Elea langsung minggalkan pria itu tanpa sepatah kata pun.
"Woi, tunggu!!"
Elea menjulurkan lidahnya seraya berkata, "Tidak mau." Gadis itu langsung pergi ke kamarnya lagi karena kesal dan jengkel akan keputusan kakaknya yang sepihak itu.
♤♤♤
Hari telah berganti malam dan Elea terus saja diganggu oleh pria bernama Garry itu.
"Yang benar saja, usiaku sudah 14 tahun dan aku sudah tak perlu lagi pengawalan atau semacamnya," gumam gadis itu kesal.
Bahkan saat ini Garry tetap berjaga diatas pohon di dekat jendela kamarnya hanya untuk memastikan Shiori tetap berada didalam kamarnya.
Elea mendengus kesal. Gadis itu lebih memilih mengacuhkan Garry daripada harus berurusan dengan orang menyebalkan seperti dia.
Elea merebahkan tubuhnya diatas kasurnya yang empuk.
"Apanya yang bodyguard? Krempeng gitu orangnya," gumamnya lalu mulai tertidur.
Hari demi hari teru berganti hingga akhirnya dua tahun telah berlalu, dan Elea tak merasakan adanya perubahan dalam dirinya. Ia masih saja tak boleh keluar dari pack bahkan hingga sekarang dia belum bisa berubah menjadi serigala padahal ayahnya adalah seorang serigala.
Levan, ayah Elea mulai cemas. Kekhawatirannya akan Elea semakin menjadi.
"Sayang, usia Elea sudah 16 tahun. Apa yang harus kita lakukan?"
Ziona dan Levan sama-sama khawatir dengan putri bungsu mereka.
Levan mengalihkan pandangannya pada sebuah surat diatas mejanya. Ziona melihat isi surat itu dengan seksama.
"Apa maksudnya ini, sayang?" tanya Ziona seusai membaca surat itu.
"Aku berencana memasukkan Elea ke academi itu," jelas Levan.
Sementara itu jauh di dalam hutan, Elea dan Dave sedang berlatih. Dalam wujud serigalanya, Dave menyerang Elea tanpa ampun.
Rintihan terdengar dari bibir kecil Elea saat Dave terus saja menyerangnya tanpa memberi kesempatan gadis itu untuk melawan.
Dave merubah wujudnya kembali menjadi manusia dan menolong adiknya yang sudah babak belur.
"Kau masih payah Elea."
Elea tersenyum pahit. Walau ia dan kakaknya sama-sama terlatih dari kecil, sama-sama terlahir dari orang tua yang sama, namun ia tak seperti kakaknya yang kuat dan sangat teliti. Bahkan untuk merubah wujudnya menjadi serigala saja ia tak bisa.
"Maaf kak."
Dave mengulurkan tangannya untuk membantu adiknya berdiri yang langsung disambut oleh Elea.
"Kau harus lebih sering berlatih Elea," saran Dave.
Saat keduanya hendak kembali ke pack, tiba-tiba segerombolan rogue datang dan memgepung mereka. Menggeram senang seolah tengah melihat mangsa.
"Elea, lari!!" perintah Dave.
Dave langsung berubah menjadi serigala dan menyerang rogue itu. Digigitnya leher rogue yang menghalangi jalannya sementara Elea berlari sekuat tenaganya untuk menghindari serangan rogue yang membabi buta.
Elea mendengus kesal. Dengan ukuran mereka yang tak sama membuat langkah kaki mereka pun berbeda. Kakinya udah lelah berlari hingga rasanya mau patah, tapi rogue itu terus saja mengejarnya.
Kaki Elea terhenti sejenak. Napasnya tersenggal-senggal. Ia sudah sangat jauh berlari dan berharap rogue itu kehilangan jejaknya.
Saat tengah beristirahat, kewaspadaannya menurun. Rogue itu telah berhasil mengepungnya dari berbagai sisi. Tak ada celah untuk lari. Elea diserang, namun berhasil menghindar. Berkat latihan keras yang kakaknya berikan selama ini, setidaknya ia bisa bertahan jika hanya melawan satu atau dua ekor serigala. Namun jumlah mereka terus bertambah.
Elea tak bisa melawan lagi. Tangannya terkena cakaran dari rogue itu. Darah mengucur dari pelipisnya saat rogue itu menghempaskan tubuhnya hingga menabrak pohon. Elea merintih kesakitan. Tangannya sudah tak bisa ia rasakan lagi apalagi untuk menggengam tongkatnya.
Tak jauh dari tempat itu, seekor serigala mencium bau. Bau seorang gadis yang berlumuran darah dan dikepung oleh rogue.
Prihatin akan kondisi gadis yang bahkan tak ia kenal, serigala itu langsung berlari dengan dituntun oleh penciumannya yang tajam.
Lolongan terdengar dari sudut lain, menandakan akan ada lebih banyak lagi serigala yang akan datang. Serigala itu langsung berlari dan berharap ia tak terlambat.
"Akkhh ... "
Saat sampai ditempat itu, serigala itu melihat tubuh seorang gadis yang tergeletak diatas tanah. Dia menggeram. Hati kecilnya seolah tak terima saat melihat seorang gadis terluka.
Tanpa pikir panjang lagi, serigala itu langsung menyerang rogue tanpa ampun. Mati. Banyak dari rogue itu yang mati karna kebodohan mereka melawan serigala yang jauh lebih kuat dan lebih berkuasa dari mereka. Beberapa ada yang melarikan diri, namun yang terpenting bagi serigala itu adalah gadis yang terbaring lemah diatas tanah.
Serigala itu berubah menjadi seorang pemuda berbadan kekar dengan rambut kecoklatannya. Iris mata bewarna kebiruannya itu menatap miris luka di tubuh gadis itu.
"Hei, bangunlah." Pemuda itu berusaha membangun Elea dengan lembut.
Mata Elea yang semula terpejam perlahan terbuka saat mendengar suara lembut yang menghangatkan hatinya. Pandangannya sedikit kabur.
Mata biru itu terus saja menatapnya dengan penuh kekhawatiran, membuat Elea merasa tenang.
Namun ketenang batinnya tak berlangsung lama. Dave, kakak Elea datang dengan berlumuran darah dan membawa kepala salah satu rogue di mulutnya. Ia benar-benar marah saat mencium bau darah Elea dari kejauhan. Tatapannya begitu kejam. Hatinya dipenuhi dengan emosi negatif.
Melihat hal itu, Elea berusaha menghentikan kakaknya dan berusaha menjelaskan jika pria bermata biru itulah yang telah menolongnya, namun kakaknya tak mendengar.
Telinganya seolah tertutup oleh amarah yang teramat sangat.
Dengan susah payah Elea meraih tongkatnya yang tergeletak tak jauh darinya. Tangannya sedikit gemetar, namun hatinya tak gentar.
Saat kedua serigala itu tengah bertarung dan akan saling menyerang, Elea berdiri diantara mereka dan menodongkan tongkatnya pada Dave.
Tubuhnya masih sempoyongan. Kakinya tak bisa berdiri dengan benar.
"Sudah cukup!!"
Dave yang sedari tadi terus menggeram, tiba-tiba diam. Ia tak pernah melihat adiknya sekeras dan setegas itu padanya.
Elea berjalan mendekat kearah serigala yang tadi menolongnya dan mengelus lembut bulunya.
"Terima kasih telah menolongku. Kalau boleh tahu, siapa kamu?" Elea tersenyum pada serigala itu.
Namun serigala itu tak menjawab dan malah berbalik pergi.
"Bukan siapa-siapa," ucapnya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Elea.
To be continued