Elea begitu panik. Kalung dengan foto keluarganya hilang entah kemana.
Dia mencari ke segala sudut dan sisi, namun tak menemukannya di manapun. Elea begitu panik dan tahu lagi harus mencari kemana.
"El, lagi cari apa?" tanya Jessica yang sudah selesai mandi dan mengenakan handuk yang melilit ditubuhnya.
Rambutnya yang basah terurai sehingga air yang berjatuhan membasahi lantai.
"Kalungku hilang Jess."
Elea mengigit kukunya, berusaha mengingat di mana tempat dia menjatuhkan kalung kesayangannya itu.
"El, kamu mau kemana?" tanya Jessica saat melihat Elea yang tergesa-gesa mengenakan jaketnya.
"Cari kalung." Dengan cepat Jessica menahan tangan Elea. Mencegahnya untuk pergi.
"Kamu nggak bisa menemukan kalung itu jika hari sudah gelap seperti ini lagipula penjaga asrama nggak akan membiarkan kamu pergi keluar."
Elea berdecak kesal. Kalau sudha begini kejadiannya, Elea harus MELOMPAT DARI JENDELA.
Secepat kilat, Elea berlari ke arah jendela kamar mereka dan membukanya lebar-lebar. Belum sempat Jessica menahan Elea, gadis itu sudah melompat duluan.
Jessica sempat kagum dengan keatletisan Elea, tapi kagumnya seketika berubah menjadi ketakutan karena saat ini penjaga asrama telah siap menginterogasi serta menceramahinya. Tanpa pikir panjang, Jessica pun melompat dari jendela, mengikuti Elea.
"Yahooo ..." Letak kamar mereka di lantai 6, jauh dari permukaan tanah, tapi baik Jessica maupun Elea tak takut untuk melompat.
Begitu sampai di bawah, Jessica membantu Elea yang tengah sibuk mencari kalungnya denagn wajah gelisah. Setidaknya demgan begini, jika mereka dihukum, Jessica tak harus menanggung semuanya sendirian.
"Kenapa ikut turun juga?"
"Daripada dihukum sendirian, lebih baik sama-sama."
Seketika Elea speechless dengan pola pikir Jessica yang simpel itu. Lupakan soal Jessica. Tujuannya saat ini adalah menemukan kalungnya yang sangat amat berharga itu.
Elea mencari ke dalam semak-semak, tapi tak kunjung menemukan kalungnya. Air matanya menetes seketika. Dia mulai frustrasi akan keadaannya.
Jessica menepuk pundak Elea. Menyadarkannya dari pikiran negatif bak badai yang mungkin menerpa otaknya.
"Kita cari lagi besok. Sekarang kamu tidur dulu El."
Elea menggeleng. "Nggak, aku haru-"
"Besok aja. SEKARANG kamu istirahat," ucap Jessica dengan penuh penekanan. Dia tak ingin teman sekamarnya sakit karena mencari kalung semalaman.
"Baiklah." Elea pasrah.
Karena takut bertemu penjaga asrama lagi, Elea menggunakan kekuatan magisnya untuk menaiiki dinding dan kembali ke kamarnya.
"Fiuh ... untung saja kita tak bertemu dengan penjaga asrama."
Akhirnya Jessica bisa bernapas lega dan dengan segera gadis itu mengganti pakaiannya karena ternyata dari tadi tubuhnya hanya terlilit handuk saja.
Elea yang tak mempedulikan Jessica segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Tubuhnya terasa lemgket karena keringat dan hal itu membuatnya tak nyaman. Ditambah lagi sekerang dia sangat amat gelisah karena kalungnya hilang.
Rasanya sulit dibayangakan jika Elea benar-benar kehilangan kalung itu.
Seusai mandi, Elea langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Segala penatnya menghilang kala dia menghirup aroma manis dari shampoonya. Perlahan gadis itu terlelap dan masuk ke dalam alam mimpi.
Tak terasa matahari telah terbit. Elea harus bangun dan bersiap-siap ke sekolah untuk menjalani rutinitas yang membosankan. Dia juga harus mencari kalungnya yang hilang. Entah kenapa tapi Elea merasa malas. Malas untuk melakukan apapun.
Setelah kelas pagi berakhir seluruh siswa berhamburan ke kantin untuk menikmati makan siang mereka, tapi tidak dengan Elea. Gadis itu segera keluar kelas, menyusuri koridor untuk mencari kalungnya yang hilang.
Tak terasa, waktu istirahat hampir habis dan Elea masih belum menemukan kalungnya. Dia mulai putus asa.
"Hei, ada apa denganmu?"
Elea menatap malas Alvin yang saat ini berdiri di depannya.
Alvin terus menunggu jawaban keluar dari mulut Elea, namun sepertinya usahanya tak membuahkan hasil.
"Apa kau mencari ini?" Alvin memgeluarkan sebuah kalung dari saku celananya dan menunjukannya pada Elea.
Mata Elea melebar saat melihat kalung yang Alvin pegang. "Bagaimana bisa?"
Alvin menghela napas panjang. "Kau menjatuhkannya kemarin dan aku memungutnya."
Elea terdiam. Suara angin berhembus mengisi keheningan diantara keduanya. Air matanya tumpah ke tanah. Dia tak sanggup lagi menahan perasaan lega dalam hatinya.
"Maaf ...," ucapnya seraya menghapus air mata yang membasahi pipinya.
Alvin tersenyum tipis. Dia berjalan mendekati Elea dan mengusap kepalanya pelan.
"Untuk apa minta maaf?"
"Bukan apa-apa." Elea memalingkan wajahnya. Berusaha menyembunyikan tangisnya yang semakin menjadi.
Alvin terkekeh pelan. "Kemana hilangnya sikap kasarmu Elea?"
Elea menatap tajam Alvin. "Tidak sopan. Aku ini tidak kasar, hanya sedikit bar-bar saja."
Alvin lagi-lagi terkekeh saat mendengar ucapan Elea. Dia mengembalikan kalung Elea dengan satu syarat. Elea harus menjadi pacaranya.
Elea tentu menolak syarat yang Alvin berikan padanya. Dia tak pernah pacaran dan dia tak menyukai Alvin. Lantas bagaimana bisa mereka pacaran tanpa ada perasaan satu sama lain?
"Aku punya perasaan untukmu."
Elea menaikkan sebelah alisnya.
"Hah?!"
"Aku suka padamu Elea. Sejak pertama kali kita bertemu, sikap baikmu itu membuatku terpikat padamu."
Wajah Elea merona saat mendengarnya. Dia tak pernah mendapatkan pernyataan cinta dari dari siapapun. Lagipula mana ada orang yang berani mendekatinya mengingat dia selalu di jaga dengan ketat oleh Garry. Di manapun dia berada, di situ ada Garry.
"Leluconmu tidak lucu Alvin."
"Apa saat ini aku terlihat bercanda Nona Eleanor?"
Elea menggigit bibir bawahnya kesal. Dia mereasa dirinya tengah dipermainkan saat ini. "Terserah. Aku tak peduli."
Ekspresi yang tak disangka-sangka Elea lontarkan pada Alvin yang baru saja menyatakan cintanya. Merasa dirinya ditolak mentah-mentah, Alvin menatap kepergian Elea dengan tatapan kecewa. Tapi semangatnya belum padam. Dia yakin suatu saat Elea akan setuju menjadi kekasihnya.
To be continued