"Dasar berandalan tak punya otak. Kemana saja kau selama ini?!"
Jizzy tampak marah karena tak melihat wajah Matheo selama beberapa waktu terakhir ini. Matheo bahkan tak pernah sekalipun menghubunginya atau menanyakan kabarnya walau hanya sekali.
Matheo tampak kesakitan, tapi Jizzy tak peduli.
"Bisa tolong lepaskan ini dulu Jizzy?"
Wajah memelas Matheo menggerakan hati Jizzy. Akhirnya dengan tidak ikhlas, Jizzy melepaskan jewerannya.
Kericuhan ditengah rapat ini membuat semuanya rerasa canggung, terutama bagi Elea. Dia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Alvin. Baru mengenal satu sama lain, tapi terlihat sekali jika Alvin terlalu baik padanya.
"Hentikan pertengkaran kalian sekarang! Apakah kalian anak TK yang harus selalu mempermasalahkan hal kecil?" Alvin dengan tegas menegur kedua anggotanya yang menyebabkan terhambatnya rapat.
Mungkin Alvin yang terlalu serius dalam menanggapi sesuatu, tapi itu juga menjadi bukti kepantasannya sebagai ketua The Reavens.
♤♤♤
Rapat berakhir dengan cepat. Berkat usulan dari Elea, Alvin jadi tak perlu marah-marah pada Aksa atau Matheo yang sering tak serius.
Langit sudah berubah warna kemerahan dan keduanya saat ini tengah berjalan melewati taman dalam keheningan.
"Kau nggak pulang?" tanya Elea. Sedari tadi gadis itu penasaran, kenapa Alvin terus mengikutinya?
"Aku akan menemanimu sampai ke asrama."
Elea menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana kau tahu aku tinggal di asrama?"
"Karena aku pacarmu."
Ah, kata-kata yang begitu manis seperti yang sering diucapkan seorang pemeran utama pria pada pacarnya di novel-novel romantis.
Wajah Elea sedikit memerah. Rasanya sedikit malu jika haris mendengarkan kata-kata manis itu secara langsung. Padahal dulu ia ingin sekali punya pacar yang sering mengucapkan kata manis seperti itu.
"Kalau mau pacaran jangan di sini."
Datang tak diundang, pulang tak diantar. Seperti itulah penjaga asrama yang selalu muncul dan mengganggu hubungan romantis remaja seperti setan.
Elea hampir saja berteriak karena tiba-tiba mendengar suara. Walau begini juga, Elea adalah keturunan werewolf. Kepekaannya terhadap suara membuatnya mudah kaget.
"Kalau gitu ... sampai besok ya," pamit Elea pada Alvin.
Alvin tek menjawab dan hanya menebarkan senyum manis. Ah, Elea serasa akan meleleh seperti coklat yang dipanaskan. Kata-kata yang keluar dari mulut Alvin begitu manis di telinga Elea.
Entah bagaimana lagi ia harus menanggapi sikap manis Alvin ini nanti.
Daripada nanti Elea punya penyakit diabetes, ia lebih memilih segera masuk ke dalam gedung asrama dan meninggalkan Alvin yang masih tersenyum ria di sana.
Dengan buru-buru Elea masuk ke dalam kmaarnya dan menutup pintu dengan sangat keras hingga mengagetkan Jessica yang tengah mengenakan masker aneh bewarna ungu diwajahnya.
"Bisakah kau menutup pintu lebih pelan, El?"
Napas Elea tersenggal-senggal. Pertama-tama ia harus mengumpulkan nyawanya yang sudah melayang entah kemana.
"Maaf."
Jessica memperhatikan wajah Elea. Rona merah di pipinya masih belum hilang juga.
"Kenapa wajahmu merah begitu El?"
Jessica terlihat penasaran mengingat Elea baru saja masuk ke sekolah, tapi sepertinya sudah memiliki hubungan khusus dengan ketua The Reavens.
"Bu-bukan apa-apa."
Elea berjalan ke tempat tidurnya dan meletakan tas serta membaringkan tubuhnya. Rasanya hari berlalu sangat lambat.
Alvin sangat berbeda dengan perkiraannya. Sifatnya yang misterius membuat Elea semakin penaran. Tunggu dulu, Elea bukannya suka pada Alvin atau semacamnya yah. Ia hanya sedikit penasaran saja ... mungkin.
Elea juga mulai ragu akan perasaannya. Tapi ia baru mengenal Alvin. Tak mungkin ia langsung jatuh cinta padanya bukan? Atau bisa? Entahlah. Elea pun masih bingung.
"Daripada galau, mending mandi sana."
Seketika Elea terbangun dari lamunannya. Sangking terlalu seriusnya berpikir, ia sampai lupa untuk membersihkan diri.
Tanpa menunggu lama lagi, Elea segera mencari handuknya yang tertimbun berbagai macam barang dan mengambil baju tidurnya di dalam tas. Gadis itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan melucuti pakaiannya.
Elea berendam dengan air hangat serta ditemani dengan bunga-bunga harum dan bulan dari jendela kamar mandinya.
Begitu rileks dan menenangkan. Rasanya segala penat selama seharian ini hanyut begitu saja seperti air yang mengalir.
"Oy!"
Elea hampir saja jantungan. Jizzy yang tiba-tiba saja muncul entah darimana membuat gadis itu terkejut setengah mati.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya gadis itu dengan suara yabg sedikit gemetar.
"Mencarimu."
"Hah?!"
Elea menatap Jizzy yang tengah duduk diatas tepian jendela dengan tatapan heran. Bagaimana tidak heran coba, Jizzy adalah seorang mermaid. Tak mungkin kan mermaid loncat dari atas tanah ke jendela.
"Baiklah, aku berbohong. Jujur saja aku penasaran, bagaimana bisa kau dekat Alvin?"
Elea terdiam selama beberapa detik. Kalau dipikir-pikir pertanyaan Jizzy ada benar juga. Gadis itu pun tak ingat bagaimana ia bisa dekat dengan Alvin.
"Jangan berani kau menjawab 'aku tidak ingat'atau semacamnya," ancam gadis itu.
"Aku ...."
To be continued