Karena luka yang ia terima dari serangan rogue, Elea harus beristirahat penuh selama tiga hari.
Dan anehnya, Garry terus saja menemaninya sepanjang malam. Pria itu jadi lebih pendiam. Bahkan tak satu pun guyonan keluar dari mulutnya.
Gurauan yang sering terlontar dari mulutnya tiba-tiba hilang. Garry bahkan tak menjahilinya lagi walau Elea telah sembuh sepenuhnya.
Lima hari telah berlalu sejak kesembuhan Elea, Garry tak nampak dalam jangkauan pandangannya. Entah kesibukkan apa yang pria itu punya sampai tak memerhatikan Elea.
"Kemana sebenarnya dia?" gumam gadis itu kesal.
Saat hendak meninggalkan taman, tempat ia biasa membaca buku di pinggir hutan, tiba-tiba serigala itu muncul dari semak-semak dengan luka di tubuhnya.
Elea terperangah melihat darah serigala itu. Sejujurnya ia sedikit trauma saat melihat darah karna serangan rogue hari itu. Setiap kali ia melihat darah, perutnya terasa mual dan ingin muntah setiap saat, tapi sekarang ia harus mengesampingkan traumanya dan menolong serigala itu.
Bagaimanapun juga serigala itu telah menyelamatkannya dan ia harus balas budi.
Elea segera membawa serigala itu ke kamarnya diam-diam dan mengobati luka-lukanya serta membersihkan darah ditubuhnya.
Penjagaan di packnya semakin ketat, lalu bagaimana caranya serigala itu masuk ke wilayah mereka?
Tak lama kemudian, serigala itu berubah menjadi manusia dan benar saja, wajahnya sangat tampan. Kulitnya putih, tubuhnya juga kekar bahkan lebih kekar dari kakaknya.
Anehnya, tubuh pria itu terus saja mengeluarkan keringat. Wajahnya nampak pucat. Saat Elea menyentuh keningnya, ia merasakan panas merambat ditangannya. Namun saat ia menyentuh tangan pria itu, tangannya sedingin es.
Apa yang harus ia perbuat sekarang? Ia tak pandai merawat orang dan tak mungkin juga memanggil dokter saat ini.
Elea lalu teringat akan buku yang sedang ia baca. Buku itu menjelaskan sedikit tentang teori-teori penyembuhan dan semacamnya.
Elea membaca buku itu dengan teliti. Memeriksa kecocokkan semua gejala yang timbul ditubuh pria itu denga teori dan keterangan dibuku hingga ia menemukan satu jenis penyakit yang memiliki kemungkinan besar tengah dirasakan pria itu yaitu keracunan.
Dilihat dari bekas luka sayatan serta jarum yang ia temukan menancap di tubuh pria itu, menunjukan adanya racun yang tengah menyebar di dalam tubuhnya.
Elea kembali bingung. Setahunya, untuk melawan racun hanya ada dua cara. Cara pertama adalah dengan membuat penawarnya dan cara kedua adalah melawan racun itu dengan racun yang lebih kuat, tetapi cara kedua terlalu beresiko karna Elea tak tahu racun apa yang sendang menyebar di tubuh pria itu dan cara pertama juga tak bisa ia lakukan.
"Bagaimana ini?" gumamnya kebingungan.
Elea menggigit kuku-kuku jarinya sambil memikirkan cara untuk menolong pria itu.
Hanya ada satu cara lagi yang terbesit dibenaknya. Ia harus meminta pertolongan Garry. Selama dua tahun ia bersama Garry, ia tahu Garry adalah pria yang cerdas dan tahu apa saja tapi dimana ia bisa menemukan Garry?
Elea terus menyebut nama Garry dalam benaknya, berharap pria itu dapat mendengar suaranya. Elea tahu, kakaknya Dave sering menggunakan mindlink untuk berkomunikasi dengan ayah mereka. Mungkin untuk mencegah seseorang mendengarnya, tapi entahlah. Ia juga tak tahu.
Disisi lain, Garry yang sedang diam-diam mencuri kue dari dapur mendengar suara Elea di kepalanya. Ia mulai khawatir dan segera berteleportasi ke tempat Elea berada.
"Ada apa Elea?"
Elea menatap Garry dengan tatapan terkejut. Ia tak menyangka usahanya akan behasil. Wajahnya seolah mengungkapkan kelegaannya. Namun Garry merasakan ada yang janggal.
Padangannya tertuju pada laki-laki yang tengah berbaring di ranjang Elea.
Saat Garry hendak mencekik pria itu, Elea menahan tanggannya dan menggeleng seolah memerintahkannya untuk berhenti. Garry menurut.
"Siapa dia?"
Elea menunduk. Ia juga tak tahu siapa pria itu. Tak peduli dia penjahat atau bukan, Elea tetap ingin membalas budi pria itu.
"Kalau kau tak mengenalnya, mengapa kau membawa dia ke dalam kamarmu? Kau sudah gila ya, Elea?!"
