"Aku ..."
"Arrghh, sudahlah. Malas aku mendengar ucapan orang d***u sepertimu. Kenapa juga Alvin mau dengan orang sepertimu?"
"Sudah selesai menghinanya? Kalau sudah, keluar sekarang!"
Elea sudah cukup geram dengan sikap Jizzy yang menjengkelkan. Baru kali ini dia bertemu mermaid yang menjengkelkan dan bermulut setajam silet seperti itu.
"Cih."
Elea mendesis pelan. Ia harus sabar dan bisa berbaur dengan orang-orang disekitarnya atau ia akan dikucilkan.
Menghadapi satu dua orang menyebalkan bukan hal besar untuknya. Setidaknya begitulah menurutnya.
Sekarang terlalu banyak masalah menghampirinya. Seingatnya ia tak pernah setuju pacaran dengan Alvin, tapi entah kenapa ia jadi mengikuti arus dan mengiyakan saja. Argh, betapa bodoh dirinya. Dan sekarang di tambah dengan Jizzy, ikan kembung - mermaid yang tak menyukainya.
"Kenapa hidup ini penuh dengan cobaan?!"
"Elea! Jangan teriak!" seru Jessica yang baru saja terbangun dari tidurnya karena mendengar gerutuan teman sekamarnya itu.
Sikap galak Jessica sedikit membuat nyali Elea menciut. Ia tak menyangka seorang gadis seperti Jessica juga bisa marah karena tidurnya yang terganggu.
"Ma-maaf."
Setelah dirasa Jessica telah tidur, Elea mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan mengenakan baju tidurnya.
Elea sudah sangat mengantuk.
"Hoaam." Ini sudah yang kesekian kalinya Elea memguap. Gadis itu berjalan lunglai hingga ke kasurnya, membaringkan tubuhnya.
Elea mengambil selimut dan menyelimuti tubuhnya supaya tidak kedinginan.
Elea pun terlelap dalam tidurnya. Membawanya ke alam mimpi yang indah hingga gadis itu tak sadar jika waktu terus berlalu.
Elea terbangun dari tidurnya. Rasanya ia tak pernah tidur senyenyak itu.
Elea melihat ke kasur di sebelahnya. Gadis itu tak menemukan sosok Jessica dan hanya menemukan sepucuk surat di atas nakas.
"Kalau terlambat ... jangan salahkan aku." Elea menbaca surat itu dengan perasaan ganjal.
Gadis itu melihat ke arah jam yang tergantung di dinding.
08.00
Mampus. Elea sudah terlambat. Hari ini ia ada kelas denagn guru yang menyebalkan.
Elea denagn terburu-buru ke kamar mandi. Karena sudah terlanjur telat, sekalian saja ia lama-lamain.
Awalnya ia berpikir begitu, namun ia menemukan sepucuk surat lain yang menempel di depan cermin.
"Kalau kau terlambat lebih dari satu jam, penyihir itu ... takkan membiarkanmu lulus kelasnya."
Habis sudah. Elea mengurungkan niatnya. Gadis itu segera mengenakan seragam serta tak lupa ia membawa tasnya. Elea berlari keluar asrama dengan terburu-buru.
Andai saja gadis itu bisa berubah jadi werewolf maka mungkin larinya takkan selambat manusia. Dan masalah lainnya adalah jarak asrama dengan sekolah itu sangat jauh. Kedua gedung itu terletak di gunung yang berbeda.
Siapa sih sebenarnya yang membuat sekolah seperti itu. "Terkutuklah buaya itu!!"
Elea mempercepat langkahnya. Walau kakinya sudah serasa mau patah, ia tetap harus berusaha sampai sekolah tepat waktu atau ia bisa diusir dari kelas penyihir tua menyebalkan, Bu Dorothy.
Dengan napas tersenggal-senggal, akhirnya Elea sampai di depan gedung sekolah.
Rasanya kakinya sudah nggak kuat melangkah lagi. Tamat sudah rihwayatnya.
Elea dengan lunglai berjalan ke kelasnya. Dari jendela luar, Elea memperhatikan gurunya, Dorothy, tengah mengajar di depan papan tulis kelas.
Elea mengambil napas dalam, mengumpulkan keberaniannya. Dengan tangan yang gemetar Elea mengetuk pintu kelas.
"Masuk." Suara serak Dorothy terdengar dari dalam kelas. Membuat bulu kuduk Elea berdiri.
Perlahan memutar knop pintu dan mendorongnya. Dengan takut-takut Elea menatap gurunya yang saat ini tengah berdiri di beranda kelas sambil melotot padanya.
"Kenapa kau baru datang sekarang?"
"Anu ... itu ... saya-"
"Jangan banyak bicara. Berdiri di luar sekarang! Kamu dilarang ikut pelajaran saya hari ini!!"
Elea sudah menduga hal ini akan terjadi. Sudah diomeli, sekarang ia malah diusir dari kelas.
Hah, malang sekali nasibnya.
Elea memutuskan untuk kembali ke asrama dan tidur hingga pelajaran selanjutnya. Niatnya sih begitu. Tapi saat ini ia malah bertemu Garry di koridor yang mengalami nasib yang sama.
"Kau juga bangun kesiangan?" tanya gadis itu.
"Ya, anggap saja begitu."
"Lalu sekarang kita harus apa?"
"Aku akan ke perpustakaan. Ada tugas yang harus di kerjakan."
Garry pun berjalan mrninggalkan Elea yang masih melamun, memikirkan pilihannya.
Di satu sisi ia ingin rebahan dan tidur di kamarnya, namun di sisi lain ia ingin membaca novel romantis.
Walau tampangnya begini, Elea itu penggemar cerita fiksi romantis. Seperti kisah antara vampire dan manusia atau semacamnya.
Elea sangat menggemari hal ini. Dan ia bahkan bisa tidak tidur seharian jika sudah menemukan buku yang menarik.
"Aku ikut."
Rasa kantuk Elea kalah dengan hobinya. Kegemarannya membaca buku memang banyak menyita waktunya, tapi hal ini membuatnya senang setiap saat.
Keduanya berjalan menuju perpustakaan yang terletak di ujung koridor. Tempatnya sedikit lembab dan sempit tapi sumber pengetahuan ada di sana.
Dengan perasaan girang Elea membuka pintu, tapi tiba-tiba...
Boomm ....
Terdengar suara ledakan yang menghempaskan tubuh Elea hingga ke dinding. Memang tak terlalu sakit, tapi sebenarnya apa yang terjadi di dalam perpustakaan hingga ada ledakan besar seperti itu?
Elea dan Garry mencoba mengintip ke dalam, tetapi asap hitam yang mengepul menutupi pandangan mereka.
Samar-samar Elea mencium bau air dan sepertinya serangan berikutnya adalah ... ombak besar!!
Byuurr ...
Dugaan Elea benar. Saat ini bajunya serta seluruh tubuhnya basah. Dan ikan yang entah muncul dari mana menggeliat di atas lantai.
Elea menengok ke sampingnya, memperhatikan Garry dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi kenapa pria itu sama sekali tak kebasahan?
"Kenapa kau tak basah? Dan sejak kapa kau bawa payung?!"
Elea memperhatikan payung bewarna merah dengan motif bunga di atasnya tengah di pegang Garry untuk mencegah air mengenainya.
"Aku tak suka basah."
Satu kalimat iti entah kenapa membuatnya kesal. Ingin rasanya Elea mengumpulkan air itu dan menyemburkannya tepat di wajah kaku Garry.
"Kau menyebalkan."
To be continued