Begitu dinyatakan lulus, Elea segera mengambil tasnya dan meninggalkan ruangan itu.
Sebelum Elea pergi, salah satu guru mencegatnya dan memberikannya sebuah pin yang berlogokan logo sekolah yang harus ia pasangkan di alamenternya dan sebuah bordiran yang bertuliskan namanya yang harus Elea jahit di atas saku bajunya.
"Terima kasih," ucap Elea saat menerima kedua benda itu.
Guru itu kemudian mengantar Elea hingga ke koridor kelasnya. Sepanjang jalan, Elea dijelaskan tentang peraturan sekolah yang harus dia patuhi dan diminta untuk tidak melanggar jika ia tak ingin terkena masalah.
"Nona Eleanor, ini kelasmu."
Sampailah mereka di depan sebuah pintu kelas yang berukirkan bentuk buaya itu dan bertuliskan angka I A.
"Terima kasih pak."
Guru itu langsung pergi meninggalkan Elea tanpa sepatah kata lagi.
Elea mengambil napas dalam. Jujur, dengan semua tekanan ini batinnya sedikit terguncang dan seolah ingin melarikan diri karena ia memang pengecut.
Pengecut yang hanya bergantung pada perlindungan dari kakak dan bodyguardnya saja.
Elea mengetuk pintu itu perlahan sebelum akhirnya membukanya. Saat dia masuk, seisi kelas menatapnya.
"Siapa kau?" tanya sang guru yang saat ini tengah mengajar.
"Nama saya Eleanor. Saya adalah murid baru disini," ujarnya sesopan mungkin. Elea harus meninggalkan kesan baik bukan?
"Oh begitu. Silahkan duduk," ucap guru itu dengan nada dingin lalu kembali melanjutkan pelajarannya.
Elea berjalan ke tempat duduk yang kosong tanpa mengindahkan pasang mata yang terus menatapnya.
Setelah bell istirahat berbunyi, Elea hendak berjalan ke toilet, tapi langkahnya ditahan oleh beberapa cewek yang duduk didepannya.
"Minggir!"
Namun makin banyak cewek-cewek yang mengerumuninya.
"Lo bayar berapa sampe bisa masuk ke sekolah ini?" tanya salah satu cewek yang mengerumuninya.
Elea menaikkan sebelah alisnya. "Hah?!"
Cewek-cewek itu menatap Elea geram. Salah satu dari mereka bahkan mendorong Elea hingga gadis itu tersungkur ke lantai.
Iris mata Elea berubah keunguan. Dimatanya, cewek-cewek itu jadi terlihat aneh. Warna mereka berbeda-beda dan memancarkan cahayanya masing-masing. Ada yang lemah ada yang sangat terang cahayanya.
Lalu Elea sadar akan satu hal. Latihannya selama ini tak sia-sia. Dia tak tahu mengapa matanya bisa begitu dan bagaimana tapi setidaknya saat ini dia tahu betapa lemah teman sekelasnya.
Elea menyeringai kecil. Dia segera bangkit berdiri dan menatap setiap cewek yang menganggunya.
"Kalian lemah," gumamnya lalu pergi meninggalkan mereka semua.
Cewek-cewek tadi jelas terkejut. Mereka terlalu meremehkan Elea.
Elea berjalan ke arah kantin tapi betapa malasnya dia saat melihat dua cowok yang dia temui di koridor tadi. Akhirnya Elea memilih untuk menahan rasa laparnya dan pergi.
Bingung ingin kemana, mata Elea tertuju pada sebuah pintu yang bertuliskan tanda perpustakaan disana.
Perlahan Elea mendorong pintu itu dan masuk kedalam. Betapa terkejutnya ia saat belihat banyak buku yang berterbangan diatas kepalanya. Ruangan itu seperti dunia mimpi. Banyak buku dengan berbagai bahasa dari berbagai dunia yang bisa dia baca.
