Malam yang panjang Elea lewati dengan berbincang-bincang dengan Alvin. Alvin tak banyak menceritakan tentang dirinya, namun Elea merasa senang.
Namun ternyata waktu cepat berlalu. Sudah saatnya mereka berdua berpisah, tapi Elea tak merasa sedih. Firasatnya mengatakan jika mereka akan bertemu lagi dalam waktu dekat ini.
Saat ini Elea tiba-tiba diminta oleh ibunya untuk datang ke kamarnya.
"Elea, dengarkan mama."
Wajah Elea berubah serius. Ia menyiapkan telinganya untuk mendengar setiap kata yang keluar dari mulut ibunya.
"Kamu sepertinya sama seperti mama. Kamu adalah keturunan ange Elea."
Elea menatap ibunya bingung. Ange, mahluk apa itu? Tak pernah sekalipun ia mendengar ada mahluk seperti itu.
Ziona kemudian menjelaskan mahluk seperti apa itu ange dan mengapa Elea dan Ziona adalah satu-satunya ange yang masih hidup hingga sekarang.
Ziona mengatakan jika ange itu seperti malaikat tapi mereka tak sama. Ange jauh lebih murni dari malaikat, tetapi karena ada kecemburuan sosial bangsa ange dibantai habis dan saat ini hanya tersisa beberapa dari mereka di dunia ini.
Elea tak henti-hentinya terperangah saat mendengarkan penjelasan Ziona yang menurutnya tak masuk akal. Saat melihat sayap keluar dari punggung Ziona, gadis itu serasa mau pingsan.
Pantas selama ini ia tak bisa berubah menjadi serigala.
"Tapi kamu adalah half ange. Ada kemungkinan kamu bisa menggunakan kekuatanku dan kekuatan ayahmu."
"Hah?"
"Karena itulah aku dan ayahmu akan memasukkanmu ke academi untuk membantumu melatih kekuatanmu."
♤♤♤
Tiga hari berlalu dan Elea tengah mempersiapkan jiwa dan raganya untuk masuk ke academi.
Seperti sekolah pada umumnya, seluruh siwa dan siswi harus mengenakan seragam sekolah. Namun hal yang tak Elea sangka adalah seragam sekolahnya yang sedikit aneh.
Peraturan di academi mengatakan jika tak ada ketentuan khusus mengenai seragam asalkan mereka membuat seragamnya dari kain yang telah disediakan dan bagi siswi harus mengenakan rok, tapi apa yang ia dapatkan sekarang.
Sebuah kemeja dengan lengan panjang dan logo sekolah di sakunya dan rok di atas lutut serta alamenter bewarna hijau tosca. Bukankah saat ini ia semakin mirip dengan manusia?
Ingin rasamya ia berkomentar akan seragamnya ini, namun saat tahu kakaknya, Musi yang membuatkan seragamnya, Elea mengurungkan niatnya. Lagipula jika diperhatikan lebih teliti, banyak kantung tersembunyi yang memungkinkannya untuk menyimpan s*****a-senjatanya.
Kakaknya memang pintar. Di luar terlihat sederhana namun di dalamnya sangat luar biasa.
Elea mengambil gliss yang tadinya akan ia letakkan di dalam tasnya dan mengambil sebuah sabuk lalu mengikat gliss itu disabuknya. Elea mengikatkan sabuk itu di paha kanannya dan menyembunyikan gliss dibawah roknya untuk berjaga-jaga. Karena panjang gliss yang bisa berubah sesuai dengan keinginnannya, memudahkan Elea untuk menyembunyikannya.
"Ma, aku berangkat dulu ya," pamitnya. Elea segera mengambil kunci motornya dan melajukan motornya ke academi.
Karena letak academi yang sangat jauh dari packnya, Levan memutuskan untuk memasukkan Elea ke asrama.
Sesampainya ia disana, Elea malah disambut dengan ceplokan telur di helm dan jaketnya.
Jaket favoritnya jadi lengket dan bau amis. Beruntung ia mengenakan helm karena jika tidak maka mungkin telur itu jutrsu akan mendarat di wajahnya.
Elea melepaskan helm itu dan menggeram kesal. Matanya menangkap beberapa cewek yang sedang menertawainya.
Ingin rasanya ia meninju satu persatu wajah cewek resek itu, tapi ia teringat akan nasihat kakaknya, Musi untuk tidak membuat masalah di hari pertamanya sekolah.
Elea lebih memilih mengabaikan cewek-cewek itu dan memilih untuk mencari ruang kepala sekolah.
Sebelum ke ruang kepala sekolah, Elea pergi ke toilet dan membasuh jaketnya dengan air.
Ingin rasanya ia buang jaket itu, tapi Elea sangat menyukai jaket itu karena jaket itu pemberian Musi beberapa hari yang lalu.
