Sinar matahari pagi menyambut Elea. Membangunkannya dari tidurnya. Setiap malam ia lewati demgan rasa bosan serta kesal. Disaat anak-anak seumurannya bisa bermain dan menyambut cahaya bulan purnama bersama dengan sang kekasih, dia hanya bisa duduk-duduk di dalam kamarnya sambil membaca buku. Terjebak di packnya sendiri karna ia tak pernah diijinkan keluar.
"Bosan ... aku bosan ..." keluhnya sambil menghembuskan napasnya panjang.
Tok tok tok ...
Terdengar suara ketukan dari depan pintu kamarnya. Elea menoleh ke arah pintunya yang bewarna merah mencolok itu dengan tatapan malas.
"Maaf nona, Tuan Dave mencari anda," ujar seorang pelayan dari luar kamarnya.
Gadis bernama lengkap Eleano Ameera Zylvechia itu memutar bola matanya malas. "Baiklah. Aku akan segera kesana."
Elea segera mandi dan menganti pakaian dengan pakaian yang lebih pantas. Bagaimana pun ia tetaplah seorang putri yang harus menunjukan kewibawaannya.
Dengan gaun merah selutut, rambut yang ia biarkan tergerai dengan jepitan bunga menghiasi rambutnya, Elea menuruni tangga, berjalan menuju ke taman. Sesampainya ia di taman yang dipenuhi dengan banyak tanaman itu, ia disambut oleh kicauan burung yang saling bersaut-sautan terdengar merdu ditelinganya.
Ia tahu kakaknya senang sekali berteduh dibawah pohon di dekat danau ditaman itu jadi Elea menghampirinya.
"Kak ..."
Elea memandangi wajah tampan Dave, kakaknya. Bulu matanya lentik, kulitnya yang putih, bahkan dibalik pakaian yang ia kenakan saat ini tersembunyi otot-ototnya yang mengunggah gairah setiap wanita yang melihatnya. Siapa yang bisa tahan didekat pria tampan yang pendiam seperti Dave?
Dengan masih memjam mata, Dave berkata, "Elea, kemarilah," pinta Dave.
Elea saat ini harus menahan malu karna ia yakin telah tertangkap basah telah menganggumi tubuh kakaknya sendiri. Sekarang ia merasa sama seperti pria b***t diluar sana.
Ragu-ragu, Elea berjalan mendekati Dave yang tengah berbaring dihamparan rumput.
"Ada apa kak?"
Dave menjewer telinga Elea dengan sangat keras. Elea merintih kesakitan, "Aw ... sakit kak," keluhnya.
Elea memegangi telinganya yang mulai memerah. Rasanya perih dan panas.
"Ada apa sih kak?" tanya Elea lagi.
Dave menatap tajam Elea. Manik mata emeraldnya seolah tengah mengintimidasi Elea diam-diam.
"Kau pikir aku tak tahu apa yang kau lakukan semalam, hah?!!" seru Dave. Ia sudha tak tahan dengan sikap kekanak-kanakan Elea.
Dave mengepalkan tangannya. Ingin rasanya ia memukul adik kecilnya yang nakal itu.
"Aku ... nggak ngapa-ngaapin kok kak," ujar Elea pura-pura tak tahu.
"Nggak usah berlagak bodoh gadis kecil." Elea menatap laki-laki yang berdiri dibelakangnya. Ia tak pernah melihat sosok laki-laki itu. Siapa gerangan laki-laki itu?
"Siapa yang kau panggil gadis kecil, hah?!!" geram gadis itu.
Elea menatap tajam pria itu. Tubuhnya kekar dan begitu tinggi. Jika dibandingkan, tinggi Elea hanya setinggi d**a pria itu.
"Benar-benar menyebalkan," batin Elea kesal saat menyadari perbedaan tinggi mereka.
Elea menendang tulang kering pria itu. Pria itu melenguh kesakitan.
"Kau benar-benar ku-"
"Apa? Kau ingin bilang aku apa, hah? Kenal saja tidak, jangan seenaknya!!" seru gadis itu kesal. Mungkin saat ini satu pack dapat mendengar teriakannya.
Dave menatap kedua insan itu keheranan.
"Baru bertemu saja sudah bertengkar seperti anjing dan kucing," gumam Dave heran.
Dave bangkit berdiri dan berjalan mendekati keduanya. Pria itu berusaha melerai keduanya namun malah dibentak.
"Diam!!" seru keduanya bersamaan.
"Ternyata kalian berdua sangat cocok ya," ujarnya kesal.
"Hah?!!"
Dave menatap keduanya tajam membuat nyali Elea dan pria itu langsung ciut seketika.
