Musi mengangguk pelan.
Elea mengambil gliss, tongkat yang ia sembunyikan di pahanya dan memanjangkannya.
Elea berlari diatas tembok dan pagar, berusaha mengejar perampok itu.
"Hei, kau berhenti!!"
Namun, perampok itu tak berhenti dan malah menambah laju larinya. Melewati g**g-g**g kecil, pencuri itu berharap Elea berhenti mengejarnya.
Saat ia hampir sampai di ujung g**g itu , Elea telah berdiri di depannya sambil menodongkan tongkatnya.
"Berhenti!!"
Pencuri itu berlari ke arah sebaliknya, tapi Elea lagi-lagi langsung menghadang jalannya.
"Kembalikkan barang kami."
Pencuri itu menundukkan kepalanya.
"Maaf ... " lirihnya.
Elea menatap pencuri itu. Karena mengenakan tudung, Elea tak dapat melihat dengan jelas wajah pencuri itu.
Pencuri itu membuka tudungnya dan menampakkan wajah seorang gadis kecil. Gadis itu segera mengembalikkan tas dan kantung belanjaan yang ia curi tadi.
Elea menatap gadis itu heran. Tatapannya perlahan melembut saat ia melihat luka di tangan gadis itu.
"Siapa namamu gadis kecil?"
Gadis itu terdiam.
"Kamu tak punya nama?" tanya Elea lagi.
Gadis itu menggeleng. Elea merasa kasihan pada gadis itu. Saat ia seumuran dengan gadis itu, Elea bisa makan dengan enak dan punya tempat tinggal yang nyaman, tapi saat melihat pakaian gadis itu begitu lusuh, Elea merasa iba.
Diberikannya beberapa keping emas untuk gadis kecil itu belanjakan makanan.
Diusapnya rambut gadis kecil itu.
"Jangan mencuri lagi gadis kecil," ucap Elea sebelum meninggalkan gadis itu.
Saat ia kembali ke tempat ia meninggalkan Musi, ia tak menemukan Musi disana.
Elea mencari Shiori disepanjang jalan itu, namun tak kunjung menemukan wanita itu.
Hanya satu tempat lagi yang terpikirkan oleh gadis itu. Dipinggir kota, ada sebuah restoran di atas danau. Elea segera menuju ke tempat itu.
Dan benar, Musi sedang duduk-duduk di salah satu bangku di restoran itu.
Elea langsung mendudukkan dirinya di depan Musi. Gadis itu menghela napas panjang.
"Kenapa kakak kemari? Aku mencari kakak kemana-mana tau."
Elea mengerucutkan bibirnya karna kesal seperti anak kecil yang tak dituruti kemauannya.
"Dulu aku dan Dave pernah makan di tempat ini."
Hanya kata itu yang terucap, lalu Musi terus saja memandangi danau yang begitu tenang hingga matahari telah terbenam.
"Ini sudah malam kak. Ayo kita pulang."
Musi mengangguk. Gadis itu segera berdiri dan berjalan kembali ke pack Monokrom.
Sebenarnya karena paksaan dan desakkan dari Dave, Musi terpaksa tinggal di pack, tapi ia senang. Dia bisa lebih mengenal keluarga Dave yang mau menerimanya dengan lapang d**a.
Musi jadi sadar jika perbedaan tak selalu membawa masalah. Dulu ia sempat berpikir ingin mengakhiri hubungannya dengan Dave, tapi ia bersyukur karena saat itu Dave tetap mengejar dan memperjuangkannya. Mungkin ia akan menyesal seumur hidupnya jika saat itu ia harus kehilangan Dave.
♤♤♤
Sesampainya mereka di pack, Elea langsung disambut dengan ceramahan dari Garry dan ibunya. Telinganya sampai pengang karena harus mendengarkan ocehan mereka selama berjam-jam.
Ceramah Garry dan Ziona telah usai, Elea saat ini tengah bersiap mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur karna besok akan menjadi hari yang panjang.
Saat ia didalam kamar mandi, Elea mendengar suara dari luar. Suara lolongan serigala. Namun Elea mengacuhkannya.
Karena lupa mengambil pakian dalamnya, Elea keluar dengan tubuh yang hanya terbalut oleh seuntai handuk.
Betapa terkejutnya ia saat matanya lagi-lagi bertemu dengan mata biru yang ia rindukan.
Melihat tubuh Elea yang hanya teetutup handuk, pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya sedikit memerah.
Sadar pria itu telah melihat tubuhnya, Elea segera berlari masuk ke dalam kamar mandinya dan mengenakan pakaiannya.
"Kenapa kau kemari?"
Pria itu membalikkan tubuhnya dan menatap Elea lalu pergi begitu saja.
Elea kembali bingung dengan tingkah pria itu. Ia tak mengerti apa yang pria itu inginkan darinya.
Keesokan harinya, Elea terbangun dengan perasaan malas. Rambutnya masih acak-acakan dan dengan santainya ia menuruni tangga menuju ruang makan tetapi ia tak mendapati siapa-siapa disana. Saat ia melihat keselilingnya, Elea baru teringat jika hari ini adalah hari pernikahan Dave dan Musi.
