. Bukankah kau sudah menolaknya? Sekali menolak maka selamanya menolak. Aurel lebih baik bersamaku. Pria yang mencintainya. Tidak sepertimu yang menikahinya tanpa cinta," ketus Ken.
Luca tertawa geli mendengar omelan Ken. "Aku doakan agar kau berhasil mendapatkan hatinya. Dia sudah cinta mati padaku," ledek Luca semakin menjadi.
"Diamlah! Kau tidak diizinkan bicara saat ini!" ketus Ken. Pria itu beranjak dari sana karena malas berdebat dengan Luca. Sedangkan Luca sendiri masih tertawa di sofa tersebut sambil memandang punggung temannya yang sudah menjauh.
"Apa dia pikir aku sebodoh itu?" gumam Luca di dalam hati.