Angin bersalju bertiup kencang, mencambuk tubuh dalam diam. Di tengah gumpalan putih yang tak kunjung reda, seorang wanita melangkah tegap.
Jubah hijau bersulam burung bangau melambai tertiup angin, gaun dalam berwarna putih pucat tampak membeku oleh udara dingin. Tiada perhiasan mencolok, hanya rambut yang disanggul sederhana, dan jemari tanpa cincin.
Namun tatapannya—tenang, tajam, dan penuh tekad.
Xu Jingyang menegakkan punggungnya, seolah-olah badai salju hanyalah angin sepoi yang tak patut ditakuti. Ia hanya memiliki satu tujuan:
Tidak akan membiarkan orang lain menikmati jasa militer yang telah ia pertaruhkan dengan nyawanya sendiri.
Keluarga Xu, segerombolan parasit tak tahu balas budi, telah menelannya hidup-hidup. Kini, ia akan membuat mereka memuntahkannya—bahkan menggandakan apa yang telah mereka curi darinya. Bila perlu, nyawa dibayar dengan nyawa.
Kini, Xu Jingyang kembali. Bukan untuk memohon belas kasihan. Tapi untuk menuntut haknya.
---
“Nona! Tunggu aku!”
Sosok kecil melompat dari kereta dengan tergesa-gesa, memeluk tas-tas dan menggenggam uang sewa untuk diserahkan kepada kusir. Ia mengejar langkah Xu Jingyang yang tak pernah berhenti.
Zhuying, pelayan setia yang selama ini menemani perjalanannya, terperangah saat melihat sang Nona berlutut setiap langkah.
“Nona... apa yang sedang Anda lakukan?” serunya khawatir.
Xu Jingyang menjawab lirih, “Aku hendak menuntun jiwa saudaraku pulang. Aku harus bersujud di setiap langkahku.”
Zhuying menatap mata tuannya. Tanpa ragu, ia menjatuhkan diri dan menirukan gerakannya.
“Aku akan menemani Anda, Nona.”
Xu Jingyang menoleh padanya. Di balik tatapan dingin, terselip rasa haru. Ia tahu, gadis ini adalah satu-satunya orang yang benar-benar tulus padanya.
Dulu, Zhuying hampir dijual oleh ayahnya sendiri ke rumah bordil. Xu Jingyang menyelamatkannya, bahkan sebelum gadis itu sempat menabrakkan diri ke tembok.
Sejak saat itu, Zhuying tak pernah meninggalkannya.
---
Namun Xu Jingyang tahu, langkah ini tak bisa gegabah. Ia tidak bisa serta-merta mengumumkan dirinya sebagai Jenderal Shen Ce. Jika informasi itu jatuh ke tangan yang salah, maka kematian akan datang lebih cepat daripada keadilan.
Namun lebih dari itu—
Ia tidak akan membiarkan Xu Rouzheng merebut identitasnya sebagai satu-satunya adik kandung Jenderal Shen Ce.
Marquis Changping memiliki kekuasaan besar di istana. Tanpa dukungan yang lebih kuat, Xu Jingyang takkan pernah bisa menang melawan intrik di balik tembok keluarga bangsawan.
Ia butuh sekutu—seseorang yang berpengaruh, yang mampu membalikkan keadaan dengan satu kata.
Dan ia mengingat sesuatu dari kehidupan sebelumnya…
---
Beberapa tahun silam, di jalan bersalju yang sama, Xu Jingyang pernah melihat sebuah kereta tersangkut di lumpur. Ia membantu pemiliknya, lalu pergi tanpa mengharapkan balasan. Baru kemudian ia tahu—orang dalam kereta itu bukanlah orang sembarangan.
Kini, salju turun kembali. Dingin merayap hingga ke tulang. Xu Jingyang tetap bersujud, langkah demi langkah.
---
“Nona! Lihat! Itu gerbang utara ibu kota!”
Suara Zhuying dipenuhi harap. Xu Jingyang mengangkat kepalanya. Benar, di kejauhan, gerbang batu berdiri kokoh. Tapi perhatiannya langsung tertuju pada sebuah kereta berhias kain sederhana, terparkir tak jauh dari jembatan batu.
Beberapa pelayan dan pengawal tampak bingung, seperti tengah mencari solusi atas sesuatu.
Xu Jingyang menarik napas dalam-dalam. Lalu kembali bersujud.
---
Orang-orang dari kereta memperhatikannya. Sosok wanita muda, berpakaian tipis, bersujud di tengah badai—pemandangan langka dan menggugah.
Namun sebelum mereka sempat bereaksi, tubuh Xu Jingyang tiba-tiba terhuyung dan jatuh ke salju.
“Nona! Nona! Jangan menakutiku!” jerit Zhuying panik.
---
Tirai kereta terangkat perlahan. Sebuah tangan berkulit seputih giok menggenggam pinggirannya.
“Nyonya Zhang,” suara lembut namun berwibawa terdengar dari dalam kereta, “pergilah lihat apa yang terjadi.”
Seorang wanita setengah baya turun dengan cepat. Tatapan penuh khawatir dari dalam kereta mengikuti gerakannya.
Tak lama kemudian, ia kembali dan melapor dengan suara rendah.
“Putri, wanita yang pingsan itu adalah adik kandung Jenderal Shen Ce.”
“Apa katamu?” Sang Putri terkejut.
Semua orang tahu bahwa Jenderal Shen Ce memang memiliki seorang adik perempuan—putri sulung keluarga Xu. Namun ia jarang terlihat di depan umum. Banyak yang bahkan tak tahu rupa wajahnya.
“Mengapa dia bersujud di salju seperti itu?”
Nyonya Zhang menjawab, “Pembantunya berkata, Nona Xu membawa relik sang Jenderal pulang. Seorang biksu memintanya bersujud setiap langkah agar arwah mendiang dapat kembali dengan tenang dan dibangun makam yang layak. Namun karena salju turun deras, ia pingsan karena kedinginan.”
Tanpa pikir panjang, Sang Putri memerintah, “Cepat, bawa dia ke dalam kereta.”
Namun sebelum itu, ia menahan tangan Nyonya Zhang dan berbisik:
“Kirim seseorang untuk menyelidiki dari arah mana dia datang. Kita harus tahu siapa sebenarnya gadis ini.”
---
Xu Jingyang kini berbaring di dalam kereta, tak sadarkan diri. Namun ia bisa merasakan kehangatan perlahan menjalari tubuhnya.
Seseorang menyelimutinya, seseorang menyodorkan air jahe hangat ke bibirnya. Tangan-tangan asing namun lembut memperlakukannya seolah ia bukan siapa-siapa—dan sekaligus, seolah ia sangat berharga.