Manik matanya berbinar-binar saat melihat sebuah novel dari dunia manusia. Gadis itu selalu menyukai kisah romansa anak muda yang manusia buat. Karyanya membuat hatinya berdegup setiap saat. Walau tak begitu paham akan maksud dari setiap kata yang tertulis, tapi entah mengapa hatinya melonjak kesenangan saat membacanya.
Diambipnya salah satu novel dan dia mulai membacanya. Tak memperhatikan sekitar membuantya tak menyadari ada seseorang yang terus memperhatikannya sejak tadi.
Elea terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sampai tak sadar orang itu duduk di sebelahnya. Karena penciumannya yang tajam, dia mencium aroma cologne maskulin yang sangat dia kenali. Saat dia menoleh, matanya seolah tak lepas dari sosok gagah yang sangat ia kenali.
"Garry? Kenapa kau ada disini?" tanya Elea.
Garry memutar bola matanya malas. "Sudah jelas bukan? Tentu saja untuk melindungimu."
Elea ternganga. Dia tak menyangka Garry akan sekolah bersamanya. Beruntung mereka tak satu kelas.
"Kau kelas berapa?" tanya Elea sementara matanya tertuju pada tulisan yang tercetak diatas novelnya.
"II C."
Karena bosan, Garry juga mencari buku yang bisa dia baca. Berbeda dengan Elea yang menggemari cerita fiksi, Garry lebih suka membaca buku yang berisi pengetahuan-pengetahuan akan alam semesta. Dunia ini masih penuh misteri membuat pria itu semakin tertarik untuk mencari tahu dan mempelajarinya.
Menit demi menit terus berlalu hingga tanpa sadar waktu istirahat telah usai. Elea berdecak kesal lantaran dia sedang membaca bagian paling seru dari novel itu.
Akhirnya mau tak mau Elea meletakkan buku itu di raknya dan kembali ke kelas begitu pula dengan Garry. Karena arah kelas mereka yang berlawanan, Elea dan Garry harus berpisah disana.
Begitu sampai di depan kelas, Elea merasakan ada sesuatu di balik pintu itu tapi dia seolah tak memperdulikannya dan langsung membuka pintu itu.
Begitu dia membukanya, sebuah karung berisi tepung tumpah diatas kepalanya. Elea mulai kesal. Pagi ini dia mendapat ceplokan telur dan sekarang tepung. Memangnya dia adonan?
Wajah serta rambutnya putih semua. Matanya menatap garang pada setiap murid yang ada di kelas itu.
"Siapa yang melakukan hal ini?" tanya seorang pria yang berdiri di belakang Elea.
Elea menatap pria yang berdiri di belakangnya. "Alvin? Apa yang kau lakukan disini?" tanya gadis itu heran.
"Aku bersekolah disini," jawabnya.
Alvin menatap Elea dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sebenarnya dia ingin tertawa saat melihat wajah Elea yang telah putih semua, tapi rasa kesalnya saat ini telah menguasainya.
"Siapa yang melakukan hal ini?!!" tanyanya lagi.
Di telinga Elea, suara Alvin terdengar meninggi menandakan dia sedang marah. Jadi Alvin tengah marah untuknya?
Tak ada satu pun anak yang berani buka suara. Mereka sangat mengetahui apa yang terjadi jika mereka berani macam-macam pada ketua The Ravens.
"Sudahlah Vin." Elea mencoba menenangkan Alvin yang dirasanya akan meledak sebentar lagi.
"But-"
"It's okay. I'm fine Vin."
Elea langsung menarik lengan baju Alvin dan mengajak pria itu ke toilet. Sementara Alvin berdiri di depan toilet, Elea membasuh rambut serta wajahnya dengan air.
Tapi rambutnya masih putih. Sebenarnya tepung apa mereka gunakan untuk mengerjainya?
Begitu Elea keluar dari toilet sebelah alis Alvin terangkat. "Rambutmu-" Lagi-lagi ucapan Alvin terpotong. Mungkin memang sudah kebiasaan Elea untuk menyela seseorang.
"Aku tak bisa mengghilangkannya. Bagaimana ini?"
To be continued