Rahang Garry mengeras. Membayangkan Elea dalam bahaya saja, membuat hatinya mendidih. Tangannya geram ingin menghajar atau menghancurkan sesuatu.
"Tolong dia Garry. Dia keracunan," pinta Elea.
Garry menatap tajam Elea seolah berkata jika ia menolak permintaan gadis itu.
"Kalau kau tak mau, maka aku takkan bicara lagi padamu," ancam Elea.
Garry menghela napas panjang. Kalau sudah diancam seperti itu, ia tak ada pilihan lain. Lagipula ia penasan akan identitas pria itu.
Dengan kekuatan magis yang dimilikinya, Garry membaca mantra khusus yang tertera dibuku yang selalu ia bawa. Walau dirinya tak terlalu mahir dalam penyembuhan, tapi kalau soal racun bukan masalah besar untuknya.
Cahaya hijau muncul dan menyelimuti tubuh pria itu. Perlahan wajahnya yang semula pucat kembali segar, menandakan racun didalam tubuhnya telah hilang.
Wajah Elea berseri-seri. Ia sudah menduga jika Garry dapat menyembuhkan pria itu.
"Terima kasih Garry."
Perlahan Elea menyeka keringat diwajah pria itu dengan sapu tangannya. Saat hendak meninggalkan pria itu untuk beristirahat, tangannya seolah ditahan oleh sesuatu.
Elea berbalik dan melihat pria itu telah sadar.
"Kau ... baik-baik saja?"
Pria itu menatap Elea sambil memeganggi kepalanya yang sedikit pusing.
Lagi-lagi pria itu tak menjawab pertanyaan Elea dan berjalan ke arah jendela hendak melompat.
"Tunggu ... "
Elea menarik kemeja putih yang pria itu kenakan. Memintanya untuk tak pergi tanpa menjelaskan apapunpadanya, namun pria itu seolah tak mendengar ucapan Elea dan melompat dari jendela kamarnya.
Sebelum pria itu pergi, ia mengucapkan terima kasih karna telah menolongnya. Dan betapa terkejutnya gadis itu saat pria itu tiba-tiba menyebut namanya padahal mereka tak saling mengenal.
Elea semakin penasaran pada pria itu. Namun setelah hari itu mereka tak pernah bertemu lagi.
Beberapa bulan berlalu dan besok Dave akan menikah dengan Musicia. Seorang gadis keturunan fairy. Walau berbeda ras, keduanya telah menjalin hubungan cukup lama dan sebentar lagi akan membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
Berbagai persiapan telah dipersiapkan dengan matang dan tinggal menunggu hari pernikahan mereka saja.
Musicia mengaku sedikit gugup pada Dave. Wanita itu bahkan jadi lebih sering melamun. Entah apa.yang dipikirkannya.
"Kak, kakak kenapa?" tanya Elea.
Saat ini keduanya tengah mencoba mengenakan gaun yang akan mereka kenakan saat pesta pernikahan esok hari untuk memastikan jika ukurannya pas dan siap dipakai.
"Takut ... "
Elea menatap calon kakak iparnya yang saat ini tengah mengenakan gaun putih semata kaki dengan motif-motif bunga yang sangat indah.
"Apa yang kakak takutkan? Kak Dave sangat mencintai kakak, lalu apalagi yang membuat kakak ragu?"
Elea tak pernah mengerti jalan pikiran calon kakak iparnya ini yang selalu saja berpikir ke depan.
"Kau tahu bukan jika pernikahan antar ras yang berbeda itu sangat jarang terjadi dan lagi banyak fairy yang benci dengan pernikahan semacam ini. Aku takut Dave aka-" ucapan Musi terpotong.
Elea meletakkan jari telunjuknya di bibir kecil Musi.
"Kakak tak perlu khawatir akan hal itu. Kakakku itu lebih kuat dari kelihatannya. Kalau sampai hal itu terjadi aku dan seluruh serigala yang ada di pack ini akan melindungi kalian berdua."
Musi tersenyum. Kekhawatirannya perlahan sirna saat mendengar gadis kecil didepannya ini berusaha menenangkan dan mneghilangkan pikiran negatifnya.
"Terima kasih ya, Elea."
Elea mengangguk pelan. Setelah selesai mencoba gaun mereka, keduanya memutuskan untuk minum teh sebentar sambil berbincang-bincang di sebuah cafe kecil di kota.
Musi jadi sedikit lebih ceria dan mulai menceritakan kesan pertamanya saat pertama kali ia bertemu dengan Dave.
"Saat itu kakakmu sangat dingin dan menyeramkan. Kupikir saat itu aku akan diterkamnya."
Elea terkekeh pelan. Kakaknya memang terkenal dingin dan menyeramkan, persis seperti ayah mereka.
Saat keduanya keluar dari cafe itu untuk kembali ke pack, mereka bertemu dengan pencuri di jalan.
Pencuri itu mengambil tas serta kantung belanjaan yang Musi dan Elea bawa. Sangat cerdik memang pencuri itu, namun Elea lebih cerdik darinya.
"Kakak tunggu disini dulu ya. Aku akan mengejar pencuri itu."
To be continued