Seusai membasuh jaketnya, Elea berjalan menuju ruang kepala sekolah, tapi gadis itu tak kunjung menemukannya hingga bell masuk berbunyi. Akhirnya ia hanya melihat dua orang lelaki tampan yang sepertinya bolos kelas. Ketika mereka menyadari Elea, mereka tak dapat melepaskan matanya dari Elea. Elea berhenti tepat didepan mereka.
Salah satu dari mereka hanya bersiul.
"Aku ingin bertanya, dimana ruang kepala sekolah?"
"Lurus lalu belok kanan," jawab laki-laki berambut pirang sambil tersenyum manis.
"Terima kasih." Elea langsung melangkahkan kakinya sesuai dengan perkataan laki-laki itu dan sampailah ia di depan ruang kepala sekolah.
Elea mengambil napas panjang sebelum akhirnya mengetuk pintu yang tingginya sampai tiga meter itu. Entah mahluk seperti apa yang berada diruangan itu saat ini.
"Masuk."
Saat mendengar ada suara dari dalam ruangan itu yang memerintahkannya untuk masuk, Elea langsung membuka pintu itu, tetapi ternyata pintu itu lebih berat dari yang ia pikir.
Elea berdecak kesal. Otaknya terus berpikir keras tentang cara untuk membuka pintu itu.
"Terbuat dari apa sebenarnya pintu ini?!"
Tanpa Elea sadari, iris matanya berubah keunguan. Kekuatan magis mengalir dalam tubuhnya.
Elea memejamkan matanya sejenak lalu saat ia membuka matanya lagi, Elea kambali mencoba membuka pintu itu dengan memusatkan kekuatan magisnya di telapak tangannya.
Elea terperangah. Pintu itu dapat ia buka dengan mudah, tetapi ia tak ingin membuang waktu untuk sekedar berpikir dan lebih memilih untuk segera menghadap kepala sekolah.
Saat ia masuk, Elea mendapati seekor buaya tengah duduk di kursi. Hampir saja Elea tertawa saat melihat seekor buaya yang mengenakan jas. Air matanya sampai menetes karna harus menahan tawa. Karena jarang keluar pack, Elea tak pernah melihat mahluk yang selain rasnya kecuali Musi.
Sementara kepala sekolah itu menatap Elea keheranan.
"Kau Eleanor Ameera Zylvechia 'kan?" tanyanya untuk memastikan.
"Ya."
Kepala sekolah itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan melewati Elea.
Elea membaca nama yang tertulis di pin yang terpasang di jas pria itu. Frimuz namanya. Kali ini Elea sengaja meletakkan tangannya di mulutnya untuk mencegah suara apapun keluar dari bibirnya karena menurutnya nama Frimuz tak cocok untuk seekor buaya seperti kepala sekolahnya ini.
Frimuz lebih terkesan cocok pada orang yang punya aura kecantikkan yang khas seperti dirinya. Mungkin terkesan terlalu sombong tetapi tak dapat dipungkiri jika Elea memang cantik dengan caranya sendiri.
"Ikuti saya."
Elea mengikuti kepala sekolah itu di belakangnya. Banyak siswa yang memperhatikannya dan menatapnya dengan tatapan ... sinis. Mungkin bisa dibilang begitu karena tatapan orang di sekelilingnya seolah mengintimidasi dirinya.
"Nona Eleanor, silahkan."
Frimuz membukakan pintu untuk Elea. Saat mengintip ke dalamnya, Elea melihat banya mahluk aneh disana dan mendapati beberapa guru tengah menanti kedatangannya.
Elea segera masuk sesuai perintah Frimuz. Salah seorang guru mulai bertanya-tanya akan identitas Elea. Setelah semua pertanyaan Elea jawab, tes fisik telah menantinya. Elea meletakkan tasnya di lantai dan bersiap.
Elea tersenyum penuh kemenangan. Ternyata tes fisik yang harus ia jalani lebih mudah dari yang ia pikir. Bahkan tanpa perlu menggunakan gliss, Elea bisa melewati segala macam rintangan dan jebakan dengan mudah. Bila dibandingkan dengan latihan fisik dari Dave dan latihan magis dari Musi dan Garry, tes ini tak ada apa-apanya.
Sementara para guru justru terperangah akan skor yang berhasil Elea dapatkan. Sejak sekolah itu berdiri hingga sekarang, tak ada siswa baru yang pernah mendapat skor setinggi itu.
Mencurigai Elea melakukan kecurangan pun percuma karena semua tes yang telah Elea lewati telah doawasi oleh lebih dari 5 orang guru dan 17 mahluk pengawas.
Mahluk pengawas sendiri adalah mahluk magis yang diciptakan untuk mengawasi ujian, kompetisi atau semacamnya.
"K-kau lulus."
To be continued