Setelah kejadian itu, Elea jadi sering menghindari Alvin. Gadis itu lebih sering bersama Jessica atau Garry untuk mencegah Alvin mendekatinya. Rasanya terlalu canggung untuk berbicara dengan Alvin saat ini.
"Elea, aku ingin bicara serius denganmu."
Tak disangka-sangka, hari di mana Alvin bertindak tegas terjadi juga.
Sebelum Elea menepis tangan Alvin, pria itu sudah lebih dulu menggengam tangan Elea dan menariknya ke belakang gedung olahraga yang biasanya kosong dan sepi.
"Ada apa?"
Elea mencoba menghindari kontak mata dengan Alvin karena hal itu hanya akan membuatnya tambah gugup. Tapi Alvin yang sudah geram diacuhkan oleh Elea belakangan ini, menarik dagu Elea ke atas agar mata mereka bertemu.
"Kau ... menghindariku?"
Elea menaikkan sebelah alisnya, pura-pura tak mengerti maksud ucapan lawan bicaranya.
"Jadilah kekasihku Elea."
Mendengar hal itu, Elea menarik napas dalam. Ia sudah lelah jika harus mengatakan hal yang sama berulang kali.
"Maaf Alvin, aku tak ingin memiliki hubungan khusus denganmu. Kita hanya teman, okay?"
Kali ini raut wajah Alvin berubah datar. Seolah tak terjadi apa-apa. Pria itu meninggalkan Elea dalam keheningan yang menusuk.
Elea pun bingung dengan sikap Alvin kali ini. Biasanya Alvin akan menunjukan ekspresi seperti seekor anak anjing yang lucu dan menggemaskan untuk membujuk Elea, tapi sekarang sikapnya acuh itu justru membuat Elea merasa bersalah. Alvin terlihat begitu peduli padanya. Dan Elea juga telah banyak berhutang budi pada Alvin. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Bohong jika Elea mengatakan ia tak menyukai Alvin, tapi mungkin rasa sukanya tak seperti rasa suka yang Alvin maksud. Rasa suka antar lawan jenis.
Elea menyayangi Alvin sebagai teman dan sahabat yang baik. Bagi Elea, kehadiran Alvin mengingatkannya pada sosok Dave yang selalu melindungi Elea kapan pun dan di manapun dia mengalami kesulitan.
"Datanglah ke markas hari ini."
Lamunan Elea seketika buyar saat mendengar suara berat Alvin sebelum pria itu benar-benar meninggalkan Elea.
Rasanya Elea akan menangis saat mendengar suara Alvin yang begitu dingin dan beku seperti es saat berbicara padanya. Padahal biasanya Alvin begitu lembut seolah memperhatikan setiap kata yang ia lontarkan saat berbincang denagn Elea. Apakah ini sosok Alvin yang sebenarnya?
Elea mencoba menyingkirkan hal itu dari kepalanya dan memilih kembali ke kelasnya sebelum guru datang dan memarahinya.
◇◇◇
Hari semakin siang. Kelas telah usai dan anak-anak di kelas telah kembali ke asrama atau nongkrong di kelas dan berbincang denagn temannya. Namun saat ini Eleanor Ameera Zylvechia tengah berada dalam situasi menenggangkan.
Rapat. Ya, rapat. Saat ini The Ravens tengan berdiskusi untuk memutuskan hal besar. Berbeda dengan kelompok lain, selama ini pendahulu sebelum The Ravens selalu mengikuti kompetisi yang diadakan setiap 10 tahun sekali di dunia bawah, yang dilaksanakan di gelanggang yang sering disebut dengan Death Place. Bukan tanpa alasan tempat itu disebut dengan Death Place karena hampir setiap tahun banyak sekali kompetitor yang merenggang nyawa selama pertandingan.
Mungkin di dunia manusia, hal ini sudah di larang keras dan pasti Death Place harus ditutup, tapi ini adalah dunia bawah. Dunia di mana aturan hidup dan mati tak begitu berlaku. Tak peduli seorang kompetitor harus mati asalkan penonton terhibur maka semuanya beres.
"Jadi, kita akan mengikuti kompetisi ini?"
Suasana yang sedari tadi hening seolah tengah memikirkan sesuatu terpecahkan oleh pertanyaan Aksa yang sedari tadi juga tengah dipikirkan oleh setiap orang di markas itu.
"Patut dicoba."
Kali ini Zayn dan Verren tampak antusias mengikuti kompetisi yang begitu berbahaya ini, mengingat mereka memiliki kualifikasi yang cukup serta keyakinan untuk menang.
Sementara Elea, dia hanya murid baru yang tak tahu apa-apa. Bisa dibilang Elea memghadiri rapat ini pun karena diminta Alvin.
"Ngomong-ngomong Alvin, kenapa kau mengajak gadis itu kemari?"
Aksa menatap Elea dengan tatapan buas. Apa yang sebenarnya pria itu pikirkan? Elea benar-benar merasa tak nyaman akan hal ini.
"Setidaknya dia lebih dibutuhkan daripada makhluk bar-bar seperti dirimu."
Mendengar ucapan pedas keluar dari Jizzy, Aksa terlihat murung. Apa-apaan dengan sikap imutnya itu? Jizzy jadi tak tahan memarahinya lebih lama. Tidak, Jizzy harus tetap mempertahankan harga dirinya. Sebagai seorang wanita, Jizzy harus tetap terlihat sedikit sombong agar tak mudah terpengaruh ucapan manis Aksa seperti biasanya.
"Elea, bagaimana menurutmu?" tanya Alvin saat melihat Elea hanya diam saja.
"Tentang apa?"
"Kompetisi itu."
Elea tak tahu harus berkata apa. Dia bukan anggota The Ravens, lalu untuk apa ia ada di sini?
Elea mendengar kwricuhan disekitarnya dan ia benar-benar tak nyaman akan hal ini.
"Alvin, untuk apa kau memintaku datang kesini?" bisik Elea saat semua orang tengah sibuk berdebat tentang pendapat mereka masing-masing.
"Karena kau sekarang anggota The Ravens."
"What?!! Are you kidding me?"
Alvin menggeleng pelan. Ia serius dengan kata-katanya dan seluruh anggota sudah mengetahui hal ini. Termasuk anggota yang paling jalang muncul dalam pertemuan, Matheo.
"Oh, jadi ini gadis cantik yang memikat hatimu kapten?"
Seketika bulu kuduk Elea berdiri saat mendengar suara yang begitu berat di telinganya.
Elea refleks mendorong tubuh pria itu. Betapa terkejutnya ia saat menyadari sosok pria yang tengah berdiri tegap di sampingnya dengan tangan yang ia masukan ke dalam saku celananya.
"Kau datang rupanya."
"Yo, adikku tercinta, Jizzy. Gimana kabarmu selama beberapa bulan terkahir ini tanpa kakakmu yang tampan ini?"
Ingin rasanya Jizzy menampar mulut beracun kakaknya yang suka berbicara serampangan itu.
"Berisik."
Jizzy menjewer telinga Matheo dengan sangat keras membuat pria itu meringis kesakitan.
"Aww sakit Jizzy. Apa seperti ini sikapmu pada kakakmu yang tampan ini?"
To be continued