Elea segera berlari ke kamarnya dan mengambil gaun birunya yang tergantung di depan pintu lemarinya.
Seusai mandi dan mengeringkan rambutnya, Elea segera duduk di meja riasanya dan mulai merias diri.
Sebentar lagi acara pernikahan akan dimulai dan ia belum siap sama sekali.
Elea mengusapkan pewarna bibir di bibirnya dan riasannya telah selesai. Ia sengaja mengepang rambutnya sehingga tak menganggunya.
Setelah penampilannya dirasa baik, Elea segera keluar kamar dan dengan anggun berjalan menuruni tangga.
Dibawah, Garry ternyata telah menunggu kedatangan Elea. Diulurkannya tangan kekarnya yang langsung disambut oleh Elea.
Elea sedikit terkejut saat melihat pakaian yang Garry kenakan. Pria itu jadi lebih tampan dari biasanya.
Keduanya saling bergandengan tangannya layaknya putri dan pangeran. "Kau tampak cantik."
Elea tersenyum senang. "Kau juga tampan."
Garry terkekeh pelan. Pria itu tak menyangka Elea akan memujinya seperti itu.
Saat sampai di aula pernikahan, Elea menyaksikan momen paling membahagiakan dalam hidupnya. Jika ia tumbuh dewasa nanti, Elea berharap akan menemukan pria baik seperti Dave yang sayang padanya.
Malamnya, pesta digelar. Banyak tamu berdatangan dan tentu saja kaum fairy terus saja mencerca Musi yang menikahi seekor serigala karena menurut mereka serigala hanyalah mahkluk yang mengikuti insting.
Elea berulang kali menahan amarahnya. Jika bukan karena permintaan Dave, ia pastikan akan mematahkan setiap sayap yang para fairy itu punya.
Saat pertengahan acara, Elea naik ke atas panggung.
"Malam semuanya," kata Elea ramah.
"Malam ini adalah malam yang membahagiakan untuk saya dan keluarga saya, terutama kakak saya Dave. Dia yang paling bahagia malam ini. Saya ingin memberinya sedikit hadiah kecil padanya dan kak Musi. Dengarkan ya." Elea beranjak dari panggung dan menuju piano di dekatnya.
Elea duduk di kursi piano. Dia memperhatian tiap tuts piano dan mulai memainkan lagu Thousand Years.
Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt, suddenly goes away somehow
One step closer
I have died everyday, waiting for you
Darling, don't be afraid, I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything, take away
What's standing in front of me
Every breath, every hour has come to this
Tangan Elea dengan lentik memainkan tuts piano. Suaranya yang indah memenuhi ruangan.
One step closer
I have died everyday, waiting for you
Darling, don't be afraid, I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed, I would find you
Time has brought your heart to me, I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
One step closer
One step closer
I have died everyday, waiting for you
Darling, don't be afraid, I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Entah kenapa lagu yang di bawakan Elea terasa sangat dalam, menyentuh hati setiap pendengarnya.
And all along I believed, I would find you
Time has brought your heart to me, I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Dia bernyanyi dengan sangat merdu. Semua orang terpana dengan suara Elea.
"Suara mu sangat indah Elea," puji Musi.
"Makasih kak."
Saat tengah malam, ada pesta dansa. Dan tentu saja Elea tak memiliki pasangan untuk berdansa karna ia tak memiliki kekasih. Kalau kalian tanya Garry, pria itu tengah berdansa dengan gadis yang sudah lama ia sukai.
"Dasar tidak setia kawan," gumam Elea kesal.
Elea hanya berdiri dipinggiran ruangan dan menatap setiap pasangan yang menari diatas lantai dansa.
Gadis itu hampir saja terlelap jika saja seorang pria tak mengajaknya berdansa.
Elea menatap pria itu lamat-lamat. Matanya biru sebiru laut, rambutnya kecoklatan. Entah mengapa pria itu tak asing dimatanya.
Karena mengenakan topeng, Elea tak dapat mengenali wajah pria itu yang dirasanya adalah pria yang menolongnya waktu itu.
"Kau ... serigala yang waktu itu kan?"
Pria itu tak menjawab dan hanya tersenyum.
Elea mulai kesal sekarang. Berkali-kali ia bertanya pada pria itu dan tak ada satupun pertanyaannya yang dijawab. Dengan sengaja, Elea menginjak kaki pria itu dengan sepatu heelsnya yang runcing.
Pria itu meringis kesakitan. Dia menatap Elea seolah menanyakan apa maksudnya.
"Salah sendiri setiap di tanya kau tak menjawab."
Pria itu mulai buka suara. "Belum saatnya kau tahu Elea."
Elea mendengus kesal.
"Kau tahu namaku tapi aku tak tahu namamu. Setidaknya beritahu aku namamu."
Pria itu menghela napas panjang. "Alvin. Nama gue Alvin."
To be continued