"Sekarang kalian ikut denganku," pinta Dave dengan nada dingin.
Dave berjalan mendahului kedunya tanpa menoleh sedikit pun karna ia tahu keduanya pasti tetap berulah walau ia bentak.
Elea menyenggol sikut pria itu dan tentu saja dibalas dengan sengkatan di kakinya hingga Elea tersungkur ke tanah.
"Kau ini benar-benar menyebalkan ya!!" seru Elea.
Bukannya membantunya berdiri, pria itu malah berjalan meninggalkannya dengan tatapan songongnya.
Elea menggeram kesal. Jika saja ia bisa mencakar wajah pria itu maka sudah ia lakukan.
"Dave, Elea," panggil Ziona, ibu mereka.
Elea menatap Ziona dengan tatapan takut. Gadis itu bersembunyi di belakang punggung Dave. Tangannya yang gemetar meremas baju kakaknya.
Ia hanya berharap Dave akan membelanya sekali ini saja.
"Elea, keluar kamu!! Jangan bersembunyi!!" seru wanita paruh baya itu.
Elea masih saja tak berkutik. Ia tetap bersembunyi dibelakang Dave.
Dave menghela napas panjang. "Ma, sudahlah ... "
Ziona mendengus kesal. Wanita paruh baya itu langsung meninggalkan keduanya tanpa berkata-kata lagi.
Begitu Ziona pergi, Dave berbalik. Dicengkramnya kedua pundak adiknya. "Jika kau berani keluar pack lagi, kau akan tahu akibatnya Elea," ujar Dave memperingatkan.
♤♤♤
"Jadi apa yang ingin kakak bicarakan dengan kami?" tanya Elea. Saat ini mereka tengah berada di ruangan Dave. Ruangan khusus tempat ia menyimpan s*****a-senjatanya.
Awalnya Elea curiga dan bingung dengan sikap tenang Dave. Apalagi sampai membawanya dan orang asing ke ruangannya, itu sungguh tak wajar bagi seorang Dave. Bahkan Elea tak yakin pacarnya, Musicia, pernah pria itu ajak masuk ke dalam ruangan ini.
Dave menatap tajam pria yang berdiri disamping Elea.
"Pria disampingmu ini akan menjadi bodyguardmu mulai sekarang. Namanya Garry," jelas Dave.
Mata Elea membelalak. "What?! Aku gak salah dengar kan kak?"
"Nggak. Mulai sekarang kemana pun kamu pergi, Garry akan mengawasimu."
Elea menatap tajam pria bernama Garry itu.
"Dan satu lagi, berikan kunci motormu dan tongkatmu." Kali ini tatapan Elea tertuju pada Dave. Ia tak mungkin memberikan barang berharganya pada Dave.
Elea tahu ia belakangan ini sering mengendap-endap keluar tapi jika sampai menyita barang kesayangannya sudah pasti ini sangat keterlaluan.
"Nggak," tolaknya dengan tegas. Sampai kapan pun ia takkan menyerahkan tongkat dan kunci motornya yang berharga itu.
"Serahkan!!" Nada Dave mulai meninggi.
Api menyulut dimata Elea. "Sekali nggak ya nggak!!" tegasnya.
Dave memijat pelipisnya. Ia tahu akan seperti ini jadinya.
"Baiklah kalau begitu. Terserah padamu saja Elea." Dave berjalan meninggalkan Elea dan Garry disana.
Sikap Dave yang berubah menjadi dingin seolah memberi peringatan pada Elea, tapi gadis itu tak mungkin menyerahkan kedua benda itu.
Elea menghela napas panjang. Gadis itu menyerah. Diletakkannya kunci motor serta tongkat elastic kesayangannya yang ia sebut dengan nama Gliss itu diatas meja.
"Sampai jumpa Gliss," ucapnya sebelum meninggalkan ruangan itu.
Sesampainya ia diluar, Elea melihat pundak Garry naik turun tak teratur seolah tengah menahan sesuatu.
"Hei, apa kau sakit?" tanyanya. Namun ternyata kekhawatirannya terbuang percuma.
Pria itu langsung tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sendiri keram. Entah apa yang lucu dimatanya.
Tangan Elea sudah ia kepal, bersiap meninju pria itu jika ia tak berhenti tertawa sekarang juga.
"Apa yang lucu?"
"Kau," ujar Garry sambil menunjuk wajah Elea.
Kali ini Elea benar-benar kesal dengan tingkah menjengkelkan Garry. Tanpa ragu-ragu lagi, Elea meninju perut Garry. Pria itu langsung meringkuk di tanah, meringis kesakitan.
To be continued