Alvin menghembuskan napas panjang. Ditariknya pergelangan tangan Elea yang begitu kecil di tangannya ke markas atau lebih tepatnya ruang OSIS. Sesampainya mereka berdua disana, Elea melihat ada beberapa murid dengan ras yang berbeda. Aneh. Di dunia ini setiap ras memiliki harga diri yang tinggi serta ego yang mencegah mereka untuk bergaul dengan ras lain.
Kesombongan dari masing-masing ras akan kekuatan serta kecerdasannya masing-masing membuat dunia ini masih dipenuhi dengan permusuhan dan perang. Dan apa yang Elea lihat disini adalah sesuatu yang berbeda.
Mereka dapat berbicara dengan santai dan saling menertawai tingkah konyol rekan mereka.
Selama ini Elea pikir dunia itu kejam dan hanya penuh dengan k*******n. Bahkan para guru tadi pun sama. Sekilas mereka terlihat tak punya masalah satu sama lain, tapi jika Elea menyelidik ke hati mereka, terukir kebencian dan dendam masing-masing. Tak banyak mahluk yang mau menerima perbedaan yang ada.
Pandnagan Elea lalu teralih pada Alvin yang masih menariknya ke salah satu teman perempuannya.
"Bisa kau lakukan seuatu untuknya?" tanya Alvin pada gadis mermaid berambut pirang yang berada di dalam aquarium yang sangat besar.
Gadis berambut pirang itu menatap tajam Elea seolah menolak kehadirannya, tapi walau begitu dia tetap tersenyum dan mengatakan untuk menyerahkan padanya.
"Tepung apa itu sebenarnya, Jizzy?" tanya Alvin.
"Paling hanya tepung racun yang merusak fungsi saraf otak," ujarnya dengan santai.
Mendengar itu, teman-temannya menatap Jizzy dengan tatapan horor. "Apa?"
"Otak lo lenyap dibawa arus ya?" ujar Verren.
"Hah?! Apa maksud lo nenek tua?!!"
Verren yang tak terima dipanggil nenek tua, berniat menghancurkan aquarium itu. Walau keliatannya tak dalm dan hanya aquarium biasa, tapi sebenarnya aquariun itu mengarah langsung ke laut sehingga memudahkan Jizzy untuk berenang kemana saja dia mau.
Beruntung Zayn, kekasih Verren berhasil menenangkannya dan membawanya keluar untuk menenangkan diri. Bagi anggota The Reavens hal ini mungkin sudah biasa, tapi tidak bagi Elea. Dilihat bagaimanapun, gadis bernama Verren itu adalah vampir dan vampir adalah musuh bebuyutan serigala sementara pacarnya tadi terlihat satu ras dengannya yang berarti Zayn itu adalah serigala juga. Lalu bagaimana mereka bisa punya hubungan yang baik.
Selain umurnya yang panjang, vampir juga punya kemampuan awet muda yang membuat banyak ras sulit menebak berapa umur mereka.
Dan dari melihat suasananya saja, Elea sadar jika tak semua dari mereka benar-benar akrab seolah ada sesuatu yang mengikat mereka sehingga mereka berusaha mengakurkan diri.
"Hey bocah, kemarikan kepalamu!!" perintah Jizzy. Elea terkejut saat Jizzy menjambak rambutnya dan di saat yang bersamaan, Alvin yang masih setia berdiri disebelahnya melepaskan cengkraman Jizzy dari rambutnya.
Elea berjalan mendekati aquarium Jizzy. Saat Elea mendekatkan kepalanya pada Jizzy, gadis itu malah mencelupkan kepalamya ke dalam air. Beberapa detik telah berlalu dan Elea hampri kehabisan napasnya. Bagaimanapun dia memberontak, Jizzy tak melepaskan cengkramannya pada kepala Elea.
Kekuatan Elea perlahan melemah. Pasokan oksigen di paru-parunya semakin menipis. Jika seperti ini terus, dia mungkin saja mati karena kehabisan napas.
Tanpa ragu lagi Elea mengangkat roknya dengan sembarangan lalu mengambil tongkatnya. Begitu tongkatnya memanjang, Elea memukul kepala Jizzy dengan sangat keras.
Sepertinya Jizzy telha menantikan hal ini, sehingga gadis itu menggunakan air sebagai tameng agar tak terkena serangan Elea.
Elea mundur beberapa langkah. Rambut serta bajunya basah karena terkena cipratan air tadi dan rambutnya ... telah kembali seperti semula.
Syukurlah. Setidaknya sekarang Elea bisa bernapas lega, karena jika yang dikatakan Jizzy benar maka tepung itu cukup berbahaya terutama bagi mahluk yang memiliki ketahanan tubuh yang lemah seperti dirinya.
"Dimana kau menyembunyikan tongkat sepanjang itu?" tanya Jizzy penasaran.
Perlahan gadis itu keluar dari dalam aquarium dan mengeringkan ekornya dengan handuk yang tergeletak diatas sofa.
Elea tak menjawab. Sekarangyang Elea pikirkan hanyalah cara untuk keluar dari ruangan itu.
Jika dilihat dari sudut pandang Elea, gadis itu yakin setiap orang yang ada di tempat itu memiliki satu dua kemampuan khusus dan tentu saja mereka sangatlah kuat.
Tanpa pikir panjang, Elea segar berlari ke pintu dibelakangnya dan berlari sekuat yang dia bisa. Namun tak ada yang mengejarnya.
"Syukurlah ...," gumam gadis itu.
Hari semakin sore dan Elea harus pulang ke asrama sekarang. Mengingat sekarang dia harus tinggal di asrama, Elea harus mulai membiasakan diri. Takkan ada lagi yang membangunkannya saat pagi hari, juga tak ada orang yang akan menyiapkan pakaiannya ataupun mencucinya. Disini Elea harus bisa lebih mandiri. Entah semembosankan apapun tempat itu, Elea harus tetap melewati masa sekolahnya ini dan bertambah kuat agar ia tak mengecewakan orang-orang disekitarnya termasuk dirinya sendiri.
Saat Elea membuka knop pintu, tiba-tiba sebuah anak panah melesat ke arahnya dan melukai pipinya.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Maaf Elea, aku hanya berlatih saja." Elea berdecak kesal. Gadis itu segera masuk ke dalam dan mengambil kotak P3k yang dia letakkan di bawah kasurnya dan menutup lukanya dengan sebuah handsaplast bergambar.
"Maaf Elea. Tadi kau tak melihatmu disana." Jessica, teman sekamar Elea yang senang sekali dengan s*****a panahan.
Elea menatap tajam Jessica, tapi gadis itu tengah malas untuk menceramahi Jessica sehingga ia biarkan untuk hari ini. Walau Elea dan Jessica baru bertemu beberap jam yang lalu, tapi keduanya sudah sangat akrab.
"Elea, mau mandi nggak?"
Elea menggeleng, "Mandi saja duluan," ujarnya.
Mata Elea saat ini terfokus pada buku yang dia bawa di dalam tasnya. Beberapa hari yang lalu, sebelum Elea datang ke sekolah ini, gadis itu membeli beberapa novel manusia dengan harga yang cukup mahal. Walau mahal, keingintahuan serta rasa laparnya akan kisah romansa manusia membuatnya kecanduan dan tak bisa berhenti.
Setelah membaca beberapa halaman, Elea menyadari sesuatu yang hilang. Entah apa yang terlepas dari tubuhnya. Saat Elea mengecek setiap kantong di saku baju dan roknya, Elea merasa semua barangnya berada di tempatnya, kecuali ... kalungnya.
To be continued